OLEH: Ar7na
BAB I
PENDAHULUAN
Berbagai persoalan yang dihadapi oleh dunia pendidikan sampai lembaga
pendidikan di era globalisasi dan desentralistik (otonomi daerah) menuntut team
work yang solid antara pihak sekolah itu sendiri dengan pihak luar, baik
instansi atasan maupun masyarakat. Melalui Manajemen Berbasis Sekolah, maka
administrasi hubungan sekolah dengan masyarakat menjadi kunci sukses di
dalamnya.
Dan ketika hubungan sekolah dengan masyarakat ini dapat berjalan harmonis dan
dinamis dengan sifat pedagogis, sosiologis dan produktif, maka diharapkan
tercapai tujuan utama yaitu terlaksananya proses pendidikan di sekolah secara
produktif, efektif, efisien dan berhasil sehingga menghasilkan out-put yang
berkualitas secara inteletual, spritual dan sosial.
Oleh karena itu pada pembahasan makalah ini kami bahas tentang “ Hubungan Kerja
sama Sekolah dengan Masyarakat ”. Semoga dengan pembahasn ini dapat menambah
keharmonisan hubungan sekolah deangan masyarakat.
BAB II
MENINGKATKAN HUBUNGAN KERJA SAMA SEKOLAH DENGAN MASYARAKAT
A. Masyarakat Sekolah
a. Peran Masyarakat Dalam Sekolah
Keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh proses pendidikan di
sekolah dan tersedianya sarana dan prasarana saja, tetapi juga ditentukan oleh
lingkungan keluarga dan atau masyarakat. Karena itu pendidikan adalah tanggung
jawab bersama antara pemerintah (sekolah), keluarga dan masyarakat. Ini berarti
mengisyaratkan bahwa orang tua murid dan masyarakat mempumyai tanggung jawab
untuk berpartisipasi, turut memikirkan dan memberikan bantuan dalam
penyelenggaraan pendidikan di sekolah.
Partisipasi yang tinggi dari orang tua murid dalam pendidikan di sekolah
merupakan salah satu ciri dari pengelolaan sekolah yang baik, artinya
sejauhmana masyarakat dapat diberdayakan dalam proses pendidikan di sekolah
adalah indicator terhadap manajemen sekolah yang bersangkutan. Pemberdayaan
masyarakat dalam pendidikan ini merupakan sesuatu yang esensial bagi
penyelenggaraan sekolah yang baik (Kumars, 1989). Tingkat partisipasi
masyarakat dalam proses pendidikan di sekolah ini nampaknya memberikan pengaruh
yang besara bagi kemajuan sekolah, kualitas pelayanan pembelajaran di sekolah
yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap kemajuan dan prestasi belajar anak-anak
di sekolah. Hal ini secara tegas dinyatakan oleh Husen (1988) dalam
penelitiannya bahwa siswa dapat belajar banyak karena dirangsang oleh pekerjaan
rumah yang diberikan oleh guru dan akan berhasil dengan baik berkat usaha orang
tua mereka dalam memberikan dukungan.
Penelitian lain yang memperkuat apa yang dikemukakan di atas dinyatakan oleh
Levine & Hagigust, 1988) yang menyatakan bahwa Lingkungan keluarga, cara
perlakuan orang tua murid terhadap anaknya sebagai salah satu cara/bentuk
partisipasi mereka dalam pendidikan dapat meningkatkan intelektual anak.
Partisipasi orang tua ini sangat tergantung pada ciri dan kreatifitas sekolah
dalam menggunakan pendekatan kepada mereka. Artinya masyarakat akan
berpartisipasi secara optimal terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah
sangat tergantung pada apa dan bagaimana sekolah melakukan pendekatan dalam
rangka memberdayakan mereka sebagai mitra penyelenggaraan sekolah yang
berkualitas. Hal ini ditegaskan oleh Brownell bahwa pengetahuan masyarakat
tentang program merupakan awal dari munculnya perhatian dan dukungan. Oleh
sebab itu orang tua/masyarakat yang tidak mendapatkan penjelasan dan informasi
dari sekolah tentang apa dan bagaimana mereka dapat membantu sekolah
(lebih-lebih di daerah pedesaan) akan cenderung tidak tahu apa yang harus
mereka lakukan, bagaimana mereka harus melakukan sesuatu untuk membantu
sekolah. Hal tersebut sebagai akibat dari ketidak -mengertian mereka.
Di negara-negara maju, sekolah memang dikreasikan oleh masyarakat, sehingga
mutu sekolah menjadi pusat perhatian mereka dan selalu mereka upayakan untuk
dipertahankan. Hal ini dapat terjadi karena mereka sudah meyakini bahwa sekolah
merupakan cara terbaik dan meyakinkan untuk membina perkembangan dan
pertumbuhan anak-anak mereka. Mengingat keyakinan yang tinggi akan kemampuan
sekolah dalam pembentukan anak-anak mereka dalam membangun masa depan yang baik
tersebut membuat Mereka berpartisipasi secara aktif dan optimal mulai dalam
perencanaan, pelaksanaan maupun pengawasan terhadap pengelolaan dan
penyelenggaraan sekolah, karena kesadaran yang tinggi dari masyarakat yang
bersangkutan.
Pentingnya keterlibatan orang tua/masyarakat akan keberhasilan pendidikan ini
telah dibuktikan kebenarannya oleh Richard Wolf dalam penelitiannya yang
menyimpulkan bahwa terdapat korelasi yang sangat signifikan (0.80) antara
lingkungan keluarga dengan prestasi belajar. Penelitian lain di Indonesia juga
telah membuktikan hal yang sama.
Partisipasi yang tinggi tersebut nampaknya belum terjadi di negara berkembang
(termasuk Indonesia). Hoyneman dan Loxley menyatakan bahwa di negara berkembang
sebagian besar keluarga belum dapat diharapkan untuk lebih banyak membantu dan
mengarahkan belajar murid, sehingga murid di negara berkembang sedikit waktu
yang digunakan dalam belajar. Hal ini disebabkan banyak masyarakat/orang tua
murid belum paham makna mendasar dari peran mereka terhadap pendidikan anak.
Bahkan Made Pidarta menyatakan di daerah pedesaan yang tingkat status sosial
ekonomi yang rendah, mereka hampir tidak menghiraukan lembaga pendidikan dan
mereka menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan anaknya kepada sekolah.
b. Perlunya Pengelolaan Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat
Lingkungan pendidikan adalah segala sesuatu yang ada dan terjadi di sekeliling
proses pendidikan itu berlangsung, (Manusia dan lingkungan fisik). Semua
keadaan lingkungan tersebut berperan dan memberikan kontribusi terhadap proses
peningkatan kualitas pendidikan dan atau kualitas lulusan pendidikan. Perhatian
Top Manajemen (Kepala Sekolah) seharusnya berupaya untuk mengintegrasikan
sumber-sumber pendidikan dan memanfaatkannya seoptimal mungkin, sehingga semua
sumber tersebut memberikan kontribusi terhadap penyelenggaraan pendidikan yang
berkualitas. Salah satu sumber yang perlu dikelola adalah lingkungan masyarakat
atau orang tua murid, termasuk stakeholders. Yang menjadi pertanyaan sekarang
adalah: Mengapa Manajemen Pendidikan perlu Menangani Masyarakat (perlu Hubungan
Sekolah Dengan Masyarakat),
secara optimal baik orang tua murid, stakeholders, tokoh masyarakat maupun
institusi yang ada di lingkungan sekolah.
Organisasi sekolah adalah organisasi yang menganut sistem tebuka, sebagai
sistem terbuka berarti lembaga pendidikan mau tidak mau, disadari atau tidak
disadari akan selalu terjadi kontak hubungan dengan lingkungannya yang disebut
sebagai supra sistem. Kontak hubungan ini dibutuhkan untuk menjaga agar sistem
atau lembaga itu tidak mudah punah. Suatu organisasi yang mengisolasi diri,
termasuk sekolah sebagai organisasi apabila tidak melakukan kontak dengan
lingkungannya maka dia lambat laun akan mati secara alamiah (tidak dapat
eksis), karena organisasi hanya akan tumbuh dan berkembang apabila didukung dan
dibutuhkan oleh lingkungannya. Hanya sistem terbuka yang memiliki megantropy, yaitu
suatu usaha yang terus menerus untuk menghalangi kemungkinan terjadinya entropy
atau kepunahan. Ini berarti hidup matinya lembaga pendidikan akan sangat
tergantung dan ditentukan oleh usaha sekolah itu sendiri, dalam arti sejauhmana
dia mampu menjaga dan memelihara komunikasinya dengan masyarakat luas atau dia
mau menjadi organisasi terbuka.
Dalam kenyataan sering kita temui sekolah yang tidak punya nama baik di
masyarakat akhirnya akan mati. Hal ini disebabkan karena sekolah itu tidak
mampu membuat hubungan yang baik dan harmonis dengan masyarakat pendukungnya.
Dengan berbagai alasan masyarakat tidak mau menyekolahkan anaknya di suatu
sekolah, yang akhirnya membuat sekolah itu mati dengan sendirinya. Demikian
pula sebaliknya sekolah yang bermutu akan dicari bahkan masyarakat akan
membayar dengan biaya mahal asalkan anaknya diterima di sekolah tersebut.
Adanya sekolah favorit dan tidak favorit ini nampaknya sangat terkait dengan
kemampuan kepala sekolah mengadakan pendekatan dan hubungan dengan para pendukungnya
di masyarakat, seperti tokoh masyarakat,
tokoh pengusaha, tokoh agama dan tokoh politik atau tokoh kepemerintahan
(stakeholders).
Karena itu sejak lama Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan itu
berlangsung pada tiga lingkungan yaitu lingkungan Keluarga, Sekolah dan
Masyarakat. Artinya pendidikan tidak akan berhasil kalau ketiga komponen itu
tidak saling bekerjasama secara harmonis. Kaufman menyebutkan patner/mitra
pendidikan tidak hanya terdiri dari guru dan siswa saja, tetapi juga para orang
tua/masyarakat.
Dari uraian di atas jelaslah bahwa lembaga pendidikan bukanlah lembaga yang
berdiri sendiri dalam membina pertumbuhan dan perkembangan putra-putra bangsa,
melainkan ia merupakan suatu bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat yang
luas, dan bersama masyarakat membangun dan meningkatkan segala upaya untuk
memajukan sekolah. Hal ini dapat tercipta apabila lembaga pendidikan mau
membuka diri dan menjelaskan kepada masyarakat tentang apa dan bagaimana
masyarakat dapat berperan dalam upaya membantu sekolah/lembaga pendidikan
memajukan dan meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan.
Sekolah pada hakekatnya melaksanakan dan mempunyai fungsi ganda terhadap
masyarakat, yaitu memberi layanan dan sebagai agen pembaharuan bagi masyarakat
sekitarnya, yang oleh Stoop disebutnya sebagai fungsi layanan dan fungsi
pemimpin (fungsi untuk memajukan masyarakat melalui pembentukan sumber daya
manusia yang berkualitas).
Setiap aktivitas pendidikan, apalagi yang bersifat inovatif, seharusnya dikomunikasikan
dengan masyarakat khususnya orang tua siswa, agar mereka mengerti mengapa
aktivitas tersebut harus dilakukan oleh sekolah dan pada sisi mana mereka dapat
berperan membantu sekolah dalam merealisasikan program inovatif tersebut.
Dengan hubungan yang harmonis tersebut ada beberapa manfaat pelaksanaan
hubungan sekolah dengan masyarakat (School Public Relation) yaitu:
Bagi Sekolah/lembaga pendidikan :
a. Memperbesar dorongan mawas diri, sebab seperti diketahui konsep pendidikan
sekarang adalah oleh masyarakat, untuk masyarakat dan dari masyarakat serta
mulai berkembangnya impelementasi manajemen berbasis sekolah, maka pengawasan
sekolah khususnya kualitas sekolah akan dilakukan baik secara langsung maupun
tidak langsung oleh masyarakat antara lain melalui dewan pendidikan dan komite
sekolah.
b. Memudahkan/meringankan beban sekolah dalam memperbaiki serta meningkatkan
kualitas penyelenggaraan pendidikan di tingkat sekolah. Hal ini akan tercapai
apabila sekolah benar-benar mampu menjadikan masyarakat sebagai mitra dalam
pengembangan dan peningkatan sekolah. Masyarakat akan mendukung sepenuhnya
serta membantunya apabila sekolah mampu menunjukkan kinerja yang berkualitas.
c. Memungkinkan upaya peningkatan profesi mengajar guru. Sebab pada dasarnya
laboratorium terbaik bagi lembaga pendidikan adalah masyarakatnya sendiri.
d. Opini masyarakat tentang sekolah akan lebih positif/benar. Opini yang
positif akan sangat membantu sekolah dalam mewujudkan segala program dan
rencana pengembangan sekolah secara optimal, sebab opini yang baik merupakan
modal utama bagi sekolah untuk mendapatkan bantuan dari berbagai pihak.
e. Masyarakat akan ikut serta memberikan kontrol/koreksi terhadap sekolah,
sehingga sekolah akan lebih hati-hati.
f. Dukungan moral masyarakat akan tumbuh terhadap sekolah sehingga memudahkan
mendapatkan bantuan material.
Bagi Masyarakat, dengan adanya hubungan yang harmonis antar sekolah dengan
masyarakat maka :
a. Masyarakat/orang tua murid akan mengerti tentang berbagai hal yang
menyangkut penyelenggaraan pendidikan di sekolah
b. Keinginan dan harapan masyarakat terhadap sekolah akan lebih mudah
disampaikan dan direalisasikan oleh pihak sekolah.
c. Masyarakat akan memiliki kesempatan memberikan saran, usul maupun kritik
untuk membantu sekolah menciptakan sekolah yang berkualitas.
BAB III
MODEL HUBUNGAN KERJA SAMA ANTARA SEKOLAH DENGAN MASYARAKAT
A. Melalui Komite Sekolah
Perubahan paradigma penyelenggaraan pendidikan dalam era reformasi, dan era
otonomi penyelenggaraan pendidikan sampai pada tingkat kabupaten/kota dan
bahkan otonomi pada tingkat sekolah, memberikan keleluasaan bagi setiap sekolah
untuk berkreasi dan berinovasi dalam penyelenggaraan sekolah. Dengan demikian
diharapkan akan memacu percepatan peningkatan mutu penyelenggaraan sekolah yang
pada gilirannya mempercepat peningkatan mutu hasil belajar secara keseluruhan.
Konsekuensi dari paradigma pendidikan yang memberikan otonomi sampai pada
tingkat sekolah menuntut sekolah untuk memberdayakan semua sumber daya yang
dimilikinya. Salah satu sumber daya yang sangat potensial dan dimiliki oleh
sekolah adalah masyarakat dan orang tua murid.
Di Amerika Serikat, pengembangan sekolah dipedesaan atau di daerah-daerah urban
berada di tangan dewan masyarakat sekolah (SCC=School Community Council). Dewan
ini terdiri dari unsur-unsur tenaga professional pendidikan dan anggota
masyarakat, dalam rangka pengembangan staf.
Aspek struktural dari pelibatan masyarakat berarti adanya kesamaan atau
keseimbangan antar struktur yang terlibat dalam pembuatan keputusan. Aspek
prosedural pelibatan masyarakat berarti mengandung makna adanya kesamaan
masukan dari kelompok professional dan anggota-anggota masyarakat dalam
menentukan aktivitas pengembangan staf untuk meningkatkan praktek-praktek
penyelenggaraan sekolah yang berkualitas. Secara organisatoris dewan SCC ini
memiliki tanggung jawab bersama sekolah untuk meningkatkan mutu pelayanan
sekolah.
Di sisi lain SCC ini ternyata juga mempunyai tanggung jawab untuk melakukan
analisis kebutuhan sekolah dan kebutuhan masyarakat melalui survey yang
dilakukannya. Hasil analisis yang dilakukan dewan ini didiskusikan bersama
pihak sekolah dengan melibatkan para ahli seperti konsultan dan sebagainya
untuk diterjemahkan menjadi kebijakan dan program sekolah.
Kebijakan model pelibatan masyarakat dalam pendidikan melalui lembaga SCC
seperti di Amerika ini sebenarnya sudah sejak lama dikenal dan dilakukan oleh
pendididikan dan persekolahan di Indonesia, mulai dari POM, POMG, BP3, hingga
sekarang yang dikenal dengan Komite Sekolah. Tetapi hasilnya belum terlalu
nampak karena keterlibatan mereka lebih banyak pada membantu keuangan sekolah.
Akhir-akhir ini pemerintah Indonesia dalam hal ini Depdiknas membuat kebijakan
baru dengan mengganti istilah BP3 menjadi Dewan Pendidikan di tingkat
Kabupaten/Kota dan Komite Sekolah di tingkat sekolah.
Pemerintah (Depdiknas) pada saat ini memberikan peluang kepada sekolah dalam
pemberdayaan masyarakat melalui suatu lembaga yang dikukuhkan dengan Peraturan
Pemerintah yaitu Dewan Sekolah atau Komite Sekolah.
B. Membina Kerjasama Dengan Pemerintah/masyarakat secara umum
Dalam era otonomi sekolah, khususnya dengan implementasi pendekatan manajemen
sekolah berbasis masyarakat, sekolah memang memiliki keleluasaan dan atau
otonomi yang lebih luas. Otonomi pemerintahan yang berbasis pada pemerintah
daerah Kabupaten/Kota meletakkan pembinaan dan penyelenggaraan pendidikan
berada di tingkat Kabupaten dan Kota, sehingga nampaknya peranan Pemerintah
provinsi dan pusat tidak dominan. Meskipun demikian bukan berarti pusat dan
propinsi tidak memiliki tanggung jawab terhadap pendidikan. Dalam paradigm
otonomi seperti sekarang diperlukan kemampuan sekolah (baca kepala sekolah)
untuk membangun kerjasama yang
harmonis dengan berbagai institusi pemerintahan mulai dari tingkat pusat sampat
dengan tingkat Kabupaten/kota/Kecamatan bahkan kelurahan.
Di samping institusi pemerintahan, sekolah juga perlu membangun kerjasama yang
sinergis dengan lembaga masyarakat seperti karang taruna, kepramukaan dan
berbagai lembaga LSM yang bergerak dalam membantu dan membangun pendidikan. Hal
yang sangat penting untuk diperhatikan dalam kerjasama dengan lembaga ini
adalah jangan sampai sekolah larut dan dapat dibawa kepada masalah-masalah lain
selain untuk kepentingan pendidikan. Sekolah tdak boleh terbawa arus kepada
kegiatan politik praktis dan kepentingan kelompok tertentu.
Kerjasama dengan berbagai institusi tersebut di atas menjadi kemutlakan bagi
sekolah dalam upaya mengembangkan sekolah secara optimal, sebab sekolah adalah
lembaga interaksi social yang tidak bias lepas dari masyarakat secara
keseluruhan, khususnya masyarakat di sekitarnya. Banyak hal yang tidak dapat
dilakukan sekolah tanpa bantuan masyarakat tersebut, katakannlah sekolah
mengadakan perayaan ulang tahun sekolah, untuk menjaga keamanan, maka sekolah
mutlak meminta bantuan kepolisian atau petugas keamanan lingkungan setempat.
Berbagai bentuk kerjasama yang dapat dikembangkan dengan berbagai institusi
tersebut antara lain:
1. Pemberian dan atau penggunaan fasilitas bersama. Berbagai fasilitas yang
tidak dimiliki oleh sekolah mungkin saja terdapat dan dimiliki oleh lembaga
tertentu. Untuk menunjang kegiatan pendidikan sekolah dapat membangun kerjasama
dengan pemilik fasilitas tersebut. Misalnya tempat pameran, gedung olah raga
dan lain-lain.
2. Pelaksanaan kegiatan peningkatan kemampuan siswa. Misalnya sekolah ingin
meningkatkan pemahaman dan kemampuan siswa tentang kesehatan, dapat bekerjasama
dengan puskesmas dalam memanfaatkan berbagai fasilitas termasuk fasilitas SDM,
ingin
melaksanakan pentas seni sekolah dapat bekerjasama dengan lembaga kesenian di
masyarakat untuk memanfaatkan berbagai fasilitas kesenian (alat-alat seni,
seperti seni tradisional).
3. Pemanfaatan sumber daya manusia secara mutualism, sekolah dapat memanfaatkan
sumber daya manusia di masyarakat dan sebaliknya masyarakat dapat memanfaatkan
sumber daya manusia yang dimiliki sekolah.
C. Kerjasama Sekolah Dengan Masyarakat Terorganisasi
Pada saat ini sangat banyak masyarakat yang mengikat dirinya dalam satu
kelompok organisasi, baik yang bersifat organisasi social, organisasi profesi,
organisasi untuk community tertentu yang bersifat kedaerahan maupun organisasi
yang mementingkan laba. Dari berbagai organisasi tersebut di atas banyak sekali
yang sangat peduli terhadap pendidikan, tetapi tidak sedikit juga organisasi
yang menjadi stressor bagi dunia pendidikan.
Di sadari bahwa organisasi-organisasi tersebut sangat besar peranannya dalam
membantu pendidikan apabila diberdayakan secara optimal dan murni. Beberapa
oraganisasi yang memfokuskan dirinya terhadap pendidikan antara lain:
a. Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI)
b. Ikatan Sarjana Manajemen Pendidikan Indonesia (ISMAPI)
c. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI)
d. Masyarakat Peduli Pendidikan Indonesia
e. Asosiasi Bimbingan Konseling Indonesia (ABKINS)
f. Gerakan nasional Orang Tua Asuh (GN OTA)65
g. Himpunan Masyarakat Psikologi Indonesia (HIMAPSI)
h. Kelompok Budayawan, Seni Tari dan Musik.
i. Dan lain-lain
Organisasi tersebut sangat besar manfaatnya apabila sekolah mampu menjadikannya
sebagai mitra bagi pengembangan dan peningkatan mutu sekolah. Sebagai contoh:
kalau sekolah ingin meningkatkan bagaimana implementasi manajemen berbasis
sekolah yang berkualitas, maka Ikatan sarjana Manajemen Pendidikan Indonesia
yang ada di masing-masing daerah dapat dimanfaatkan sebagai mitra, baik dalam
pengembangan konsep, implementasi kegiatan maupun dalam pembinaan sehari-hari.
Hal yang sama juga dapat dilakukan kerjasama dengan kelompok seni tari,
misalnya kalau sekolah menyelenggarakan ekstra kurikuler seni tari musik atau
drama.
Sangat mungkin suatu sekolah pada masa sekarang ingin meningkatkan peran guru
di samping sebagai pengajar juga sebagai pembimbing. Untuk meningkatkan kemampuan
guru tersebut sekolah dapat bekerja sama dengan asosiasi bimbingan ABKINS
(Asosiasi Bimbingan Konseling Indonesia), atau juga dengan HIMAPSI (himpunan
Masyarakat psikologi Indonesia).
Dalam kenyataan sehari-hari sering terjadi organisasi masyarakat melaksanakan
kegiatannya justeru menggunakan sekolah sebagai sasarannya, seperti pengabdian
masyarakat mereka tentang penyuluhan NARKOBA, hal ini harus dimanfaatkan oleh
sekolah sebagai peluang dalam pembinaan siswa di sekolahnya. Oleh sebab itu
tidak salah kalau sekolah selalu memprogramkan berbagai kegiatan tersebut
sebagai upaya meningkatkan mutu di sekolah (pemahaman mutu disini bukan sekedar
nilai UAN).
BAB IV
HUBUNGAN KERJA SAMA ANTARA KEPALA SEKOLAH DENGAN MASYARAKAT
A. Menggalang dukungan Masyarakat.
Untuk dapat mengaktifkan orang tua murid, tokoh tokoh masyarakat, komite
sekolah dan stakeholders, salah satu strategi yang dapat ditempuh di luar
badan-badan formal seperti komite sekolah adalah menarik perhatian masyarakat
melalui mutu pendidikan yang dihasilkan oleh staf pengajar. Artinya hubungan
akrab dengan masyarakat dimulai dengan memajukan dan menunjukkan mutu
pendidikan yang meyakinkan mereka, Untuk itu disarankan untuk dilakukan
beberapa langkah berikut:
Bina pengajar secara aktif, sehingga mereka berdedikasi dan professional. Dalam
kaitan ini maka kepala sekolah perlu mengembangkan budaya kerja yang
berkualitas di lingkungannya.
Dalam kaitan ini Suyata (1996) menyatakan bahwa karakteristik budaya kerja
sekolah yang dapat membangun mutu adalah:
1. Kedisiplinan. Kedisiplinan semua warga sekolah merupakan salah satu
cerminan/indikator budaya kerja di sekolah. Kedisiplinan tidak akan terbentuk
secara otomatis, tetapi terbentuk melalui suatu proses. Dalam proses
pembentukan kedisiplinan lebih banyak berlangsung secara imitasi atau peniruan.
Karena itu maka agar terjadi imitasi yang baik harus dimulai dari kepala
sekolah yang selalu mencerminkan sikap kedisiplinan dalam melaksanakan
tugas-tugasnya di sekolah. Tidak akan pernah ada sekolah yang berdisiplin
tinggi tanpa kepala sekolah yang berdisiplin.
2. Monitoring progress siswa,
3. Harapan yang tinggi terhadap siswa,
4. Fokus perhatian warga sekolah pada proses pembelajaran.
Untuk itu Niron (2001) menyatakan bahwa kepala sekolah harus memperhatikan
beberapa hal pokok berikut ini agar dapat mencapai target mutu yaitu:
1. Mengidentifikasi pelanggan sekolah. Siapa pelanggan sekolah sebenarnya,
Sallis (1993) menyatakan setiap orang di sekolah memiliki peran ganda yaitu
sebagai pelayan sekaligus sebagai pelanggan, yaitu mereka sebagai pelayan untuk
orang lain (guru terhadap muridnya), tetapi dia juga sebagai pelanggan
pelayanan (guru dari pelayanan kepala sekolah). Untuk itu maka kepala sekolah
sudah seharusnya memberikan pelayanan yang bermutu kepada semua staf sekolah.
Sebab pada dasarnya staflah (guru-guru dan staf tata usaha) yang membuat
kualitas menjadi baik atau menurun. Dengan demikian maka pelanggan internal ini
perlu mendapat perhatian utama agar mereka mendapatkan kepuasan dalam bekerja.
2. Mengidentifikasi kebutuhan pelanggan. Kepala sekolah perlu mengetahui secara
jelas apa yang diinginkan oleh pelanggan, khususnya pelanggan internal yaitu
guru-guru, staf dan siswa. Sebab merekalah sebenarnya ujung tombak bermutu
tidaknya produk sekolah yang dihasilkan.
3. Menetapkan target produk yang diinginkan, khususnya kualitas produk. Dari
sisi menajamen pendidikan tampilan produk suatu sekolah menjadi citra bagi
sekolah di tengah-tengah masyarakatnya. Produk yang berkualitas menjadi
cerminan akan kualitas pelayanan yang diberikan.
4. Mengembangkan visi, misi dan tujuan secara jelas.
Triguno (1977) menyatakan bahwa warna budaya kerja adalah suatu produktivitas
berupa perilaku kerja yang dapat diukur seperti kerja keras, ulet,
disiplin, produktif, tanggung jawab, bermotivasi, kreatif, inovatif, responsif
dan mandiri. Ini berarti bahwa budaya kerja merupakan dasar untuk menghasilkan
kualitas proses kerja. Dengan demikian maka apabila seseorang ingin berkualitas
kerja maka dia harus memiliki proses kerja yang berkualitas.
Agar lebih berhasil dalam melakukan perubahan yang berorientasi pada mutu,
Sukardi (2001) menyarankan kepada para kepala sekolah hendaknya mengakomodasi
lima prasyarat penting untuk terjadinya Manajemen Mutu Terpadu. Implementasinya
manajemen mutu menggunakan prinsip-prinsip ilmiah yaitu:
1. Penggunaan 4 langkah siklus yaitu: merencanakan (planning), melaksanakan
(do), Mengontrol (controlling) dan bertindak (Action) atau oleh Deming sering
disebut dengan singkatan PDCA.
2. Data empirik merupakan dasar dalam setiap pengambilan keputusan, menentukan
prioritas dan perubahan-perubahan dalam organisasi.
3. Melakukan prediksi, sebagai upaya antisipasi untuk lebih menyempurnakan
produk di masa yang akan datang.
4. Berfokus pada kepuasan pelanggan. Artinya bahwa segala kegiatan dan
pelayanan harus selalu ditingkatkan secara terus menerus agar didapat kepuasan
pelanggan. Dalam dunia pendidikan di sekolah, pelanggan internalnya adalah
guru, siswa, staf dan sebagainya. Untuk itu maka kepuasan kerja guru, staf dan
kepuasan siswa dalam belajar adalah pertimbangan sentral utama yang harus
diperhatikan oleh seorang kepala sekolah. Makin tinggi kepuasan para pelanggan,
akan memberikan kontribusi dalam meningkatkan mutu proses kegiatan yang
dilakukan oleh mereka.
5. Lebih menekankan pendekatan siklus dalam memperbaiki organisasi. Konsep ini
beranggapan bahwa perbaikan dan perubahan organisasi tidak dapat dilakukan
seperti membalik telapak tangan, tetapi
memerlukan waktu yang cukup dan berkelanjutan. Untuk itu maka perbaikan dan
perubahan organisasi ditempauh melalui siklus tertentu atau menggunakan
tahapan-tahap perbaikan sebagai berikut :
1. Para pemimpin struktural dalam organisasi sekolah perlu memiliki pandangan
jauh ke depan tentang kemana lembaga sekolah akan diarahkan. Dalam hal ini para
pemimpin harus mengerti Visi, Misi dan Tujuan Institusinya masing-masing secara
mendalam.
2. Para civitas akademika (semua warga sekolah) perlu memiliki kemampuan
profesi yang mancakup kemampuan individual, kemampuan kelompok yang diciptakan
secara sistimatis melalui program pendidikan dan pelatihan.
3. Adanya apresiasi insentif baik materi maupun insentif psikologis seperti
kemungkinan dan kemudaha promosi, penghargaan atas prestasi pekerjaan
4. Tersedianya sumber daya dan mekanisme penempatan yang sesuai dengan
keahliannya masingt-masing. Tetapi keahlian saja tidak akan membawa orang
berprestasi tanpa adanya kemauan dan kmoitmen yang kuat untuk berprestasi
kerja.
5. Adanya rencana kerja dan strategi sekolah yang tergambar dalam Visi, Misi
dan tujuan organisasi serta rencana operasional (Renstra dan Renops).
DAFTAR PUSTAKA
Ø Ahmad Suriansyah, (2001). Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat. Diktat Bahan
Kuliah pada Program Studi Administrai Pendidikan, FKIP Unlam. Banjarmasin: FKIP
Unlam
Ø Torsten Husen. (1988). Masyarakat Belajar. Jakarta: Pusat Antar
Universitas Universitas Terbuka bekerjasama dengan CV. Rajawali Pers.
Ø Pidarta, M. (1988). Manajemen Pendidikan Indonesia. Edisi Pertama, Jakarta
: Bina Aksara.