This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Senin, 05 Maret 2012

Ancaman Pronografi

Pornografi dapat diidentifikasi sebagai penyakit sosial yang amat berbahaya. Dalam bahasa agama, pornografi dapat disebut sebagai biang kejahatan (umm al-khaba'its). Dikatakan demikian, karena pornografi dapat menimbulkan keburukan-keburukan lain dalam masyarakat. Pornografi dapat melemahkan ikatan-ikatan moral, serta mendorong timbulnya pola kehidupan baru yang cenderung permisif dan hedonistik.

Ancaman pornografi kini kian meningkat, tidak saja pornografi, tetapi juga pornoaksi. Pada yang pertama, kategori porno berbentuk foto atau gambar (grafis), sedangkan pada yang kedua (pornoaksi) berbentuk perbuatan atau perilaku. Tentu, yang kedua ini lebih mengancam, karena sifatnya yang langsung (live), konkret (externalized), dan menantang (interested).

Dalam bahasa Alquran, pornografi atau pornoaksi itu disebut tabarruj. Menurut para pakar tafsir, tabarruj berarti mempertontonkan segi-segi keindahan wanita (idzhar-u mahasin-i al-mar'at-i), atau memamerkan sesuatu yang menurut kelayakan harus ditutup (idzhar-u ma yajib-u ikhfa'uh-u). Firman Allah, "Dan hendaklah kamu jangan berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu." (QS al-Ahzab: 32).

Tabarruj seperti tersebut dalam ayat di atas menunjuk pada kebiasaan wanita zaman jahiliyah. Mereka biasa berdandan secara berlebihan dengan memperlihatkan perhiasan dan segi-segi keindahan tubuh mereka. Ini dilakukan justru ketika mereka hendak keluar rumah.

Kebiasaan mereka dalam hal ini kelihatannya tidak berbeda dengan wanita masa kini. Ini berarti, kebiasaan wanita pada zaman jahiliyah dulu (jahiliyyat al-ula) telah muncul kembali pada zaman jahiliyah modern sekarang (jahiliyyat al warn al'isyrin).

Wanita-wanita beriman diperintahkan agar meninggalkan kebiasaan jahiliyah. Mereka diminta agar lebih menjaga diri, dengan mengendalikan pandangan, menutup aurat, mengenakan kerudung atau jilbab, dan sama sekali tidak dibenarkan melakukan tabarruj (QS al-Nur: 31). Dalam suatu hadis, Rasulullah SAW melarang wanita dewasa membuka aurat. Dikatakan, aurat wanita adalah seluruh badannya, kecuali dua hal sebagai pengecualian, yaitu wajah dan telapak tangan (HR Abu Daud).

Dalam riwayat lain disebutkan, ketika diturunkan ayat 31 surat al-Nur di atas, wanita-wanita Muslimah serentak menutup kepala dan leher mereka. Bahkan, ada di antara mereka yang merobek kain sarung mereka sebagai kerudung atau jilbab.

Jadi, perintah agar wanita Muslimah menutup aurat, menjaga kesopanan, dan kepantasan dengan berkerudung atau berjilbab, bukanlah masalah khilafiyah, tetapi ajaran Islam yang sebenar-benarnya berdasarkan Alquran dan As-Sunah.

Setiap Muslim, setingkat dengan kemampuan yang dimiliki, harus berusaha melawan pornografi dan pornoaksi. Usaha ini dirasakan makin penting dilakukan di tengah-tengah ancaman pornografi dan pornoaksi yang semakin menggila dewasa ini.

sumber : Republika

Demokrasi Dalam Kacamata Syari'at

Saat ini umat Islam dihadapkan pada kenyataannya bahwa khilafah Islamiyah yang tadinya besar itu telah dipecah-pecah oleh penjajah menjadi negeri kecil-kecil dengan sistem pemerintahan yang sekuler. Namun mayoritas rakyatnya Islam dan banyak yang masih berpegang teguh pada Islam. Sedangkan para penguasa dan pemegang keputusan ada di tangan kelompok sekuler dan kafir, sehingga syariat Islam tidak bisa berjalan. Karena mereka menerapkan sistem hukum yang bukan Islam dengan format sekuler dengan mengatasnamakan demokrasi.

Meski prinsip demokrasi itu lahir di barat dan begitu juga dengan trias politikanya, namun tidak selalu semua unsur dalam demokrasi itu bertentangan dengan ajaran Islam. Bila kita jujur memilahnya, sebenarnya ada beberapa hal yang masih sesuai dengan Islam. Beberapa diantaranya yang dapat kami sebutkan antara lain adalah :

Prinsip syura (musyawarah) yang tetap ada dalam demokrasi meski bila deadlock diadakan voting. Voting atau pengambilan suara itu sendiri bukannya sama sekali tidak ada dalam syariat Islam. Begitu juga dengan sistem pemilihan wakil rakyat yang secara umum memang mirip dengan prinsip ahlus syuro. Memberi suara dalam pemilu sama dengan memberi kesaksian atas kelayakan calon.

Termasuk adanya pembatasan masa jabatan penguasa. Sistem pertanggung-jawaban para penguasa itu di hadapan wakil-wakil rakyat. Adanya banyak partai sama kedudukannya dengan banyak mazhab dalam fiqih.

Namun memang ada juga yang jelas-jelas bertentangan dengan syariat Islam, yaitu bila pendapat mayoritas bertentangan dengan hukum Allah. Juga praktek-praktek penipuan, pemalsuan dan penyelewengan para penguasa serta kerjasama mereka dalam kemungkaran bersama-sama dengan wakil rakyat. Dan yang paling penting, tidak adanya ikrar bahwa hukum tertinggi yang digunakan adalah hukum Allah SWT.

Namun sebagaimana yang terjadi selama ini di dalam dunia perpolitikan, masing penguasa akan mengatasnamakan demokrasi atas pemerintahannya meski pelaksanaannya berbeda-beda atau malah bertentangan dengan doktrin dasar demokrasi itu sendiri.

Sebagai contoh, dahulu Soekarno menjalankan pemerintahannya dengan gayanya yang menurut lawan politiknya adalah tiran, namun dengan tenangnya dia mengatakan bahwa pemerintahannya itu demokratis dan menamakannya dengan demokrasi terpimpin.

Setelah itu ada Soeharto yang oleh lawan politiknya dikatakan sebagai rezim yang otoriter, namun dia tetap saja mengatakan bahwa pemerintahannya itu demokratis dan menamakannya demokrasi pancasila. Di belahan dunia lain kita mudah menemukan para tiran rejim lainnya yang nyata-nyata berlaku zalim dan memubunuh banyak manusia tapi berteriak-teriak sebagai pahlawan demokrasi. Lalu sebenarnya istilah demokrasi itu apa ?

Istilah demokrasi pada hari ini tidak lain hanyalah sebuah komoditas yang sedang ngetrend digunakan oleh para penguasa dunia untuk mendapatkan kesan bahwa pemerintahannya itu baik dan legitimate. Padahal kalau mau jujur, pada kenyataannya hampir-hampir tidak ada negara yang benar-benar demokratis sesuai dengan doktrin dasar dari demokrasi itu sendiri.

Lalu apa salahnya ditengah ephoria demokrasi dari masyarakat dunia itu, umat Islam pun mengatakan bahwa pemerintahan mereka pun demokratis, tentu demokrasi yang dimaksud sesuai dengan maunya umat Islam itu sendiri.

Kasusnya sama saja dengan istilah reformasi di Indoensia. Hampir semua orang termasuk mereka yang dulunya bergelimang darah rakyat yang dibunuhnya, sama-sama berteriak reformasi. Bahkan dari sekian lusin partai di Indonesia ini, tidak ada satu pun yang tidak berteriak reformasi. Jadi reformasi itu tidak lain hanyalah istilah yang laku dipasaran meski -bisa jadi- tak ada satu pun yang menjalankan prinsipnya.

Maka tidak ada salahnya pula bila pada kasus-kasus tertentu, para ulama dan tokoh-tokoh Islam melakukan analisa tentang pemanfaatan dan pengunaan istilah demokrasi yang ada di negara masing-masing. Lalu mereka pun melakukan evaluasi dan pembahasan mendalam tentang kemungkinan memanfaatkan sistem yang ada ini sebagai peluang menyisipkan dan menjalankan syariat Islam.

Hal itu mengingat bahwa untuk langsung mengharapkan terwujudnya khilafah Islamiyah dengan menggunakan istilah-istilah baku dari syariat Islam mungkin masih banyak yang merasa risih. Begitu juga untuk mengatakan bahwa ini adalah negara Islam yang tujuannya untuk membentuk khilafah, bukanlah sesuatu yang dengan mudah terlaksana.

Jadi tidak mengapa kita sementara waktu meminjam istilah-isitlah yang telanjur lebih akrab di telinga masyarakat awam, asal di dalam pelaksanaannya tetap mengacu kepada aturan dan koridor syariat Islam.

Bahkan sebagian dari ulama pun tidak ragu-ragu menggunakan istilah demokrasi, seperti Ustaz Abbas Al-`Aqqad yang menulisbuku ‘Ad-Dimokratiyah fil Islam’. Begitu juga dengan ustaz Khalid Muhammad Khalid yang malah terang-terangan mengatakan bahwa demokrasi itu tidak lain adalah Islam itu sendiri.

Semua ini tidak lain merupakan bagian dari langkah-langkah kongkrit menuju terbentuknya khilafah Islamiyah. Karena untuk tiba-tiba melahirkan khilafah, tentu bukan perkara mudah. Paling tidak, dibutuhkan sekian banyak proses mulai dari penyiapan konsep, penyadaran umat, pola pergerakan dan yang paling penting adalah munculnya orang-orang yang punya wawasan dan ekspert di bidang ketata-negaraan, sistem pemerintahan dan mengerti dunia perpolitikan.

Dengan menguasai sebuah parlemen di suatu negara yang mayoritas muslim, paling tidak masih ada peluang untuk ‘mengislamisasi’ wilayah kepemimpinan dan mengambil alihnya dari kelompok anti Islam. Dan kalau untuk itu diperlukan sebuah kendaraan dalam bentuk partai politk, juga tidak masalah, asal partai itu memang tujuannya untuk memperjuangkan hukum Islam dan berbasis masyarakat Islam. Partai ini menawarkan konsep hukum dan undang-undang Islam yang selama ini sangat didambakan oleh mayoritas pemeluk Islam. Dan di atas kertas, hampir dapat dipastikan bisa dimenangkan oleh umat Islam karena mereka mayoritas. Dan bila kursi itu bisa diraih, paling tidak, secara peraturan dan asas dasar sistem demokrasi, yang mayoritas adalah yang berhak menentukan hukum dan pemerintahan.

Umat Islam sebenarnya mayoritas dan seharusnya adalah kelompok yang paling berhak untuk berkuasa untuk menentukan hukum yang berlaku dan memilih eksekutif (pemerintahan). Namun sayangnya, kenyataan seperti itu tidak pernah disadari oleh umat Islam sendiri. Tanpa adanya unsur umat Islam dalam parlemen, yang terjadi justru di negeri mayoritas Islam, umat Islammnya tidak bisa hidup dengan baik. Karena selalu dipimpin oleh penguasa zalim anti Islam. Mereka selalu menjadi penguasa dan umat Islam selalu jadi mangsa.

Kesalahannya antara lain karena persepsi sebagian muslimin bahwa partai politik dan pemilu itu bid`ah. Sehingga yang terjadi, umat Islam justru ikut memilih dan memberikan suara kepada partai-partai sekuler dan anti Islam. Karena itu sebelum mengatakan mendirikan partai Islam dan masuk parlemen untuk memperjuangkan hukum Islam itu bid`ah, seharusnya dikeluarkan dulu fatwa yang membid`ahkan orang Islam bila memberikan suara kepada partai non Islam. Atau sekalian fatwa yang membid`ahkan orang Islam bila hidup di negeri non-Islam.

Partai Islam dan Parlemen adalah peluang Dakwah:
Karena itu peluang untuk merebut kursi di parlemen adalah peluang yang penting sebagai salah satu jalan untuk menjadikan hukum Islam diakui dan terlaksana secara resmi dan sah. Dengan itu, umat Islam punya peluang untuk menegakkan syariat Islam di negeri sendiri dan membentuk pemerintahan Islam yang iltizam dengan Al-Quran dan Sunnah.

Tentu saja jalan ke parlemen bukan satu-satunya jalan untuk menegakkan Islam, karena politik yang berkembang saat ini memang penuh tipu daya. Lihatlah yang terjadi di AlJazair, ketika partai Islam FIS memenangkan pemilu, tiba-tiba tentara mengambil alih kekuasaan. Tentu hal ini menyakitkan, tetapi bukan berarti tidak perlu adanya partai politik Islam dan pentingnya menguasai parlemen. Yang perlu adalah melakukan kajian mendalam tentang taktik dan siasat di masa modern ini bagaimana agar kekuasaan itu bisa diisi dengan orang-orang yang shalih dan multazim dengan Islam. Agar hukum yang berlaku adalah hukum Islam.

Selain itu dakwah lewat parlemen harus diimbangi dengan dakwah lewat jalur lainnya, seperti pembinaan masyarakat, pengkaderan para teknokrat dan ahli di bidang masing-masing, membangun SDM serta menyiapkan kekuatan ekonomi. Semua itu adalah jalan dan peluang untuk tegaknya Islam, bukan sekedar berbid`ah ria.

Allah Takkan Ridho Kepada Orang Yang Pesimis

KEBIASAAN orang-orang besar yang dekat dengan Allah swt. adalah berjalan-jalan di sekelilingnya. Bukan sekadar berjalan-jalan belaka, tapi lebih untuk melihat dari dekat apa yang sedang terjadi. Biasanya mereka menjadikan semua itu sebagai perenungan lain. Begitu pula dengan Imam Abu Hanifah.

Suatu hari, ketika Imam Abu Hanifah tengah melakukan kebiasaannya itu, ia melewati sebuah rumah. Rumah itu terletak di pedesaan. Jendelanya terbuka. Tanpa diduga, dari dalam rumah tersebut terdengar suara orang mengeluh dan menangis. Cukup keras. Abu Hanifah mencoba mendekat, agar bisa mendengar lebih jelas. Ia melakukannya dengan perlahan-lahan, seolah tidak ingin diketahui oleh empunya rumah.

"Aduhai, alangkah malangnya nasibku ini,” suara itu sekarang makin kedengaran dengan jelas, “agaknya tiada seorang pun yang lebih malang daripadaku. Nasibku ini sungguh celaka. Aku memang tidak beruntung. Sejak dari pagi, belum datang sesuap nasi atau makanan pun lewat di kerongkongku. Badanku lemah lunglai. Oh, adakah hati yang berbelas-kasihan sudi memberi curahan air walaupun setitik?"

Abu Hanifah terperanjat. Ia merasa kasihan. Di samping itu, ia juga merasa bertanggung jawab, ada seorang yang begitu memerlukan pertolongan tetapi ia tidak mengetahuinya. Bagaimana kalau ia tidak peduli, tentu Allah akan semakin tidak ridha kepadanya. Bergegas Abu Hanifah pun kembali ke rumahnya dan mengambil sebuah bungkusan. Bungkusan itu berisi uang. Hendak diberikan bungkusan itu kepada orang tersebut. Abu Hanifah bergegas kembali ke rumah orang tersebut.

Setelah tiba, Abu Hanifah melemparkan begitu saja bungkusan itu ke rumah orang yang sedang meratap-ratap itu lewat jendelanya. Lalu ia pun meneruskan perjalanannya. Untuk sementara waktu, kelegaan terasakan oleh Abu Hanifah.

Mendapati sebuah bungkusan yang tiba-tiba saja datang dari arah jendelanya yang terbuka, bukan buatan terkejutnya orang tersebut. Sambil masih terus bertanya-tanya dalam hati, dengan tergesa-gesa ia membukanya. Setelah dibuka, tahulah ia bungkusan itu berisi uang. Cukup banyak ternyata. Namun tidak hanya uang. Juga ada secarik kertas di dalamnya. Kertas itu bertuliskan kata-kata Abu Hanifah yang isinya, “Hai kawan, sungguh tidak wajar kamu mengeluh seperti itu. Sesungguhnya, kamu tidak perlu mengeluh atau meratapi tentang nasibmu. Ingatlah kepada kemurahan Allah dan cobalah memohon kepadaNya dengan bersungguh-sungguh. Jangan suka berputus asa, hai kawan, tetapi berusahalah terus."

Karena diliputi kegembiraan mendapati bungkusan berisi uang, orang itu cenderung tidak mengacuhkan isi surat itu. Ia pun bersuka cita membelanjakan uang itu untuk kebutuhan sehari-harinya.

Keesokan harinya, Imam Abu Hanifah melalui lagi rumah itu. Tapi ternyata, dari luar suara keluhan itu kedengaran lagi. Masih orang itu juga. "Ya Allah, Tuhan Yang Maha Belas Kasihan dan Pemurah, sudilah kiranya memberikan bungkusan lain seperti kemarin, sekadar untuk menyenangkan hidupku yang melarat ini. Sungguh jika Engkau tidak beri, akan lebih sengsaralah hidupku," ratapnya.

Mendengar keluhan itu lagi, maka Abu Hanifah pun lalu melemparkan lagi bungkusan berisi uang dan secarik kertas dari luar. Tampaknya ia sudah menyiapkan bungkusan itu sebelumnya. Dan seperti biasanya, lalu dia pun meneruskan perjalanannya.

Orang itu kembali merasa beruntung melonjak-lonjak riang. Ia sudah yakin bungkusan itu pastilah berisi uang seperti yang ia terima sebelumnya. Tapi setelah itu, ia membaca tulisan dalam kertas yang tersampir bersama bungkusan uang itu. "Hai kawan, bukan begitu cara bermohon. Bukan begitu cara berikhtiar dan berusaha. Perbuatan demikian 'malas' namanya, dan putus asa kepada kebenaran dan kekuasaan Allah. Sungguh tidak ridha Tuhan melihat orang pemalas dan putus asa, enggan bekerja untuk keselamatan dirinya. Jangan, jangan berbuat demikian. Raihlah kesenangan dengan bekerja dan berusaha. Kesenangan itu tidak mungkin datang sendiri tanpa dicari atau diusahakan. Orang hidup harus bekerja dan berusaha. Allah tidak akan memperkenankan permohonan orang yang malas bekerja. Allah tidak akan mengabulkan doa orang yang berputus asa. Sebab itu, carilah pekerjaan yang halal untuk kesenangan dirimu. Berikhtiarlah sedapat mungkin dengan pertolongan Allah. InsyaAllah, akan dapat juga pekerjaan itu selama engkau tidak berputus asa. Nah, carilah segera pekerjaan. Aku doakan semoga bisa berhasil."

Usai membaca surat itu, dia termenung. Kali ini, dia insaf dan sadar akan kemalasannya. Selama ini dia sama sekali tidak berikhtiar dan berusaha.

Keesokan harinya, dia pun keluar dari rumahnya untuk mencari pekerjaan. Sejak hari itu, sikapnya pun berubah mengikuti ketentuan-ketentuan hidup. Ia juga tidak pernah melupakan orang yang telah memberikan nasihat itu.

Agar Tetap Bercahaya di Tengah Gelap

Berbaur dengan orang lain bukan tanpa resiko. Itu sebabnya Rasulullah saw lebih memuji orang yang mau berbaur dengan masyarakat dan mampu bersabar atas resiko dan kesulitan-kesulitannya, ketimbang orang yang tak mau berbaur dan tak mampu bersabar. Jadi syaratnya jelas, sabar.

Tanpa sabar bukan mustahil perbauran justru mendatangkan akibat negatif.Orang yang tidak sabar, bukannya mampu memberi warna dan pengaruh pada orang lain, tapi dikhawatirkan justru ia terbawa dan terwarnai oleh lingkungannya.

Dan kesabaran tak mungkin berdiri sendiri. Ada perangkat lain yang dibutuhkan agar seseorang mampu bertahan dan bersabar menghadapi berbagai gejolak dan resiko dari berbaur.

Pertama, memelihara niat ikhlas. Fondasi ikhlas yang kokoh takkan mampu menggoyahkan pemiliknya ketika ia harus menghadapi situasi sulit akibat dari kebenaran yang ia lakukan. Hidup berbaur dengan tetap mempertahankan identitas dan prinsip pasti menghadapi banyak tantangan. Bukan saja tantangan yang sifatnya menekan atau menghalangi, tapi juga tantangan yang datang dari pintu rayuan dan godaan. Disinilah keikhlasannya diuji. Karenanya, keikhlasan menjadi faktor terpenting untuk bisa menjadi pribadi yang kuat bertahan dengan prinsip dalam berbaur.

Kedua, meningkatkan ilmu pengetahuan. Seorang muslim dimanapun mempunyai misi. Sebuah misi harus diiringi dengan wawasan muatan pesan yang dibawanya. Wawasan ilmu dalam hal ini mencakup ilmu syariat yang berkait langsung dalam kehidupan masyarakat. Kekurangan bekal ilmu dapat menyebabkan seseorang terlalu mempermudah atau mempersulit masalah. Seorang muslim harus mengetahui batas keluasan dan keluwesan Islam. Sampai dimana batas-batas yang bisa ditolerir oleh syariat dan dimana batas-batas yang tidak dapat ditolerir. Rasulullah saw bersabda, “Berilah kabar gembira dan jangan menceraiberaikan. Permudahlah, jangan mempersulit.”

Ketiga, menjaga keteladanan dalam perilaku. Hal ini penting, karena umumnya masyarakat tidak terlalu tertarik pada uraian kata berupa nasihat atau wejangan. Mereka akan simpatik justru pada sikap dan perilaku baik yang langsung mereka lihat. Para ulama dakwah kerap mengumandangkan prinsip, “Ashlih nafsaka wad’u ghairaka,” atau perbaiki dirimu baru seru orang lain. Ini adalan tuntutan dalam syariat Islam.

Keempat, jangan lupa untuk selalu menjaga dan meningkatkan kualitas hubungan dengan komunitas orang-orang shalih. Hal ini penting agar jiwa kita tetap memperoleh suplai semangat dan penyegaran saat bertemu dengan mereka. Rutinitas ini bahkan harus semakin ditingkatkan saat kita menghadapi banyak permasalahan dalam hidup.

Kelima, memahami pedoman dan tahapan dakwah. Kewajiban Islam itu bertingkat-tingkat. Sebagaimana kemungkaran juga bertingkat-tingkat. Diperlukan start tertentu yang berbeda-beda dalam mengadakan pembenahan. Suatu pola yang berhasil diterapkan pada seseorang, belum tentu bisa diterapkan pada orang lain. Selain pola pendekatan yang khas, seorang muslim seharusnya meyakini bahwa sebuah perubahan selalu memerlukan waktu. Sehingga, seorang muslim tidak akan mudah kecewa atau merasa gagal terhadap upaya perbaikan yang dilakukannya.

Keenam, memahami seni bergaul dengan orang lain. Berbaur dan berinteraksi dengan manusia tidak mudah karena masing-masing mereka memerlukan pendekatan tersendiri, sesuai dengan karakternya.

Ketujuh, perluas dan perbanyaklah pengalaman (tajribah). Aspek ini mempunyai pengaruh besar dalam membentuk pribadi yang bijaksana dalam berbaur dengan orang lain. Orang yang memiliki pergaulan luas, dari sisi syariat ilmunya lebih bermanfaat dan dakwahnya akan lebih cepat diterima karena ia telah menempatkan diri sesuai kondisi. Pengalamanlah yang akan memunculkan potensi, menambah kearifan dan kesabaran.

sumber: Tarbawi

ADAB MEMBACA Al QUR'AN

"Barangsiapa membaca satu huruf dari Al-Qur'an maka baginya sepuluh kebaikan. Sedangkan satu kebaikan itu dilipat gandakan hingga sepuluh kali. saya tidak mengatakan alif laam mim itu satu huruf, tetapi alif itu satu huruf, lam itu satu huruf dan mim juga satu huruf," (HR. Tirmidzi). Itu baru satu kata, lalu bagaimana kalau kita membaca satu juz atau lebih setiap malamnya?

Tentu sudah tak terhitung berapa banyak pahala yang mengalir ke catatan amal kita tanpa kita sadari. Belum lagi kalau saat itu bertepatan dengan malam lailatul qadar. Berarti apa yang kita lakukan pada saat itu sama dengan pahala yang kita peroleh ketika membaca Al-Qur'an selama 83 tahun lebih tanpa henti. Subhanallah. Dan, untuk menyambut datangnya bulan ini, seyogyanya kita memahami adab tilawah, adab membaca Al-Qur'an. Sehingga apa yang kita rencanakan sejak jauh-jauh hari itu bisa tercapai dengan baik.

1 . Membaca dalam keadaan suci dari hadats, menghadap qiblat dan duduk dengan baik

Al-Qur'an bukanlah seperti buku biasa, atau seperti surat kabar harian yang boleh dibaca di mana saja serta dalam keadaan apa pun. Tidak. Al-Qur'an jelas sangat berbeda dengan semua itu. Al-Qur'an merupakan kitab suci yang menjadi sumber segala sumber hukum. Kitab suci yang terbebas dari perubahan hingga akhir zaman. Sehingga sudah sangat wajar bila kita harus memperlakukannya dengan khusus pula. Didahului dengan berwudlu, sebagai wujud pensucian diri. Lalu dilanjutkan dengan mengambil dan membawanya dengan tangan kanan, sebagai lam bang kebaikan, selanjutnya duduk dengan tenang dan siap untuk membacanya. Demikianlah yang harus dilakukan sebelum membacanya, sehingga Allah berfirman: "Tidak' menyentuhnya kecuali hambahamba yang disucikan". (Al-Waqiah: 79).

2. Membaca dengan tartil (perlahan-lahan)

Seringkali kita mendengar seseorang membaca Al-Qur'an dengan sangat cepat dan terburu-buru. Ia seperti orang yang sedang dikejar hantu. Atau bisa jadi kita juga terpancing untuk membacanya dengan cepat, agar lebih cepat selesai. Padahal membaca dengan cara seperti ini tentu sangat sulit menempatkan huruf pada makhraj yang benar. Terlebih lagi, pandangan mata kita kurang bisa terfokus dengan baik. Akibatnya, kesalahan demi kesalahan akan terus terulang tanpa kita sadari. Kata "Rahiim" yang berarti "Maha Penyayang" misalnya.

Bila mata kita melihat dengan cepat, bisa jadi lidah kita akan keseleo dan akhirnya membaca "Rajiim" yang bermakna "Yang dimurkai", ini kelihatannya sepele, tetapi sebenarnya suatu kesalahan yang sangat fatal karena arti kedua kalimat itu sangat bertolak belakang. Bayangkan, bila kesalahan itu terjadi pada lafadz basmalah, tentu hal ini sangat fatal. Karena itu, Allah berfirman: "Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan." (QS. Al-Muzammil: 4).

3. Membacanya dengan khusyu.

Tampakkan kesedihan bila membaca ayat yang menunjukkan ancaman dan siksa. Dan, berseriserilah bila mendengar berita gembira. Itulah nasehat Rasulullah kepada sahabat dan seluruh umat Islam. Sehingga tidak jarang kita menemukan ulama yang menangis tersedu-sedu. "Bacalah AIQur'an dan menangislah karenanya. Bila kalian tidak bisa menangis maka berpura-puralah untuk menangis." (HR. Bukhari dan Muslim). Berpura-pura menangis ini dilakukan ketika membaca Al-Quran send irian. Sedang tidak bersama orang lain. Agar keikhlasan tetap terjaga. Lihatlah! betapa tubuh seorang sahabat yang bernama Uwais al-Qarni menggigil hebat, lalu terjatuh dan pingsan cukup lama setelah membaca membaca firman Allah: "Ha mim. Oemi kitab yang menjelaskan, sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu motam yang diberkahi dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan.

Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah." Dia membacanya hingga "Kecuali orang-orang yang diberi rahmat Allah. Sesungguhnya Oialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. " (QS. Ad-Dukhan: 1-100).

4. Membacanya dengan suara yang enak didengar.

Bersyukur kepada Allah, bila dikaruniai suara yang merdu dan enak didengar adalah suatu keharusan. Caranya, dengan memanfaatkan kemerduan suara itu untuk membaca Al-Qur'an. Sehingga orang yang mendengar keindahan suara kita semakin tertarik dan ingin belajar membaca Al-Qur'an. Rasulullah SAW bersabda, "Hiasilah Al-Qur'an dengan suara kalian." (HR. Bukhari). Tapi bila merasa khawatir akan ria atau sumah, maka bacalah Al-Qur'an dengan suara yang cukup didengar sendiri. "Orang yang membaca Al-Qur 'an dengan keras bagaikan orang yang bershadaqah dengan terang-terangan." (HR. Turmudzi).

5. Membaca dengan tadabur disertai dengan kehadiran hati untuk memahami arti dan rahasianya.

Hal ini sudah sangat jelas dan tidak perlu dibahas lebih jauh bahwaAl-Qur'an bukanlah kitab biasa yang hanya dibaca sambil lalu, tapi ia adalah pedoman hidup yang harus dihayati, bukan sekadar dibaca tanpa tahu makna dan maksudnya. Allah berfirman: 'Apakah mereka tidak merenungkan AI Qur'an." (QS. An-Nisa: 82) Sangat banyak yang bisa direnungkan. Bahkan diri kita juga menjadi obyek perenungan. Misalnya, bersyukurlah karena hidung kita tidak menghadap ke atas, karena kalau itu yang terjadi tentu air akan akan masuk ke dalam hidung setiap kali kita kehujanan atau mandi. Ini adalah contoh yang simpel dari sekian banyak obyek perenungan lainnya "Don (juga) pada dirimu sendiri Maka apakah kamu tiada memperhatikan?" (Adz-Dzariyat: 21)

6. Bukan menjadi orang yang tidak menghiraukan apa yang dibaca.

Bersikap apatis dan acuh terhadap apa yang dibaca, tentu bukan sikap yang terpuji. Karena bisa jadi, saat itu kita melaknat diri sendiri. Memang, demikianlah akibatnya bila tingkah laku kita bertentangan dengan apa yang dibaca. "lngatlah! Kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang dzalim." (QS. Huud: 18) Dengan demikian tidak ada pilihan lain, belajar bahasa arab merupakan solusi terbaik sehingga kita bisa memahami arti sekaligus penafsiran ulama. Atau setidak-tidaknya merujuk kembali kepada tejemah Al-Qur'an. Di dalam Taurat disebutkan, "Mengapa kamu tidak malu kepada-Ku? Ketika kamu mendapat kiriman surat dari seorang teman, kamu berhenti sejenak dan menyempatkan diri membacanya, huruf demi huruf. Agar kamu bisa memahaminya dengan baik dan tidak ada yang terlewatkan. Dan, inilah kitab yang Aku turunkan kepadamu. Perhatikan! Bagaimana Aku menjelaskan setiap permasalahan dengan terperinci. Dan perhatikan! betapa sering Aku mengulanginya sehingga kamu bisa merenungkannya. Tapi lihatlah! Apa yang kamu lakukan, kamu pun berpaling darinya. Sehingga Aku menjadi kurang bermakna bagimu dibandingkan dengan temanmu.

Wahai hamba-Ku! Bila datang seorang teman mengunjungimu, kamu pun menyambutnya dengan hangat. Kamu memperhatikan dan mendengarkannya dengan seksama. Bila ada orang yang mengganggu pembicaraanmu, kamu pun segera menyuruhnya untuk diam. Dan, inilah sekarangAku datang kepadamu, ingin berbicara denganmu. Tapi apa yang terjadi? Kamu pun berpaling dariku. Mengapa kamu menjadikan Aku lebih tidak bermakna dari seorang temanmu?" Demikianlah beberapa hal yang harus diperhatikan ketika membaca Al-Qur'an, sehingga kita "" tidak membacanya semau kita tanpa memperhatikan situasi dan kondisi. Ini semua agar tilawah kita lebih bermakna dan benar benar beda.

7 Ciri 'SOK TAHU'

'Sok tahu' pada dasarnya adalah "merasa sudah cukup berpengetahuan" padahal sebenarnya kurang tahu. Masalahnya, orang yang sok tahu biasanya tidak menyadarinya. Lantas, bagaimana kita tahu bahwa kita 'sok tahu'? Mari kita mengambil hikmah dari Al-Qur'an. Ada beberapa ciri 'sok tahu' yang bisa kita dapatkan bila kita menggunakan perspektif surat al-'Alaq.

1. Enggan Membaca

Ketika disuruh malaikat Jibril, "Bacalah!", Rasulullah Saw. menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Lalu malaikat Jibril menyampaikan lima ayat pertama yang memotivasi beliau untuk optimis. Adapun orang yang 'sok tahu' pesimis akan kemampuannya. Sebelum berusaha semaksimal mungkin, ia lebih dulu berdalih, "Ngapain baca-baca teori. Mahamin aja sulitnya minta ampun. Yang penting prakteknya 'kan?" Padahal, Allah pencipta kita itu Maha Pemurah. Ia mengajarkan kepada kita apa saja yang tidak kita ketahui.

Disisi lain, ada pula orang Islam yang terlalu optimis dengan pengetahuannya, sehingga enggan memperdalam. Katanya, misalnya, "Ngapain baca-baca Qur'an lagi. Toh udah khatam 7 kali. Mending buat kegiatan lain aja." Padahal, Al-Qur'an adalah sumber dari segala sumber ilmu, sumber 'cahaya' yang tiada habis-habisnya menerangi kehidupan dunia. Katanya, misalnya lagi, "Ngapain belajar ilmu agama lagi, toh sejak SD hingga tamat kuliah udah diajarin terus." Padahal, 'ilmu agama' adalah ilmu kehidupan dunia-akhirat.

2. Enggan Menulis

Orang yang sok tahu terlalu mengandalkan kemampuannya dalam mengingat-ingat dan menghafal pengetahuan atau ilmu yang diperolehnya. Ia enggan mencatat. "Ngerepotin," katanya. Seolah-olah, otaknya adalah almari baja yang isinya takkan hilang. Padahal, sifat lupa merupakan bagian dari ciri manusia. Orang yang sok tahu enggan mencatat setiap membaca, menyimak khutbah, kuliah, ceramah, dan sebagainya. Padahal, Allah telah mengajarkan penggunaan pena kepada manusia.

Di sisi lain, ada pula orang yang kurang mampu menghafal dan mengingat-ingat pengetahuan yang diperolehnya, tapi ia merasa terlalu bodoh untuk mampu menulis. "Susah," katanya. Padahal, merasa terlalu bodoh itu jangan-jangan pertanda kemalasan. Emang sih, kalo nulis buat orang lain, kita perlu ketrampilan tersendiri. Tapi, bila nulis buat diri sendiri, bukankah kita gak bakal kesulitan nulis 'sesuka hati'? Apa susahnya nulis di buku harian, misalnya, "Tentang ciri sok tahu, lihat al-'Alaq!"?

3. Membanggakan Keluasan Pengetahuan

Orang yang sok tahu membanggakan kepintarannya dengan memamerkan betapa ia banyak membaca, banyak menulis, banyak mendengar, banyak berceramah, dan sebagainya tanpa menyadari bahwa pengetahuan yang ia peroleh itu semuanya berasal dari Allah. Ia mengira, prestasi yang berupa luasnya pengetahuannya ia peroleh berkat kerja kerasnya saja. Padahal, terwujudnya pengetahuan itu pun semuanya atas kehendak-Allah.

Mungkin ia suka meminjam atau membeli buku sebanyak-banyaknya, tetapi membacanya hanya sepintas lalu atau malah hanya memajangnya. Ia merasa punya cukup banyak wawasan tentang banyak hal. Ia tidak merasa terdorong untuk menjadi ahli di bidang tertentu. Kalau ia menjadi muballigh 'tukang fatwa', semua pertanyaan ia jawab sendiri langsung walau di luar keahliannya. Ia mungkin bisa menulis atau berbicara sebanyak-banyaknya di banyak bidang, tetapi kurang memperhitungkan kualitasnya.

4. Merendahkan Orang Lain Yang Tidak Sepaham

Bagi orang Islam yang sok tahu, siapa saja yang bertentangan dengan pendapatnya, segera saja ia menuduh mereka telah melakukan bid'ah, sesat, meremehkan agama, dan sebagainya. Bahkan, misalnya, sampai-sampai ia melarang orang-orang lain melakukan amal yang caranya lain walau mereka punya dalil tersendiri. Ia menjadikan dirinya sebagai "Yang Maha Tahu", terlalu yakin bahwa pasti pandangan dirinyalah satu-satunya yang benar, sedangkan pandangan yang lain pasti salah. Padahal, Allah Swt berfirman: "Janganlah kamu menganggap diri kamu suci; Dia lebih tahu siapa yang memelihara diri dari kejahatan." (an-Najm [53]: 32)

Muslim yang sok tahu cenderung menganggap kesalahan kecil sebagai dosa besar dan menjadikan dosa itu identik dengan kesesatan dan kekafiran! Lalu atas dasar itu dengan gampangnya ia mengeluarkan 'vonis hukuman mati'. Padahal, dalam sebuah hadits shahih dari Usamah bin Zaid dikabarkan, "Barangsiapa mengucapkan laa ilaaha illallaah, maka ia telah Islam dan terpelihara jiwa dan hartanya. Andaikan ia mengucapkannya lantaran takut atau hendak berlindung dari tajamnya pedang, maka hak perhitungannya ada pada Allah. Sedang bagi kita cukuplah dengan yang lahiriah."

5. Menutup Telinga dan Membuang Muka Bila Mendengar Pendapat Lain

Orang yang sok tahu tidak memberi peluang untuk berdiskusi dengan orang lain. Kalau toh ia memasuki forum diskusi di suatu situs, misalnya, ia melakukannya bukan untuk mempertimbangkan pendapat yang berbeda dengan pandangan yang selama ini ia anut, melainkan untuk mengumandangkan pendapatnya sendiri. Ia hanya melihat selayang pandang gagasan orang-orang lain, lalu menyerang mereka bila berlainan dengannya. Ia tidak mau tahu bagaimana mereka berhujjah (berargumentasi).

Di samping itu, orang yang sok tahu itu bersikap fanatik pada pendapat golongannya sendiri. Seolah-olah ia berseru, "Adalah hak kami untuk berbicara dan adalah kewajiban kalian untuk mendengarkan. Hak kami menetapkan, kewajiban kalian mengikuti kami. Pendapat kami semuanya benar, pendapat kalian banyak salahnya." Orang yang terlalu fanatik itu tidak mengakui jalan tengah. Ia menyalahgunakan aksioma, "Yang haq adalah haq, yang bathil adalah bathil."

6. Suka Menyatakan Pendapat Tanpa Dasar Yang Kuat

Muslim yang sok tahu gemar menyampaikan pendapatnya dengan mengatasnamakan Islam tanpa memeriksa kuat-lemahnya dasar-dasarnya. Ia suka berkata, "Menurut Islam begini.... Islam sudah jelas melarang begitu...." dan sebagainya, padahal yang ia ucapkan sesungguhnya hanyalah, "Menurut saya begini.... Saya melarang keras engkau begitu...." dan seterusnya. Kalau toh ia berkata, "Menurut saya bla bla bla....", ia hanya mengemukakan opini pribadinya belaka tanpa disertai dalil yang kuat, baik dalil naqli maupun aqli.

7. Suka Berdebat Kusir
Jika pendapatnya dikritik orang lain, orang yang sok tahu itu berusaha keras mempertahankan pandangannya dan balas menyerang balik pengkritiknya. Ia enggan mencari celah-celah kelemahan di dalam pendapatnya sendiri ataupun sisi-sisi kelebihan lawan diskusinya. Sebaliknya, ia tekun mencari-cari kekurangan lawan debatnya dan menonjol-nonjolkan kekuatan pendapatnya. Dengan kata lain, setiap berdiskusi ia bertujuan memenangkan perdebatan, bukan mencari kebenaran.

Demikianlah beberapa ciri orang yang sok tahu menurut surat al-'Alaq dalam pemahamanku. Dengan mengenali ciri-ciri tersebut, semoga kita masing-masing dapat melakukan introspeksi dan memperbaiki diri sehingga kita tidak menjadi orang yang sok tahu. Aamien.

Selasa, 21 Februari 2012

Manajemen Pendidikan Pesantren

BAB I
PENDAHULUAN

             Kondisi SDM di Indonesia masih memprihatinkan. Berdasarkan pengukuran atas pengembangan SDM yang dilakukan oleh lembaga-lembaga internasional, bahwa HDI (human development index) kita masih berada dibawah 120 dari seluruh dunia yang kira-kira terdiri dari 160 dunia. Rendahnya mutu SDM terkait dengan program pembelajaran yang memang rendah. Di Asia posisi Indonesia berada di urutan 12 setelah Vietnam. Begiru memalukankannya kualitas kita sebagai manusia yang seharusnya mampu melakukan apa saja di dunia ini menurut apa-apa yang diinginkannya. Mayoritas bangsa Indonesia yang beragama islam seharusnya pula menjadi termotivasi karena umat islam adalah umat yang sarat akan ilmu pengetahuan dan ilmu keagamaan yang dapat menjadi bekal kesejahteraan di dunia maupun di akherat. Bukankah kita amat bersyukur dilahirkan menjadi manusia dan beragama islam pula?.
Manusia adalah faktor terpenting dan dominan dalam sebuah lembaga atau organisasi yang sedang melakukan sebuah proses mewujudkan tujuan dan keinginan akan cita-citanya. Manusia jelas merupakan salah satu sumber daya dari sekian sumber daya lain yang mempunyai potensi untuk berkembang. Kemampuan manusia untuk menjalankan proses tersebut akan mempengaruhi kualitas atau tidaknya lembaga/organisasi tersebut dalam mewujudkan cita-citanya. Dengan demikian peningkatan kualitas sumber daya manusia akan selalu menjadi prioritas utama pada setiap lembaga atau organisasi.
Guna merealisasikan konsep atau pemikiran dinamisasi pesantren., maka perlu disusun strategi untuk menggali dan mengembangkan potensi sumber daya manusia. Kita tidak boleh terlalu memperkirakan atas kekuatan dan potensi pesantren. Pesantren memang memiliki potensi kekuatan yang sangat besar, tetapi justru kemampuan mengembangkan pesantren itu yang belum dimiliki.[1] Kita tahu bahwa peranan ustad dalam pengembangan kualitas santri sangat dominan. Oleh karena itu, disini mayoritas kita bicara pada pengembangan SDM pendidik. Tidak harus mengganti sistem secara total , pengembangan dan pengelolaan kompetensi pendidik dilakukan agar pelayanannya tetap relevan dengan tuntutan perkembangan zaman.
Untuk itu pengembangan dan pelatihan sumber daya manusia di Ponpes khususnya bagi para pendidik perlu dilakukan secara rutin. Bisa dalam bentuk pemenuhan motivasi kerja (baik internal maupun eksternal individu), kebutuhan administrasi yang teratur, pelatihan-pelatihan maupun promosi yang dilakukan untuk memenuhi persediaan kebutuhan SDM yang sesuai dengan bidang yang dikuasainya dan yang diperlukan oleh Ponpes demi kelancaran program-programnya. Sehingga dapat dibangun etos kerja yang sesuai dengan harapan umat pada umumnya dan bagi Ponpes (sebagai kader) pada khususnya.
Toto Tasmara (2002:73-134) memberikan rincian bahwa umat islam ini mempunyai 25 ciri etos kerja muslim yang mendukung umat islam bisa survive dalam kehidupannya. Etos kerja tersebut ialah :
a.       Kecanduan terhadap waktu                                  k.    Bahagia karena melayani
b.      Memiliki moralitas yang bersih (ikhlas)                l.     Memiliki harga diri
c.       Kecanduan kejujuran                                            m.  Memiliki jiwa kepemimpinan
d.      Memiliki komitmen tinggi                         n.    Berorientasi masa depan
e.       Istiqomah atau kuat pendirian                              o.    Hidup berhemat dan efisien
f.       Mereka kecanduan disiplin                                   p.    Memiliki jiwa wiraswasta
g.      Konsekuen dan berani menghadapi tantangan     q.    Memiliki insting bertanding
h.      Memiliki sikap percaya diri                                   r.     Memiliki semangat perantauan
i.        Kreatif                                                                   s.    Tangguh dan pantang menyerah
j.        Bertanggung jawab                                               t.     Berorientasi pada produktivitas
k.      Mereka kecanduan belajar dan ingin mencari ilmu
l.        Memperhatikan kesehatan dan gizi
u.      Memperkaya jaringan silaturahim dan
v.      Mereka memiliki semangat perubahan[2]
Oleh karena itu, pengelolaan dan pengembangan SDM bagi Ponpes sangat diperlukan untuk kelancaran pencapaian program dan tujuan Pondok Pesantren.



BAB II
PENGELOLAAN DAN PENGEMBANGAN SDM PONDOK PESANTREN
1. Konsep-Konsep Pengembangan SDM Ponpes
Ponpes diharapkan mampu menjadi agen pengembangan masyarakat sehingga sangat diperlukan peningkatan kualitas ponpes itu maupun untuk peningkatan kualitas kehidupan masyarakat.[3] Peningkatan kualitas SDM Ponpes meliputi dua aspek yaitu berdasarkan kuantitas dan kualitas. Dari segi kuantitas jelas menyangkut jumlah ketersediaan SDM yang dibutuhkan, sedangkan dari segi kualitas meliputi aspek fisik dan aspek non fisik. Segi fisik dapat didukung dengan pemberian gizi dan program kesehatan yang rutin. Dan segi non fisik terdiri dari kemampuan bekerja, berpikir dan berbagai macam keterampilan. Aspek non fisik ini dapat dikembangkan melalui pembelajaran, pengembangan dan pelatihan lebih lanjut dan mendalam yang dapat meningkatkan kualitas SDM Ponpes.
1.1 Faktor-Faktor Yang Dapat Mempengaruhi Pelaksanaan Pengembangan SDM Ponpes
Dalam pelaksanaan pengembangan SDM Ponpes, perlu diperhatikan faktor internal maupun faktor eksternal Ponpes. Faktor internal mencakup seluruh kehidupan yang dalam pelaksanaannya dikendalikan oleh pemimpin. Faktor internal meliputi,
  1. Pelaksanaan kegiatan yang sesuai dengan visi misi dan tujuan Ponpes. Hal ini memerlukan SDM yang terampil dan berkompeten untuk memenuhi visi, misi dan tujuan Ponpes.
  2. Strategi untuk mencapai visi, misi dan Ponpes yang satu dengan yang lainnya tidak sama walaupun kemungkinan visi, misi dan tujuan antar Ponpes memiliki kesamaan. Oleh karenanya diharapkan Ponpes bersangkutan mengantisipasi benturan strategi mencapai visi, misi dan tujuan dengan mengembangkan SDMnya agar lebih kreatif dan berkompeten di bidang yang menjadi tanggung jawabnya.
Sedangkan faktor eksternal yang merupakan lingkungan diluar area kegiatan Ponpes juga patut diperhitungkan yaitu antara lain,
  1. Kebijakan pemerintah. Baik yang berupa undang-undang, surat-surat keputusan maupun peraturan daerah yang seyogyanya dapat mempengaruhi kinerja program Ponpes yang akan atau sedang dilaksanakan.
  2. Faktor sosio-kultural masyarakat yang ada disekitar lingkungan Ponpes.
  3. Perkembangan IPTEK yang mendunia dan semakin cepat seiring berjalannya waktu. Mau tidak mau Ponpes tidak mampu menyangkal kehadirannya dan sangat diperlukan di era globalisasi ini. Jadi diharapkan SDM Ponpes mampu beradaptasi dan mampu berakulturasi dengan perubahan dan perkembangan IPTEK dan mampu menyaring baik dan buruknya demi kemaslahatan bersama.
1,2 Perencanaan SDM
Pengembangan SDM tentunya memerlukan perencanaan yang dapat mengarahkan proses peningkatan kualitas maupun kuantitasnya. Perencanaan akan memungkinkan pengambil keputusan untuk bertindak secara efektif, efisien dan terarah. Perencanaan SDM diperlukan untuk mengantisipasi permintaan-permintaan bisnis-lingkungan pada organisasi Ponpes masa depan dan untuk memenuhi hal kebutuhan-kebutuhan tenaga kerja yang ditimbulkan oleh kondisi-kondisi tersebut. Oleh karenanya terdapat 4 kegiatan dalam perencanaan SDM yaitu,

  1. Persediaan SDM
  2. Perkiraan pemenuhan dan permintaan SDM
  3. Penambahan SDM berkualitas, dan
  4. Prosedur pengawasan dan evaluasi
Dari 4 kegiatan diatas, jelas bahwa dalam rangka pengembangan dan pengelolaan SDM khususnya bagi guru Ponpes, perlu adanya restrukturisasi guru. Restrukrurisasi guru pesantren adalah pendayagunaan guru sesuai keperluan lembaga agar mampu bertanggung jawab melaksanakan visi, misi dan tujuan pesantren yang telah ditetapkan secara efektif[4]. Di Pesantren, restrukturisasi guru dapat dilakukan secara fleksibel, dimana untuk meningkatkan fungsi layanan pendidikan , pengasuh pesantren tidak harus membuat spesialisasi total dalam pemberian tugas kepada guru dan staf lainnya.
 Dalam perencanaan SDM (terutama ketika akan mengadakan restrukturisasi guru) dapat dipengaruhi oleh perkembangan organisasi Ponpes baik internal maupun eksternal. Faktor internal dan eksternal tersebut harus diperhitungkan dalam membuat perencanaan kebutuhan SDM. Faktor internal antara lain, rencana-rencana pengembangan, anggaran keuangan, desain organisasi Ponpes, perluasaan usaha dan persediaan SDM (sebagai antisipasi jika ada yang pensiun, meninggal, mengundurkan diri dan lain sebagainya).[5]
      1,3 Komponen-Komponen Perencanaan Sistem Pembelajaran yang Akan dikembangkan oleh Guru/Ustad sebagai Pendidik di Ponpes 
Restrukturisasi guru dapat diwujudkan dengan memberi kesempatan kepada guru untuk terlibat dalam penyusunan dan pelaksanaan program-program pendidikan dan pengajaran didalamnya. Dengan melibatkan mereka, pengasuh pesantren akan lebih mudah mendapat masukan untuk membuat kebijakan pendidikan dan pengajaran. Tentu pelibatan guru dalam kegiatan tersebut didasarkan kepada kompetensi yang dibutuhkan. Dengan membuat uraian tugas yang jelas untuk dilaksanakan oleh para guru. Mengingat kegiatan pesantren terdiri dari 2 aktivitas, aktivitas rutin dan insidental. Rutin terkait dengan pengajaran sedangkan incidental merupakan kegiatan-kegiatan yang menjadi ciri khas pesantren, seperti adanya kegiatan-kegiatan ritual (sholat tahajud rutin,misalnya) atau kegiatan yang bersifat sosio keagamaan baik didalam maupun diluar pesantren[6]. Yang terpenting adalah tujuan pendidikan dan pengajaran diPonpes dapat terwujudkan.
 Suatu tujuan pendidikan yaitu deskripsi pengetahuan, sikap, tindakan dan penampilan yang diharapkan akan dimiliki sasaran pendidikan pada periode tertentu. Tujuan juga merupakan pengharapan dari pendidikan yang dilaksanakan baik berupa perubahan tingkah laku, pengetahuan, sikap, kemampuan dan kenyakinan para santri. Penetapan tujuan  juga berfungsi untuk mempermudah dan mengarahkan proses pendidikan, pelatihan dan pengembangan SDM, khususnya pendidik (guru) dalam kegiatan belajar mengajar di Ponpes. Tujuan pendidikan dapat dibedakan menjadi 4 kategori yaitu
  1. Tujuan Pendidikan Nasional, biasa disebut sebagai tujuan umum
  2. Tujuan Institusional yaitu tujuan lembaga atau Ponpes yang bersangkutan
  3. Tujuan kurikuler yaitu tujuan dari setiap bidang studi atau mata pelajaran
  4. Tujuan instruksional yaitu tujuan yang sudah spesifik, mencakup suatu pengetahuan, sikap atau keterampilan yang akan dicapai dengan pemberian materi ajar melalui proses belajar mengajar.
Untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan tersebut termasuk komponen-komponen pendidikan yang diperlukan agar hasil pelatihan dan pengembangan SDM Ponpes baik pendidik (Ustad) maupun terdidik (para santri) optimal dan maksimal. Bagi para pendidik, komponen-komponen pendidikan harus dilaksanakan dan tidak boleh terpisah-pisah karena merupakan perencanaan sistem pembelajaran yang mendukung keberhasilan pendidikan. Komponen-komponen pendidikan selain tujuan yaitu kurikulum, manusia (kiai, para ustad, dan para santri), sarana dan prasarana, metode, strategi, pendekatan dan teknik pembelajaran, materi pelajaran dan sistem evaluasi pembelajaran.[7] Meskipun sama-sama dapat diberlakukan pada semua organisasi pendidikan, namun dalam penerapan pendidikan di Ponpes, komponen-komponen pendidikan yang diterapkan memiliki keunikan tersendiri.
Pertama, tujuan. Tujuan seperti yang dikatakan diatas menggambarkan harapan masyarakat atau negara tentang ciri-ciri manusia yang dihasilkan oleh proses pendidikan.[8] Di Ponpes, harapan pendidik kepada para santrinya tidak hanya sebatas harapan bangsa dan negara saja, tetapi juga kepada Ponpes, diri sendiri dan yang terpenting adalah sesuai harapan Allah SWT kepada manusia yaitu sebagai khalifah umat untuk menyebarkan serta menegakkan agama islam di seluruh dunia. Berdasarkan taksonomi Bloom, tujuan pendidikan meliputi 3 aspek yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik.  Berikut rincian aspek kognitif, afektif dan psikomotorik beserta Tujuan Pembelajaran Umum dan Tujuan Pembelajaran Khusus yang diharapkan tercapai kepada para Santri/murid
Sedangkan berdasarkan waktu yang diperlukan untuk mencapai tujuan pembelajaran ada tujuan antara (medium) yaitu berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan yang diperoleh di Ponpes dan tujuan jangka panjang yang berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan yang berguna sepanjang kehidupan murid (santri).[9]
Kedua, Kurikulum. Kurikulum merupakan pedoman bagi kegiatan belajar mengajar dalam rangka mengembangkan kemampuan SDM. Untuk menyusun suatu kurikulum yang relevan dan mantap perlu dipertimbangkan prinsip-prinsip berikut :
a.               Dasar filosofis negaara yang berlangsung dan mengarahkan tujuan pendidikan nasional
b.              Dasar sosiologis yang menyangkut keadaan masyarakat, ekonomi, adapt istiadat, budaya, kesehatan dan sebagainya
c.               Dasar psikologis yang mempertimbangkan faktor-faktor terkandung dalam diri para santri misalnya minat, kebutuhan, kemampuan, pengalaman dan sebagainya
d.              Dasar organisasi, dimana kurikulum disajikan dalam bentuk tertentu baik dalam luas bahan, isi maupun urutan. [10]
Ketiga, Manusia. Manusia meliputi kiai, para ustad, dan para santri. Dan yang diperhatikan disini adalah pendidiknya, yaitu kiai dan para ustad. Ada beberapa prinsip yang berlaku umum untuk semua guru (ustad) yang baik menurut S. Nasution, yaitu :
  1. Guru yang baik memahami dan menghormati murid
  2. Guru yang baik harus menghormati bahan pelajaran yang diberikannya
  3. Guru yang baik menyesuaikan metode mengajar dengan bahan pelajaran
  4. Guru yang baik menyesuaikan bahan pelajaran dengan kesanggupan individu
  5. Guru yang baik mengaktifkan murid dalam hal belajar
  6. Guru yang baik memberi pengertian dan bukan hanya kata-kata saja
  7. Guru menghubungkan pelajaran dengan kebutuhan murid
  8. Guru mempunyai tujuan tertentu dengan tiap pelajaran yang diberikannya
  9. Guru tidak terikat dengan satu sumber pelajaran tertentu
  10. Guru yang baik tidak hanya mengajar dalam arti menyampaikan pengetahuan saja kepada murid melainkan senantiasa mengembangkan pribadi anak[11]
Oleh karenanya, sebagai pendidik dan pengajar, guru (ustad) harus mampu menjadi teladan dan contoh yang patut ditiru. Merupakan amal yang tiada habisnya ketika ilmu yang didapatnya, dialirkan ke para murid (santri) melalui proses belajar mengajar. Ilmu yang dimiliki oleh para ustad dan kiai tidak cukup jika hanya didapat dari satu sumber materi saja. Di era infomasi ini, banyak sekali kemudahan untuk mengakses ilmu dari segala arah. Bisa melalui internet, koran dan majalah, buku-buku, kitab-kitab, ensiklopedia, pelatihan-pelatihan dan lain sebagainya. Semakin banyak ilmu yang didapat guru, semakin banyak pula ilmu yang akan didapat murid. Dan ini menentukan kualitas guru dan murid itu pula. Selain itu, dengan disertai dengan keterampilan tambahan seperti keterampilan menjelaskan, variasi mengajar, bertanya, keterampilan mengelola kelas dan lain sebagainya[12]. Bisa juga dengan mengadakan mentoring, pengajaran melalui microteaching, dan penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guru/Ustad di Ponpes[13].
Keempat, Sarana dan prasarana yang lengkap akan membuat nyaman proses belajar mengajar di Ponpes. Mulai dari adanya masjid (minimal ada musolla) yang menjadi pusat kegiatan santri, asrama yang mencukupi kebutuhan santri untuk tempat tinggal, wc dan kamar mandi, perpustakaan, ruang kelas, meja dan kursi dan lain sebagainya.
Kelima, Metode, strategi, pendekatan dan teknik pembelajaran diperlukan untuk mempermudah proses belajar mengajar. Kedudukan strategi, pendekatan, metode dan teknik dalam proses pembelajaran adalah sebagi sarana motivasi ekstrinsik agar dapat membangkitkan minat siswa dalam belajar dan sebagai sarana penyajian materi pelajaran. Dalam penggunaan strategi, metode, pendekatan dan teknik pembelajaran perlu dicocokkan dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya yaitu tujuan pembelajaran, kondisi siswa, kondisi guru (minat dan potensi guru), materi yang disajikan, fasilitas yang tersedia, situasi kegiatan belajar mengajar dan evaluasi[14]. Strategi, metode, pendekatan dan teknik memiliki hubungan yang signifikan dan merupakan pola umum yang akan mempengaruhi guru dalam memandang, mempersepsikan dan memberlakukan siswa dalam proses belajar mengajar. Demikian pula halnya kegiatan proses belajar mengajar yang terjadi di Ponpes, bermacam-macam strategi pembelajaran yang diterapkan untuk membuat para santrinya paham akan materi yang diajarkan. Mulai dari strategi ekspositori sampai pada strategi pembelajaran inkuiri, pendekatan individual atau kelompok, metode tugas, proyek atau diskusi ataupun teknik langsung atau tidak langsung, semuanya tergantung pada para ustad dalam memberikan materi pelajaran bagi mereka.
Keenam, materi pelajaran. Hal ini yang dapat membedakan antara Ponpes dengan sekolah umumnya. Di sekolah umum menekankan pada mata pelajaran yang dapat diterima secara global seperti matematika, IPA, IPS dan lain-lain. Sedangkan di Ponpes, materi pelajarannya seluruhnya mengenai dan untuk memperdalam islam, seperti ilmu hadist, ulumul qur’an,  tajwid, bulughul maraam, nahwu saraf, bahasa arab, ilmu balaghah, tafsir al-Qur’an, ulumul hadist dan lain sebagainya.
Terakhir, Sistem evaluasi pembelajaran. Seberapa jauh proses perubahan atau peningkatan yang terjadi pada SDM, diperlukan adanya mekanisme yang nantinya akan menggunakan suatu sistem untuk tes, pengukuran dan evaluasi. Tentu saja, tujuannya agar mengetahui sebarapa besar peningkatan dari hasil pelatihan dan pengembangan SDM yang telah dilakukan untuk kemudian diambil keputusan dari hasil evaluasi apakah berhasil ataukah tidak sehingga dapat ditentukan tindakan selanjutnya.

2. Strategi Promosi Dan Aplikasi Pengembangan SDM Bagi Ponpes
2.1 Pengertian Promosi
Istilah promosi dapat diartikan sebagai “Arus informasi atau persuasi satu arah yang dibuat untuk mengarahkan seseorang atau organisasi pada tindakan yang menciptakan pertukaran dalam pemasaran “ (William G. Nickels, 1979:309).[15] Jadi yang dimaksud Strategi promosi yaitu taktik yang digunakan untuk mempengaruhi seseorang agar tercipta suatu permintaan atas barang atau jasa yang ditawarkan. Pada dasarnya pengembangan kegiatan promosi adalah bagaimana mengkomunikasikan kepentingan seseorang, suatu lembaga atau masyarakat untuk dapat saling berinteraksi. Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan, sangat mempunyai kepentingan dalam mengkomunikasikan kegiatannya kepada masyarakat, namun sayangnya kepentingan promosi bagi Ponpes, untuk saat ini masih saja ada yang beranggapan sebagai hal yang tabu. Sebab selama ini Ponpes sesuai ajaran islam tidak melakukan promosi keluar untuk menghindari hal-hal yang dapat bermuara kepada perbuatan riya’[16].
Sebagaimana diutarakan oleh H.M. Nadim Zuhdi dalam artikelnya yang berjudul “Strategi Promosi dan Aplikasi Pengembangan SDM bagi Pondok Pesantren” bahwa masyarakat ingin mengetahui apakah Ponpes merupakan produk barang, jasa atau keduanya, bagaimana dengan visi misinya, apakah Ponpes itu mempunyai nilai keunggulan, atau apakah Ponpes tersebut dipimpin oleh pribadi-pribadi unggul dan lain sebagainya. Semua itu ingin diketahui oleh masyarakat pemakai dan jika tidak dikomunikasikan kepada khalayak, bisa saja seseorang salah persepsi terhadap Ponpes[17].
Jadi komunikasi dua arah antara pihak Ponpes dan masyarakat perlu digiatkan untuk kepentingan bersama. Ponpes bisa menyebarkan dakwah kepada masyarakatnya sekaligus dapat menjaring kader-kader baru. Masyarakat dapat memanfaatkan keberadaan Ponpes sebagai sarana pendidikan bagi anak-anaknya maupun saudara-saudaranya sekaligus memanfaatkan kegiatan-kegiatan Ponpes yang dinilai dapat memberikan kebaikan bagi masyarakat.
Promosi akan berhasil bila cara penyampaiannya jelas dan mengena pada masyarakat yang berlaku sebagai konsumen. Untuk itu diperlukan adanya komunikasi yang efektif. Komunikasi yang efektif dapat mengubah tingkah laku yang sudah diubah sebelumnya. Dalam sistem komunikasi pemasaran terdapat tahapan negosiasi yang menjadi penentu diterima atau tidaknya promosi yang dilakukan si penawar (Ponpes). Contoh : di Sebuah perguruan tinggi yang dinaungi yayasan pondok pesantren, tahun penerimaan mahasiswa baru, menyebarkan sebuah brosur yang berisi segala informasi tentang pendaftaran beserta rincian keuangan, jurusan yang tersedia dan sebagainya. Tentunya ada persyaratan yang mengikuti dibelakangnya jika menginginkan kuliah gratis sebagaimana yang terteraa dipojok kiri atas brosur tersebut. Perguruan tinggi tersebut mengadakan promosi kepada masyarakat dengan bernegosiasi pada program “kuliah gratis”. Perguruan tinggi mengadukan sejumlah syarat yang mengharuskan masyarakat menerimanya jika ingin memasukkan anaknya untuk kuliah gratis disana. Misalkan saja, syarat tersebut adalah prestasi anaknya semasa diSMU rangking 5 besar disekolahnya, atau berdasarkan keterangan tidak mampu dari kelurahan setempat. Dan yang lebih lazim terjadi di Ponpes adalah kuliah gratis dengan syarat mengabdi disana setelah lulus kuliah sebagai kader dan penerus Ponpes.

2.2 Proses Adopsi dalam Pelaksanaan Promosi
Ada yang disebut dengan proses adopsi dalam promosi yang memerlukan komunikasi efektif. Proses adopsi menyangkut keputusan menerima/adopsi atau menolak produk atau ide dari pihak konsumen. Proses adopsi yang dilakukan oleh individu melalui beberapa tahap yaitu :
1.      Kesadaran. Pembeli (masyarakat) potensial mengetahui tentang suatu produk, tetapi kurang mendetail. Ia bahkan tidak mengetahui tentang kegunaan produk atau bagaimana cara memakainya.
2.      Minat. Jika pembeli potensial tersebut menjadi berminat, maka ia mengumpulkan informasi dan fakta tentang produk yang bersangkutan.
3.      Evaluasi. Ia mulai menguji mental dengan menerapkan produk tersebut ke dalam pribadinya
4.      Percobaan. Pembeli dapat membeli produk tersebut untuk mencoba menggunakannya. Jika pembeli tidak dapat mencoba lebih dahulu karena mungkin terlalu mahal atau sulit diperoleh, maka ada kemungkinan menemui beberapa kesulitan di kemudian hari.
5.      Keputusan. Pembeli harus mengambil keputusan baik menerima atau menolak. Jika dalam tahap evaluasi dan percobaan  penggunaannya, pembeli merasa puas., maka kemungkinan besar ia akan menerima/mengadopsi.
6.      Konfirmasi. Meskipun pembeli tersebut telah mengambil keputusan untuk menerima suatu produk, namun ia dapat terus mempertimbangkan kembali keputusannya dan berusaha mencari informasi yang dapat memperkuat keputusannya. [18]
Promosi yang dilakukan oleh pesantren dapat diarahkan untuk mempengaruhi tingkat pengetahuan dan sikap pemakai jasa pendidikan agar bersedia membeli. Dapat pula Ponpes mengadakan promosi lanjutan untuk meningkatkan pembeli tentang pengalamannya yang baik, sehingga dapat membantu dalam mengkonfirmasikan keputusannya. Oleh karena itu diperlukan pelaksanaan rencana promosi yang bertahap dan berurutan agar promosi yang sedang dilakukan berjalan lancar. Tahapan-tahapannya adalah sebagai berikut :
a.       Menentukan tujuan
b.      Mengidentifikasikan pasar yang dituju
c.       Menyusun anggaran
d.      Memilih berita
e.       Menentukan promotional mix. Menentukan tema yang akan menjadi inti promosi tersebut
f.       Memilih media mix. Menentukan media yang akan digunakan dalam promosi
g.      Mengukur efektifitas
h.      Mengendalikan dan memodifikasi kampanye promosi, untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang sama dimasa yang akan datang ketika mengadakan promosi kembali.[19]
Untuk mendukung promosi agar berjalan lebih efektif kepada masyarakat (konsumen), maka perlu adanya penguatan dalam negosiasi yang dilakukan oleh Ponpes (penawar). Ponpes harus menentukan penguatan apa yang dimilikinya berupa kualitas Ponpes yang dapat menyakinkan masyarakat. Kualitas-kualitas tersebut dapat berupa :
1). Keandalan, yaitu kemampuan memberikan pelayanan yang dijanjikan dengan segera atau tepat waktu, akurat dan memuaskan.
2). Daya Tanggap, yaitu kemauan atau kesediaan para staf untuk membantu para santri agar mendapatkan pelayanan dengan tanggap.
3). Jaminan terhadap kemampuan pengajar, mencakup pengetahuan, kompetensi, kesopanan, respek terhadap santri, dan sifat yang dapat dipercaya yang dimiliki para pengajar maupun staf.
4). Empati, meliputi kemudahan dalam melakukan hubungan, komunikasi yang baik, perhatian pribadi dan memahami kebutuhan santri. Misalnya, para ustad harus menganal para santri atau para ustad harus bisa dihubungi santri kapan saja.
5). Bukti langsung, meliputi fasilitas-fasilitas perlengkapan, karyawan, ustad, sarana ibadah, tersedianya tempat penjualan-penjualan barang-barang kebutuhan santri. (Parasuraman, Zeithamal & Berry, 1985:41-50)[20]
            Adapun bentuk-bentuk promosi yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut:
-          Promosi bisa dilakukan dengan memasang iklan outdor, bisa berupa baliho, spanduk, selebaran, papan nama dan seterusnya.
-          Lewat media, bisa dilakukan dengan iklan di Koran, radio, tv, atau internet. Bentuk promosi tidak hanya pemasangan iklan, tetapi juga bisa menampilkan tokoh-tokoh di Ponpes itu untuk memberikan pencerahan rohani bagi pemirsa atau pembaca media massa lainnya.
-          Lewat lisan dengan ceramah-ceramah, seminar atau pengajian-pengajian.
-          Promosi paling berhasil yang bisa dilakukan oleh lembaga Ponpes adalah penilaian masyarakat sendiri tentang kiprah Ponpes di masyarakatnya.[21]

3. Motivasi Pengembangan Sumber Daya Manusia
          3.1 Pengertian Motivasi
            Istilah motivasi dapat didefinisikan dengan keadaan internal individu yang melahirkan kekuatan, kegairahan, dinamika dan mengarahkan tingkah laku pada tujuan. Dalam pengertian lain, motivasi merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan sejumlah dorongan, keinginan, kebutuhan dan kekuatan. Karenanya, ketika kita mengatakan bahwa para pemimpin sedang membangkitkan motivasi staf/anggotanya, berarti mereka sedang melakukan sesuatu untuk memberi kepuasaan pada motif anggotanya. Dari situ mereka harus melakukan sesuatu yang menjadi tujuan dan keinginan pemimpinnya.[22]Dengan demikian, merupakan keharusan bagi pimpinan untuk mengenali mothf-motif individu dengan cara konstruktif dalam pelaksanaan tugas yang memberi kepuasan pada kebutuhan individu tersebut.
Abraham Maslow (1943;1970) mengemukakan bahwa pada dasarnya semua manusia memiliki kebutuhan pokok. Ia menunjukkannya dalam 5 tingkatan yang berbentuk piramid, orang memulai dorongan dari tingkatan terbawah. Lima tingkat kebutuhan itu dikenal dengan sebutan Hirarki Kebutuhan Maslow, dimulai dari kebutuhan biologis dasar sampai motif psikologis yang lebih kompleks; yang hanya akan penting setelah kebutuhan dasar terpenuhi. Kebutuhan pada suatu peringkat paling tidak harus terpenuhi sebagian sebelum kebutuhan pada peringkat berikutnya menjadi penentu tindakan yang penting.
  1. Kebutuhan fisiologis (rasa lapar, rasa haus, dan sebagainya)
  2. Kebutuhan rasa aman (merasa aman dan terlindung, jauh dari bahaya)
  3. Kebutuhan akan rasa cinta dan rasa memiliki (berafiliasi dengan orang lain, diterima, memiliki)
  4. Kebutuhan akan penghargaan (berprestasi, berkompetensi, dan mendapatkan dukungan serta pengakuan)
  5. Kebutuhan aktualisasi diri adalah keinginan seeorang untuk berkembang sampai pada potensi sepenuhnya yang mereka miliki. Aktualisasi diri ditandai dengan penerimaan diri dan orang lain, spontanitas, keterbukaan, hubungan dengan orang lain yang relatif dekat dan demokratis, kreativitas, humor, dan mandiri pada dasarnya, memiliki kesehatan mental yang bagus atau sehat secara psikologis.[23]
            Tujuan motivasi adalah untuk menggerakkan atau menggugah seseorang agar timbul keinginan dan kemauannya untuk melakukan sesuatu sehingga dapat memperoleh hasil atau mencapai tujuan tertentu. Bagi seorang guru, tujuan motivasi adalah untuk menggerakkan atau memacu siswanya agar timbul keinginan dan kemauannya untuk meningkatkan prestasi belajarnya sehingga tercapai tujuan pendidikan sesuai dengan yang diharapkan dan ditetapkan di dalam kurikulum sekolah. Makin jelas tujuan yang diharapkan atau yang akan dicapai, makin jelas pula bagaimana tindakan memotivasi itu dilakukan. Tindakan motivasi akan lebih dapat berhasil jika tujuannya jelas dan disadari oleh yang dimotivasi serta sesuai dengan kebutuhan orang yang dimotivasi. Oleh karena itu, setiap orang yang akan memberikan motivasi harus mengenal dan memahami benar-benar latar belakang kehidupan, kebutuhan, dan kepribadian orang yang akan dimotivasi. [24]
           
3.2 Model Motivasi   
Dalam mengembangkan motivasi, setidaknya ada tiga model pendekatan :
  1. Model Tradisional. Model ini berdasarkan pada penelitian time and motion oleh F.W Taylor yang menganggap bahwa pada dasarnya para staf adalah malas dan dapat didorong kembali hanya dengan imbalan keuangan. Meskipun demikian para manajer pimpinan makin lama makin mengurangi jumlah imbalan tersebut.[25]
  2. Model hubungan manusia. Model ini lebih menekankan dan menganggap penting adanya faktor “kontak sosial” yang dialami para staf/anggotanya dalam bertugas, daripada faktor imbalan. Ini berarti kepuasaan dalam berkarier harus ditingkatkan, antara lain dengan cara memberikan lebih banyak kebebasan kepada staf/anggota untuk mengambil keputusan dalam menjalankan tugas mereka. Disini ditumbuhkan kontak sosial atau hubungan kemanusiaan dengan staf secara lebih baik sebagai faktor motivasi.
  3. Model sumber daya manusia. Model ini timbul sebagai akibat kritikan terhadap “model hubungan manusia”diatas. Para pengkritik-pengkritik tersebut diantaranya adalah Mc.Gregor, Maslow, dan Liberi. Mereka berpendapat bahwa motivasi anggota tidak hanya pada upah atau kepuasan, namun beranekaragam. Motivasi yang penting bagi anggota menurut model sumber daya manusia ini, pengembangan tanggung jawab bersama untuk mencapai tujuan organisasi, dimana setiap individu menyumbangkan sesuai dengan kepentingan dan kemampuan mereka. [26]


3.3 Motivasi dalam Perspektif Islam
Motivasi dalam perspektif islam terdiri dari 2 macam yaitu motivasi fisiologis dan motivasi psikologis (sosial).
  1. Motivasi Fisiologis.
 Dalam firmannya, Allah mengatakan bahwa,

Dan Kami telah menghamparkan dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran (Q.S. al-Hijr (15):19)”
Allah telah memberikan ciri-ciri khusus kepada setiap makhluk sesuai dengan fungsinya. Diantara ciri-ciri khusus terpenting dalam tabiat penciptaan hewan dan manusia adalah motivasi fisiologis. Fungsi-fungsi fisiologis merupakan sisi penting kehidupan manusia yang mengakomodasikan kebutuhan-kebutuhan fisik., memenuhi atau menggantikan setiap ada kekurangan dan meluruskan kegoncangan atau yang tidak seimbang. Ia senantiasa menjaga keseimbangan vital yang lazim untuk menjaga diri, eksistensi (menjaga kelangsungan jenis) dan kesinambungan dalam menjalankan fungsi-fungsinya.[27]
      Yang termasuk motivasi fisiologis ini adalah
-          Motivasi menjaga diri. Menjaga diri dari lapar, haus dan terik matahari sebagaimana yang tercantum dalam Q.S. Thaha [20]:117-121. Allah telah memberikan segalanya kepada Adam dan Hawa di surga. Tapi, mereka melanggar aturan yang diberikan Allah untuk melindungi mereka dari maksiat dan kedurhakaan. Surat tersebut menyiratkan kepada manusia untuk menjaga diri agar keberlangsungan hidupnya agar selalu diberkahi Allah. Sebab, tidak akan pernah berhenti setan menggoda anak manusia untuk menuruti perintahnya dan melanggar semua larangan Allah.
-          Motivasi menjaga kelangsungan jenis. Dengan motivasi ini, terbentuklah keluarga yang pada akhirnya membentuk masyarakat dan bangsa, sehingga bumi berkembang pesat dan makmur. Hal ini juga merupakan dasar pembentukan keluarga yang diharapkan dalam islam. Keluarga yang mampu memberikan ketentraman dan keharmonisan bagi ayah, ibu dan anak-anak. Kondisi ini kondusif bagi lahirnya penerus-penerus agama, bangsa dan negara yang dapat diandalkan. Harapan inilah juga dimiliki sebuah keluarga Ponpes yang terdiri dari beragam manusia baik dari sifat, kepribadian, prestasi dan suku bangsa. Walaupun banyak perbedaan, para pendidik, kiai, dan para ustad hanya mengharapkan tumbuhnya kebaikan bagi apa yang ditanamkannya kepada para santri sehingga kelak dapat menjadi modal untuk hidup didunia dan diakhirat nanti. Bukankah Allah telah menjamin hal itu secara tersirat dalam Q.S.Ar-Ruum ayat 21 yang selalu menjadi pengantar bagi pasangan-pasangan yang memulai kehidupan berkeluarga dengan harapan yang sama.
  1. Motivasi Psikologis (sosial)
Pada umumnya, para pakar psikologi modern berpandangan bahwa keberadaan motivasi psikologis kebanyakan bukan melalui pemberian sejak lahir. Motivasi psikologis adalah hasil poses interaksi dengan berbagai pengalaman, faktor lingkungan dan budaya. Meski demikian, para pakar ini tidak menolak unsur bawaan. Maslow menambahkan unsur spiritual pada klasifikasi motivasi. Menurutnya, kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan fitri yang pemenuhannya sangat tergantung pada kesempurnaan pertumbuhan kepribadian dan kematangan individu. Ia juga berpandangan, pada dasarnya manusia memiliki potensi baik dan buruk. Kepribadian manusia terbuka ketika ia mengalami kematangan dan potensi kebaikannya tampil dalam bentuk yang lebih jelas. Selain faktor internal, lingkungan juga turut berperan aktif membantu manusia mengaktualisasikan diri. Secara garis besar, yang termasuk motivasi psikologis (sosial) ini adalah :
    1. Motivasi kepemilikan,  Allah berfiman :
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” (Q.S. Al-Hadid [57] :20).
Surat ini dapat menjelaskan bahwa Ponpes tidak mengutamakan pada banyaknya keuntungan/profit yang dihasilkan pada semua kegiatannya baik didalam Ponpes maupun yang berbasis kemasyarakatan, akan tetapi karena mengaharap ridho Allah SWT semata. Kita bisa melihat realitas akan banyaknya guru/pendidik yang mengutamakan gaji mereka dibandingkan dengan apa yang dicapai oleh murid yang mereka didik. Tentu saja, motivasi akan memiliki penghargaan dan barang yang guru dapatkan dengan gaji rendah atau gaji yang lumayan, sedikit banyaknya dapat mempengaruhi kualitas mengajar guru. Hal ini perlu dijadikan sebagai evaluasi para guru dan para ustad dan kiai yang menjadi panutan di Ponpes yang dibimbingnya. Semua yang dilakukan dengan ikhlas dan tanpa mengharap sesuatu melebihi apa yang dibutuhkan, insyaallah akan mendapat balasan yang serupa bahkan dapat melebihi apa yang diperlukan. Para santri menjadi taat, mandiri, dan berprestasi sehingga dapat diandalkan untuk meneruskan Ponpes kedepan, tidak lain karena campur tangan para ustad, kiai dan SDM pendidik lain yang bekerja sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab, tentunya tanpa mengharapkan imbalan melebihi ukuran dari apa yang telah menjadi haknya.
    1. Motivasi berkompetensi. Berkompetensi dapat membuat seeorang menjadi lebih baik atau lebih buruk dari sebelumnya. Berkompetensi bisa dalam hal apa saja, dengan siapa saja dan dimana saja. Asalkan berkompetisi dalam hal kebaikan dan sesuai dengan apa yang dianjurkan dan diperintah Allah, insyaallah akan memperoleh berkah dan ridhoNya. Berkompetisi berarti siap menerima segala macam perubahan-perubahan yang mempengaruhi agar tidak tertinggal dan dianggap kolot seperti anggapan masyarakat banyak mengenai Ponpes yang diyakininya. Hanya saja perubahan-perubahan tersebut disikapi dengan pikiran jernih dan menerapkan ilmu yang Allah berikan, maka niscaya perubahan-perubahan kearah negatif dapat disaring, sehingga SDMnya dapat berkembang dan berkualitas. Al-Qur’an menganjurkan manusia agar berkompetisi dalam ketakwaan, amal saleh, berpegang pada nilai-niai dan prinsip-prinsip kemanusiaan.
    2. Motivasi kerja. Dalam Q.S. Yasin [36] : 33-35, terdapat dua hal yang perlu diperhatikan yaitu,
-          hendaknya manusia bekerja didasarkan atas kepentingan berproduksi dan,
-          melengkapi diri dengan berbagai keterampilan agar mampu mengolah alam dengan segala potensinya,. Tentu saja, dengan tetap menjaga dan memelihara kelestariannya agar tetap terjadi keseimbangan alam dalam kehidupan manusia.


4. Administrasi Ponpes dalam pengembangan SDM
            4.1 Pondok Pesantren dan Administrasi
            Pondok pesantren adalah sebuah lembaga yang tidak bisa terlepas dari fenomena kerjasama, mengingat Ponpes adalah perwujudan dari cita-cita atau keinginan untuk mencetak kader penerus atau santri yang ahli dalam bidang ilmu pengetahuan, khususnya ilmu pengetahuan agama. Pesantren juga sekaligus harus mewujudkan kemampuan untuk mengembangkan dan mengamalkan ilmu pengetahuan agama tersebut ditengah-tengah masyarakat. Keinginan luhur tersebut sulit terwujud bila hanya dilakukan oleh seorang pengasuh atau kiai, karena secara kodrat manusia memang mempunyai keterbatasan, sehingga diperlukan keterlibatan berbagai manusia melalui proses kerjasama dalam mewujudkan cita-cita atau keinginan tersebut.
            Sementara itu situasi umum yang dihadapi oleh pesantren adalah situasi kejiwaan, yaitu rasa yang tak menentu yang biasa disebut sebagai keadaan rawan. Ini disebabkan beberapa faktor yang antara lain adalah :
  1. Kesadaran akan sedikitnya kemampuan untuk mengatasi tantangan-tantangan yang dihadapi pesantren, terutama tantangan yang diajukan oleh kemajuan teknik yang dienyam bangsa kita.
  2. Statis/bekunya struktur sarana prasarana yang dihadapi pesantren pada umumnya, baik soal sarana yang berupa manajemen pimpinan yang terampil maupun sarana material (termasuk keuangan), masih berada pada kuantitas yang sangat terbatas. Keterbatasan sarana-sarana itu membawa akibat tidak mungkin dilakukannya penanganan kesulitan yang dihadapi secara integral dan menyeluruh (Abdurahman Wahid, 2001).[28]
Ada persepsi yang kurang tepat dikalangan masyarakat atau paling tidak ada kecenderungan memahami administrasi hanya sebatas urusan aktivitas-aktivitas kantor, urusan surat menyurat yang sering disebut dengan tata usaha. Secara definitif ditegaskan bahwa administrasi adalah organisasi dan manajemen dari tiap kerjasama pencapaian tujuan (U. Silalahi, 1999). Administrasi dalam arti sempit dapat diartikan sebagai tata usaha. Yang kegiatannya meliputi korespondensi (surat-menyurat), ekspedisi dan pengarsipan.
Seluruh kegiatan di atas merupakan kegiatan data usaha (pengertian administrasi secara sempit) dan dipandang sebagai pekerjaan intern yang melibatkan manusia, sarana dan prasarana ketatausahaan dalam rangka kerjasama yang dimaksudkan untuk tercapainya tertib administratif dalam hal informasi, sehingga akan memperlancar arus informasi baik dalam proses komunikasi maupun dalam proses pengambilan keputusan.
Dalam pengertian luas, administrasi berkaitan dengan kegiatan kerjasama yang dilakukan manusia atau sekelompok orang sehingga tercapai tujuan yang diinginkan. Dengan demikian beberapa unsur dapat dilihat dalam administrasi, yaitu adanya sekelompok orang, adanya kerjasama, adanya pembagian tugas, adanya kegiatan yang runtut dalam sebuah proses dan adanya tujuan. Jadi, administrasi adalah kegiatan kerjasama yang dilakukan sekelompok orang berdasarkan pembagian kerja sebagaimana ditentukan dalam struktur, dan dengan mendayagunakan sumber daya-sumber daya untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien.
Seseorang atau sekelompok orang membentuk atau memasuki sesuatu kelompok kerjasama tidak lain karena suatu tujuan atau paling tidak dengan membentuk atau kerjasama, maka tujuan yang ingin dicapai seperti pemenuhan kebutuhannya (baik jasmani maupun rohani, psikologis, fisiologis dan spiritual) akan terwujud dalam suatu tingkat kepuasan tertentu.
Disamping itu, karena faktor keterbatasan yang ada mengharuskan manusia melakukan kerjasama. Oleh  sebab itu, ada kecenderungan bahwa setiap orang berpengaruh, dipengaruhi, bahkan juga mempengaruhi kelompok-kelompok kerjasama. Disinilah seharusnya para pengasuh/pimpinan pesantren melalui pengaruhnya yang cukup besar dilingkungan intern maupun ekstern mengelola kerjasama dalam rangka pengembangan SDM, sebab mereka menempati kedudukan penting dalam kehidupan pesantren.
Yang perlu segera dicermati bahwa munculnya kelompok atau organisasi, adalah karena setiap orang yang jadi anggotanya merasa tingkat produktifitas, kepuasan kerja dan kemajuan lebih tinggi, bahkan kebutuhannya relatif terpenuhi jika melakukan kerjasama dibandingkan dengan berusaha sendiri.
Kerjasama timbul apabila orang menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan-kepentingan bahwa mereka mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama. Pada saat yang bersamaan pula, ia mempunyai cukup pengetahuan dan pengendalian terhadap diri sendiri yang digunakan untuk memenuhi kepentingan-kepentingan tersebut, maupun menyerahkan atau mengurangi sebagian “kebesarannya” atau kepentingannya untuk mendapat imbalan hasil melalui kerjasama.
Ada beberapa alasan mengapa kerjasama formal maupun informal terbentuk, yang menurut Gibson dkk(1983) adalah pemuasaan kebutuhan, kedekatan dan daya tarik, tujuan kelompok dan sejumlah alasan dan ekonomi. Selanjutnya, Gibson mengemukakan bahwa pengembangan kelompok melalui empat tahapan yaitu saling menerima, berkomunikasi dan mengambil keputusan, motivasi dan produktifitas, serta pengendalian dan organisasi.[29]
            4.2 Karakteristik Kelompok Administrasi
Setelah kelompok bisa berkembang hingga memperlihatkan dan produktifitas dan melaksanakan pengendalian atas anggotanya, maka kelompok tersebut akan memiliki karakteristik yang terdiri atas (Gibson, 1984) sbb:
-                 Struktur, artinya pola hubungan antara posisi. Dalam hal ini dilakukan strukturisasi kerja secara hierarkhis sehingga setiap anggota kelompok ditempatkan dan bekerja dalam satu unit tertentu atas dasar keahliannya.
-                 Hirarkhi status, artinya status yang diberikan pada posisi tertentu merupakan konsekuensi yang membedakan antara posisi yang satu dengan yang lain.
-                 Peranan, dimana setiap posisi dalam struktur kelompok memiliki peranan yang saling berhubungan sesuai dengan perilaku yang diharapkan dari mereka untuk menduduki posisi tersebut.
-                 Norma, yaitu standar yang diterima oleh anggota kelompok.[30]







BAB III
SIMPULAN
          Pengelolaan dan pengembangan SDM Pondok pesantren tentunya dapat menghasilkan suatu perubahan-perubahan yang dapat meningkatkan kualitas Ponpes kearah yang lebih baik dan tidak dianggap secara Ponpes yang “Tradisional “ lagi baik dilihat dari segi manajemennya maupun dari segi pengajarannya juga. Perlu adanya penilaian dan evaluasi dari setiap perubahan yang terjadi akibat adanya pengembangan dan pengelolaan SDM khususnya, baik secara berkala maupun rutin.
            Pengembangan SDM di Ponpes harus mengacu dan berdasar atas prinsip keikhlasan, kemandirian, kebebasan, kesejahteraan dan ukhuwah islamiyah. Keikhlasan berarti setiap perubahan yang dilakukan harus mengacu pada prinsip ikhlas beramal. Kemandirian berarti perubahan harus datang dari diri sendiri. Kebebasan berarti setiap keinginan untuk berubah harus berdasar atas ruang pikiran dan tindakan yang bebas, tetapi bertanggung jawab, sedangkan kesejahteraan berarti setiap perubahan harus menggunakan sarana dan tujuan untuk memperoleh kualitas hidup yang lebih baik. Dan semua itu berarti pada terciptanya ukhuwah islamiyah.[31]
Setiap perubahan dari pengembangan dan pengelolaan yang telah dilakukan harus mengacu pada prinsip ikhlas beramal dan mengabdikan diri kepada masyrakat, Ponpes, Bangsa Negara dan Agama. Mengawali kemandirian, berarti siap menerima dan melakukan perubahan. Perubahan harus datang dari kemauan diri sendiri (motivasi internal), berani mengalami perubahan, dengan membawa bekal ilmu yang cukup sehingga dapat menyaring dampak negatif yang disebabkan adanya perubahan itu. Hasil akhirnya adalah peningkatan kualitas diri pendidik, Ponpes yang diikuti, dan para santri yang menjadi tanggung jawabnya. setiap keinginan untuk berubah harus berdasar atas ruang pikiran dan tindakan yang bebas, tetapi bertanggung jawab (kebebasan dalam membuat keputusan, melakukan kerjasama dan komunikasi kepada siapa saja, untuk mengembangkan Ponpes melalui Promosi yang dilakukan dengan istiqomah disertai bukti-bukti yang membanggakan berupa prestasi dan bukan omong kosong) sehingga tercipta sebuah kesejahteraan yang diartikan sebagai sebuah kesejahteraan. Untuk mencapai sebuah kesejahteraan dalam semua kegiatan SDM di Ponpes, baik mengajar, pelatihan ataupun kerjasama dengan pesantren lain, tidak lepas dari peranan administrasi sebagai tempat pengolahan semua data yang dibutuhkan dalam proses pencapaian tujuan. Bila kesemuanya dilakukan, insyaAllah, kualitas dan kuantitas SDM Pondok Pesantren tidak kalah bersaing jika dibandingkan dengan sekolah umum yang lain. Bahkan, bisa menjadi sebuah produk organisasi pendidikan andalan asli Indonesia.




[1] A.Halim.dkk. Manajemen Pesantren ( Pustaka Pesantren, Yogyakarta, , 2009)  cet 2. hal59
[2] Ibid. hl 35
[3] A. Halim, dkk, hal 3
[4] Sulton, dkk.Manajemen Pondok Pesantren dalam Perspektif Global (Laksbang Pressindo : Yogyakarta, 2006) hal. 75
[5] A.Halim.Ibid, hal 9
[6] Sulthon.dkk. Ibid. hal 76
[7] Isa Anshori. Perencanaan Sistem Pembelajaran (Sidoarjo : 2009, Muhammadiyah University Press) cet 2, hal 32-34
[8] A. Halim, dkk, hal 11
[9] Isa Anshori, Ibid, 38
[10] A. Halim, dkk. Hal 17
[11] Prof.Dr. S. Nasution, M.A. Didaktik Asas-Asas Mengajar (Jakarta : Bumi Aksara, 1995). Cet 1. hal 8-13

[12] Sulton, dkk. Op,cit, hal 77
[13]  Op.cit hal 91
[14] Isa Anshori, hal 53
[15] A. Halim, dkk; hal 23
[16] Ibid. hal, 24
[17] Ibid. hal 25
[18] Ibid. hal 27-28
[19] Ibid. hal 31-32
[20] Ibid, hal 32-33
[21] Ibid, hal 34
[22] A. Halim, dkk, hal 37
[23] www.wikipedia.com
[24] Drs. M. Ngalim Purwanto, Mp. Psikologi Pendidikan (Bandung : Remaja        Rosdakarya, 2006), hal 73-74
[25] A. Halim,dkk. Hal 40
[26] Ibid, hal 41
[27] Ibid. hal 43
[28] Ibid. hal 51
[29] Ibid. hal 57
[30] Ibid. hal.58
[31] A.Halim. Ibid. hal 63