This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Senin, 10 Maret 2014

KAJIAN HISTORIS ANTARA TRADISI ILMU ISLAM DAN BARAT



KAJIAN HISTORIS ANTARA TRADISI ILMU ISLAM DAN BARAT

قال النبي (ص) : من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين ( متفق عليه )

Rasulullah Saw. bersabda : “Barangsiapa yang Allah kehendaki dalam diri seseorang kebaikan, maka Allah akan beri pemahaman terhadap urusan agamanya” .

A.    Pendahuluan

Tidak ada satu peradaban yang bangkit tanpa didahului oleh bangkitnya tradisi ilmu, baik itu peradaban kuno maupun peradaban modern. Mengapa tradisi ilmu?, sebab manusia memiliki kemampuan untuk berfikir dan rasa ingin mengetahui akan sesuatu di luar dirinya. Setiap manusia akan dihadapkan pada pertanyaan filosofis yang menyangkut eksistensi dan realitas alam semesta termasuk diri manusia itu sendiri sebagai bagian dari kosmologis. Pertanyaan itu adalah dari mana manusia berasal?, untuk apa manusia diciptakan?, dan akan kemana manusia mengakhiri hidupnya?. Ketiga pertanyaan inilah kemudian memunculkan aliran-aliran filsafat besar dunia yang mana satu dengan yang lainnya berusaha memberikan jawaban tentang Hakekat Manusia, Alam Semesta dan Tuhan.
Dalam Islam ' Mengetahui tidak mustahil '. Dengan kata lain mengetahui menjadi mungkin. Karena itu, untuk mengetahui jawaban dari ketiga pertanyaan itu menjadi sesuatu yang tidak mustahil. Setiap manusia normal, dengan segala potensi yang ada padanya, sesungguhnya dan pada hakekatnya dapat mengetahui (’ilm) dan mengenal (ma’rifah). Tidak seperti yang diklaim oleh kaum sophis (as sufasta’iyah), relativis (al ’indiyah), skeptis (al ’inadiyah), dan agnostis (al laadriyah), bahwa manusia tidak mampu mencapai suatu kebenaran yang hakiki. Dalam hal ini Imam An Nasafi menjelaskan bahwa حقائق الأشياء ثابتة , والعلم بها متحققة , خلافا للسفسطعية Maksudnya, hakikat (quiditas/esensi) segala sesuatu itu tetap (dan oleh karena itu bisa ditangkap), tidak berubah (segalanya bisa diketahui dengan jelas).[1]
Makalah ini akan mencoba untuk mengurai serta membandingkan tradisi keilmuan Islam dalam aspek historisnya yang berawal dari Nuzulul Wahyi kepada Muhammad Rasulullah Saw, dengan konsep awalnya bahwa mengetahui tidak mustahil. Dengan kata lain memperoleh ilmu pengetahuan, bahkan mencapai hakikat kebenaran dari segala sesuatu itu menjadi mungkin, sebab tradisi ilmu Islam berbasis kepada wahyu. Adapun sebagai perbandingan adalah tradisi keilmuan Barat. Sebab melihat Barat tidak cukup hanya melihat kemajuan Barat sebagai sebuah peradaban modern yang begitu saja hadir pada saat ini, namun kemajuan Barat juga tidak terlepas dari tradisi ilmu, yakni budaya Barat.
Yang akan dibandingkan dalam makalah ini adalah tradisi keilmuan Islam dan Barat dari aspek historisnya yang berpengaruh kepada konsep ilmu dari keduanya dengan pendekatan analisa peradaban dan studi pustaka, yaitu latarbelakang pertumbuhan dan perkembangan tradisi dari keduanya Islam - Barat. Pengalaman sosio-historis- religius Islam dan Barat akan lebih banyak diurai dalam makalah ini. Untuk memberikan gambaran secara nyata akan kedua tradisi keilmuan tersebut, penulis di sini akan menghadirkan suatu data historis-empiris, yakni tradisi keilmuan Jepang sebagai bagian dari produk Barat modern. Sebab Jepang memiliki pengalaman tradisi keilmuan yang hampir mirip dengan tradisi keilmuan Islam pada awal kebangkitannya.  
B.     Tradisi Ilmu Islam
Pada 1400 tahun atau 14 abad yang lampau, telah lahir seorang Maha Guru, guru dari sekalian manusia, yang membawa manusia dari lembah kegelapan, kenistaan menuju suatu puncak kegemilangan yang penuh dengan cahaya keridhaan. Adalah Muhammad bin Abdillah dilahirkan di kawasan padang pasir, tandus dan gersang, jauh dari peradaban kala itu: Persia dan Romawi. Pada usia 40 tahun Muhammad diangkat menjadi Nabi sekaligus Rasul. Tugas baru yang diembankan kepadanya dari Tuhannya itu bukanlah tugas yang ringan, namun sebuah tugas yang amat sangat berat. Tugas itu adalah menyampaikan risalah tauhid kepada seluruh ummat manusia di penjuru dunia.
Dalam waktu ± 23 tahun, setelah mengalami berbagai macam rintangan dan cobaan sepanjang dakwah risalah, Nabi Muhammad telah mampu membangun suatu tatanan kehidupan di mana siapa saja yang berteduh di bawahnya akan merasakan kesejukannya. Hal itu ditandai dengan lahirnya sebuah kota yaitu Madinah Al Munawwarah, kota yang tercerahkan. Kemudian Kota tersebut bermetamorfosis, menjelma menjadi suatu negara (state) atau peradaban (civilization).
Menurut Ibnu Khaldun, wujud suatu peradaban merupakan produk dari akumulasi tiga elemen penting antara lain 1) kemampuan manusia untuk berfikir yang menghasilkan sains dan teknologi, 2) kemampuan berorganisasi dalam bentuk kekuatan politik dan militer, dan 3) kesanggupan berjuang untuk hidup.[2] Ketiga elemen tersebut telah mewujud di Madinah kala itu.  Berdasarkan teori Ibnul Khaldun tersebut Madinah sudah bisa dikatan sebagai sebuah peradaban. Dari Madinah-lah kebangkitan Peradaban Islam berawal dan berkembang.
Peradaban Islam di mulai dengan tradisi ilmu atau tafaqquh fid din secara terus menerus. Mulai dari turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad Saw. proses interaksi dan ideasi antar individu dan masyarakat senantiasa didasarkan pada wahyu. Ini bukti bahwa ilmu tidak hanya dalam pikiran semata akan tetapi mewujud dalam sebuah aktifitas, baik berupa amal infiradi maupun amal jama’i. Dari sinilah lahir komunitas ilmiah yang mana oleh sebagian ahli sejarah disebut Ahlus Suffah.[3]
Di lembaga pendidikan pertama inilah kandungan wahyu dan hadist-hadist Nabi dikaji dalam kegiatan belajar mengajar yang efektif.[4] Meski materinya masih sederhana tapi karena obyek kajiannya tetap berpusat pada wahyu, yang betul-betul luas dan kompleks. Materi kajiannya tidak dapat disamakan dengan materi diskusi spekulatif di Ionia, yang menurut orang Barat merupakan tempat kelahiran tradisi intelektual Yunani dan bahkan kebudayaan Barat (the cradle of western civilization).[5]
Hasil dari kegiatan ini memunculkan alumni-alumni yang menjadi pakar dalam hadist Nabi, seperti Abu Hurairah, Abu Dhar Al Ghifari, Salman Al Farisy, Abdullah ibn Mas’ud dan lain-lain. Ribuan hadist telah berhasil direkam oleh anggota sekolah ini.[6] Kegiatan pengkajian wahyu dan hadist kemudian dilanjutkan oleh generasi berikutnya dalam bentuk lain.
Tidak lebih dari dua abad lamanya, telah muncul ilmuan-ilmuan terkenal dalam berbagai bidang studi keagamaan, seperti Qadi Surayh (w.80 H/699 M), Muhammad ibn al Hanafiyah (w.81 H/700 M), Umar ibn Abdul Aziz (w.102 H/720 M), Wahb ibn Munabih (w. 110,114 H/719,723 M), Hasan al Basri (w.110 H/728 M), Ja’far al Shadiq (w. 148/765), Abu Hanifah (w.150/767), Malik ibn Anas (179/796), Abu Yusuf (w.182/799), al Syafi’i (w.204/819), dan lain-lain.[7]
Islam adalah sebuah peradaban yang memadukan aspek dunia dan aspek akhirat, aspek jiwa dan aspek raga. Ia bukan peradaban yang memuja materi, tetapi bukan pula peradaban yang meninggalkan materi. Pada titik inilah, tradisi ilmu dalam Islam berbeda dengan tradisi ilmu pada masyarakat Barat yang berusaha membuang agama dalam kehidupan mereka. Dalam tradisi keilmuan Islam, ilmuan yang dzalim dan jahat harus dikeluarkan dari daftar ulama. Dia masuk kategori fasik dan ucapannya pantas diragukan kebenarannya. Sebab ilmu harus menyatu dengan amal. Inilah yang ditunjukkan oleh sahabat-sahabat Nabi seperti Abu Bakar, Umar, ’Utsman, Ali (radhiyallahu ’anhum) dan lain-lain.[8]  
Ilmu dalam Islam mengantarkan seseorang untuk mengenal Allah Swt. Untuk mengenal-Nya manusia memerlukan sarana-sarana yang menuju kepada pengenalan dzat-Nya yang Maha Abadi. Salah satunya adalah beriman kepada Rasulullah Saw sebagai Nabi dan Utusan-Nya. Karena tanpanya manusia tidak mampu meraih pengetahuan akan Allah. Meskipun manusia dilengkapi dengan potensi akal, namun dalam hal mengenal Tuhan ia membutuhkan petunjuk, sebab akal tidak dapat menjangkau hal yang metafisik. Maka, Allah melalui lisan Rasul-Nya memberikan petunjuk seperangkat tatacara untuk sampai kepada-Nya. Jadi ilmu dalam Islam senantiasa berdimensi Iman dan Ihsan. Ilmu dalam Islam berpijak kepada wahyu Allah Swt sebagai sumber ilmu yang absolute.
Tradisi keilmuan tersebut kemudian berlanjut dari generasi ke generasi, dari abad ke abad dan mengalami puncak perkembangan dan keemasannya antara abad ke-7 M sampai pada abad ke-12 M. Pada saat itu telah lahir intelektual-intelektual muslim di bidang sains dan teknologi, seperti Al Khawarizmi, ’Bapak Matematika’ Muslim (w. 780 M) yang namanya dikenal di dunia Barat dengan Algorizm, Ibnu Sina ’Bapak Kedokteran Muslim’ yang dikenal dengan sebutan Aviecena. Ibnu Sina sebelum meninggal telah menulis kitab sejumlah kurang lebih 276 karya. Karyanya yang sangat monumental al Qonun fi al Tibb telah diterjemahkan ke dalam bahasa latin di Toledo, Spanyol pada abad ke-12. Buku ini juga telah dijadikan rujukan utama di universitas-universitas Eropa sampai abad ke-17.[9]  
C. Tradisi Ilmu Barat
Barat sebagai ikon peradaban modern saat ini tidak bisa hanya dipahami atau dilihat sebagai suatu peradaban yang begitu saja hadir menjadi peradaban yang mapan. Akan tetapi, peradaban Barat memiliki pengalaman masa lalu yang sangat berpengaruh pada karakter dari peradaban Barat itu sendiri. Salah satunya adalah pengalaman beragama masyarakat Barat. Ini juga salah satu unsur kuat yang membedakan karakter dari peradaban Barat dengan perdaban lainnya.
Banyak ilmuwan merumuskan bahwa agama merupakan unsur pokok dalam suatu peradaban. Agama, kata mereka, adalah faktor terpenting yang menentukan karakteristik suatu peradaban. Sebab itu, Bernard Lewis, menyebut peradaban Barat dengan sebutan”Christian Civilization”, dengan unsur utama agama Kristen. Samuel P. Huntington juga menulis bahwa agama adalah unsur utama karakter peradaban. Menurut Christopher Dawson, semua agama besar dunia menjadi elemen utama dari peradaban besar.[10]
Pada bagian ini akan diurai akar kebudayaan Barat yang bermula pada abad pertengahan Eropa. Abad ini merupakan masa paling kelam dalam periode sejarah Eropa. Sebab itu, mereka menamakan masa ini dengan The Dark Age (Abad Kegelapan). Ini sangat berbeda sekali dengan kondisi ummat Islam pada abad pertengahan. Pada saat itu mereka mengalami suatu kemajuan ilmu pengetahuan yang sophistecated di segala bidang.
Abad pertengahan dimulai sejak abad II Masehi, yaitu sejak Kaisar Konstantin Agung masuk Kristen dan menyatakannya sebagai agama resmi Imperium Romawi.[11] Sejak masa ini, Eropa berada di bawah tekanan dan penindasan yang dilakukan oleh penguasa gereja dan negara. Sejak masa ini pula, kebebasan dikekang dan akal dibelenggu sehingga ilmu pengetahuan tidak memperoleh kemajuan.[12]
Keadaan Eropa pada abad pertengahan sungguh dalam kondisi yang terbelakang. Dr. Muhammad Sayyid Al Wakil menukil perkataan seorang penulis Amerika yang menggambarkan keadaan Eropa pada masa itu, ”Jika matahari telah terbenam, seluruh kota besar Eropa terlihat gelap gulita. Di sisi lain, Cordova terang benderang disinari lampu-lampu umum. Eropa sangat kumuh, sementara di kota Cordova telah dibangun seribu WC umum. Eropa sangat kotor, sementara penduduk Cordova sangat concern dengan kebersihan. Eropa tenggelam dalam lumpur, sementara jalan-jalan Cordova telah mulus. Atap istana-istana Eropa sudah pada bocor, sementara istana-istana Cordova dihiasi dengan perhiasan yang mewah. Para tokoh Eropa tidak bisa menulis namanya sendiri, sementara anak-anak Cordova sudah mulai masuk sekolah.[13]   
 Setelah adanya sentuhan dengan Dunia Islam melalui konflik-konflik bersenjata, seperti dalam Perang Salib, maupun melalui cara-cara damai seperti di Andalusia, Eropa mulai tertarik dengan Islam. Pada Perang Salib orang-orang Kristen mendapati hal-hal yang baru di Levant dan teknik-teknik yang tidak dikenal di Barat. Oleh karena itu, ketika terjadi gencatan senjata, mereka memanfaatkan kesempatan untuk mempelajari teknik-teknik baru di bidang pertanian, industri dan kerajinan, serta melakukan hubungan perdagangan dengan orang-orang Muslim.[14]    
 Persentuhan Eropa dengan Peradaban Islam telah memberikan pengaruh luar biasa terhadapa kehidupan mereka. Pengaruh terpenting yang diambil Eropa dari pergaulannya dengan ummat Islam adalah semangat untuk hidup yang dibentangkan oleh peradaban dan ilmu Islam. Keterpengaruhan Eropa pada peradaban Islam itu bersifat menyeluruh. Hampir tidak ada satu sisi pun dari berbagai sisi kehidupan Eropa yang tidak terpengaruh oleh peradaban Islam.[15] Al Qardhawi menulis bahwa metode, sekolah, universitas, ulama , dan buku menjadi pengaruh serta penggerak kebangkitan Eropa.[16]
Hamid Fahmi Zarkasyi menjelaskan dalam bukunya bahwa hakekat dari peradaban Barat Modern adalah periode sejarah peradaban Barat yang persisnya terjadi saat kebangkitan masyarakat Barat dari abad kegelapan kepada periode pencerahan, abad industri dan abad ilmu pengetahuan. Periode ini didahului oleh zaman yang disebut dengan Zaman Penterjemahan (Translation Age) khususnya penterjemahan karya-karya Muslim dalam bidang sains (1050-1150) dari bahasa Arab ke dalam bahasa Latin. Sebab itu, Eugene Myers dengan tegas menyimpulkan bahwa salah satu faktor terpenting kebangkitan Barat adalah penterjemahan karya-karya cendekiawan Muslim.[17]
Pada abad XV muncul gerakan renaissance, yaitu gerakan pencerahan atau diartikan sebagai gerakan kelahiran kembali (rebirth) sebagai manusia yang serba baru. Pada abad pertengahan ini Barat telah berhasil keluar dari Abad Kegelapan (Dark Ages) dan mengembangkan suatu pandangan hidup baru (new worldview) yang mengantarkan mereka kepada abad pencerahan.[18] Gerakan ini pada akhirnya menghancurkan otoritas gereja. Setelah adanya perjanjian Westphalia Agreement pada tahun 1648 maka kekuasan dan otoritas paus dalam hal ini gereja jatuh. Sehingga akhirnya kekuasaan diserahkan kepada negara masing-masing. Maka lahirlah Nation State yang pada perjalanannya menjadi awal dari pemisahan negara dan agama yang kemudian melahirkan sekularisme.[19]
Dari sinilah kemudian ilmu yang berkembang di Barat menjadi jauh dari nilai-nilai agama. Mereka mengatakan bahwa ilmu bebas nilai (free value). Ilmu bersifat universal yang tidak ada kaitannya dengan persoalan trancendent. Ilmu bisa dimiliki oleh siapa saja, di mana saja dan untuk apa saja, meskipun bertentangan dengan nilai agama atau norma. Oleh karena itu, ilmu di Barat jauh dari moralitas. Ilmu di Barat hanya berorientasi pada aspek fisik dan menafikan metafisik. Sebab sumber ilmu di Barat  bertumpu pada panca indera dan akal (rasio) semata.
Sebab itulah epistemologi Barat berangkat dari praduga-praduga, atau prasangka-prasangka, atau usaha-usaha skeptis tanpa didasarkan pada wahyu. Yang mengakibatkan lahirnya sains-sains yang hampa akan nilai-nilai spiritual dan akhirnya seperti yang disimpulkan oleh Al Attas epistemologi Barat tidak dapat mencapai kebenaran, apalagi hakekat kebenaran itu sendiri.[20] Yang kemudian memunculkan ilmuwan-ilmuwan yang skeptis dan atheis seperti Rene Descartes (1596 – 1650), David Hume (1711 - 1776), Immanuel Kant (1724 - 1804), dan lain-lain. Menurut Kant, metafisika adalah hanya ilusi transenden belaka (a transcendental illussion).    
            Sebagai sebuah pruduk Barat, penulis akan menambahkan suatu tradisi keilmuan Jepang. Ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran lebih jelas akan letak perbedaan dan persamaan tradisi ilmu Islam dan tradisi ilmu di luar Islam, yaitu Jepang. Menurut sejarah Jepang, sejak tahun 660 SM Jepang adalah sebuah kerajaan feodal yang dipimpin oleh Kaisar yang memerintah secara turun-temurun. Selama puluhan abad, Jepang hanya mengalami sedikit saja perubahan struktur sosialnya. Sehingga Jepang tidak banyak diketahui dunia luar, karena selain sebagai negara kepulauan, secara geografis, Jepang terisolir dari Asia daratan dan juga seluruh dunia. Budaya yang amat tertutup menyebabkan sepenuhnya terasing (terisolasi) dari arus sejarah dunia. Hal ini mengakibatkan Jepang mulai mengalami kemunduran.[21]
            Namun, keadaan ini mulai berubah ketika Mutsuhito (1852-1912) yang dikenal sebagai Meiji, mereformasi Jepang secara mendasar. Jepang kemudian berubah dari sebuah masyarakat yang tertutup menjadi suatu bangsa yang amat bersemangat untuk menjalin kerja sama dan berhubungan dengan pihak lain serta berusaha menyamai dunia luar yang lebih unggul terlebih dahulu. Sejak saat itu Kaisar menyuruh tunas-tunas muda Jepang yang cerdas untuk belajar ke Eropa dan Amerika. Hasilnya, Jepang mengalami kemajuan yang pesat dalam segala bidang. Dalam waktu kurang dari setengah abad, Jepang sudah menyusul dan berhasil menyetarakan kemajuan teknologinya dengan negara-negara Eropa.[22]
            Ada beberapa faktor penyebab mengapa Jepang berhasil melakukan modernisasinya, yakni : Pertama, Jepang sadar bahwa di sekelilingnya terdapat kekuatan-kekuatan besar yang mengancam Jepang. Sehingga Jepang harus menjadi kuat baik secara militer maupun ilmu pengetahuan. Selain itu, adanya perasaan bahwa mereka adalah satu bangsa (Jepang adalah negara yang homogen suku bangsanya). Kedua, Kaisar menjadi faktor penting dalam proses modernisasi. Di Jepang, posisi Kaisar sangat dihormati karena ia dianggap sebagai titisan Dewa Matahari sehingga apabila Kaisar mengatakan harus menimba ilmu di luar negeri maka prosesnya akan mudah karena orang Jepang pasti akan melaksanakan perintah Kaisar tersebut.[23]
Faktor yang tidak kalah pentingnya adalah faktor pendidikan. Di mana, ketika terjadi proses Restorasi Meiji, tingkat melek huruf orang Jepang tinggi. Sehingga ketika Jepang akan masuk proses industrialisasi mereka sudah mempunyai sumber daya manusia yang terampil dan terdidik. Sebelum Restorasi Meiji, pendidikan di Jepang berdasarkan sistem masyarakat feodal yaitu pendidikan untuk samurai, petani, tukang, pedagang serta rakyat jelata. Kegiatan itu dilaksanakan di kuil dengan bimbingan para pendeta Budha yang disebut dengan Terakoya ( sekolah kuil ).[24]
Setelah Restorasi Meiji, sistem pendidikan berubah yaitu dengan cara mulai menerjemahkan dan menerbitkan pelbagai macam buku tentang ilmu pengetahuan, filsafat maupun sastra. Para pemuda banyak yang dikirim ke luar negeri untuk belajar dan mencari ilmu bagi kemajuan bangsa Jepang agar tidak kalah dengan bangsa lain. Kegiatan Jepang dalam rangka memajukan bangsanya telah memberikan hasil yang signifikan. Korelasi antara kemajuan pendidikan Jepang dan Industrinya benar-benar terwujud. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan bangsa Jepang tumbuh menjadi negara industri utama di Asia yang kedudukannya sejajar dengan bangsa Barat lain seperti Inggris ataupun Perancis.[25]
Meskipun kebangkitan Jepang diawali dengan tradisi ilmu, namun dapat dikatakan bahwa Jepang adalah suatu negara budaya yang pada awalnya budaya ilmu belum begitu nampak kuat dalam kebudayaan Jepang, sebab di sini dapat dilihat kuatnya pengaruh tradisi ilmu asing terhadap kebudayaan Jepang serta pendidikan yang masih ekslusif dikalangan masyarakat yang disebabkan sistem feodal pada saat itu.  Artinya tidak sepenuhnya keilmuan tersebut dibangun di dalam konsep-konsep kebudayaan Jepang. Meskipun Jepang mampu mempertahankan nilai-nilai leluhur mereka. Jepang dapat dikatakan negara yang telah berhasil menyerap, memahami, serta mengamalkan ilmu yang mereka peroleh dari Barat untuk faedah hidup mereka tanpa menghilangkan aspek-aspek tradisi. Jepang telah mampu menampilkan teknologi modern dengan wajah baru yang lebih progres.
D.    Kesimpulan
Terdapat sebuah kaidah yang menyatakan bahwa ’selain adanya perbedaan, juga terdapat persamaan dan sebaliknya selain adanya persamaan, terdapat perbedaan’ (الممايزة غيرما به المشاركة , المشاركة غيرما به الممايزة). Meskipun Islam dan Barat keduanya adalah peradaban yang sama-sama dibangun dengan ilmu, akan tetapi konsep ilmu dalam Islam berbeda dengan konsep ilmu dalam tradisi Barat.
Secara historis, peradaban Islam dibangun di atas ilmu yang berbasiskan wahyu. Ilmu di dalam Islam berdimensi Iman. Ilmu dalam pikiran menguatkan keyakinan yang menghujam di dalam hati. Tidak cukup berhenti pada pikiran dan hati saja, tapi haruslah diwujudkan dalam bentuk perbuatan (amal). Sementara ilmu di Barat berangkat dari ’meragukan segala sesuatu’(skeptik), bahkan merelatifkan segala sesuatunya ’All is relative’. Jadi ilmu di Barat tidaklah menghasilkan sebuah kepastian apalagi sebuah keyakinan. Sebab, di Barat ilmu hanya sebatas pada pengalaman inderawi (visible) dan dapat dijangkau oleh akal manusia (rasional), diluar itu bukan dikatakan ilmu pengetahuan. Hal ini juga menunjukkan bahwa ilmu tidak bebas nilai (free value), bahkan syarat dengan nilai karena ilmu adalah by product dari suatu pandangan hidup suatu peradaban atau bangsa.
Seorang muslim menuntut ilmu karena dorongan untuk mendekatkan diri kepada Sang Khaliq (معرفة الله), sebab dengannya Ia disembah, dikenal, diharapkan dan dicintai. Berbeda di Barat dan di Jepang, hanya dorongan untuk memuaskan nafsu kemanusiaannya di mana manusia membutuhkan sandang, pangan, papan, peningkatan kesejahteraan dari waktu ke waktu dan hasrat duniawi lainnya. Dapat dipahami bahwa Ilmu dalam Islam bertujuan untuk ’Mengenal Allah Swt’. Hal ini juga yang membedakan makna harapan, cinta, kehidupan, kemajuan, kebahagian dan lain-lain dalam Islam dengan di Barat atau di Jepang. Wallahu A’lam bis Shawab.



           




DAFTAR PUSTAKA


Jurnal Ilmiah, Islamia, Thn II No 5 April - Juni 2005,hal.27

Fahmi Zarkasyi, Hamid, Membangun Peradaban Islam Kembali, Makalah disampaikan dalam workshop pemikiran ideologis Forum Ukhuwah Islamiyah daerah Istimewa Yogyakarta 15 April 2007

_____________, Liberalisasi Pemikiran Islam; Gerakan bersama Missionaris, Orientalis dan Kolonialis,  Center for Islamic and Occidental Studies, ISID Gontor-Ponorogo, 2008

Adian, Husaeni, Dari Tradisi Ilmu Ke Peradaban Islam, Catatan untuk 5 Tahun INSIST. Dimuat dalam Catatan Akhir Pekan Di www. Hidayatullah.com.

Armas, Adnin, Diktat Matakuliah : Dewesternisasi Dan Islamisasi Ilmu Pengetahuan, Disampaikan pada kuliah Universitas Muhammadiyah Surakarta Tahun 2007.
_____________, Krisis Epistemologi Dan Islamisasi Ilmu.Gontor Darus Salam: CIOS.2007

Fahrur Mu’is, dkk, Makalah : Sumbangan Islam Terhadap Kebangkitan Peradaban Eropa, Seminar Kelas Matakuliah Sejarah Pemikiran Dan Peradaban Islam, 2008.

Fitriciada, Idul, Diktat Matakuliah Filsafat Hukum, disampaikan dalam seminar kelas tanggal 2 November 2008.









[1]Jurnal Islamia, Thn II No 5 April - Juni 2005,hal.27
[2]Zarkasyi,Hamid Fahmi, Membangun Peradaban Islam Kembali, (Makalah disampaikan dalam workshop pemikiran ideologis Forum Ukhuwah Islamiyah daerah Istimewa Yogyakarta 15 April 2007)hal. 7 adapun penjelasan lebih lanjut dapat dilihat di dalam Muqaddimah karya Ibnu Khaldun. Ini dikutip dari edisi terjemahan berbahasa Inggris 3 jilid dengan penerjemah Franz Rosental ‘The Muqaddimah : an Introduction to History’, editor N.J. Dawood. (London, Routledge & Kegan Paul, 1978)hal. 54-57.  
[3]Zarkasyi,Hamid Fahmi,hal.7. dalam catatan kakinya ia menambahkan bahwa Tujuan utama Ahlus Suffah adalah belajar dan mengamalkan Islam, seperti shalat, membaca al Qur’an, memahami ayat-ayat bersama-sama, berzikir serta belajar menulis. Lulusan dari sekolah masyarakat (learning society) ini juga menunjukkan kemampuan mereka dalam menghapal hadist-hadist nabi. Dikutip dari Abu Daud al Sijistani, Sulaiman ibn al Asha’ath, (d. 275 H) al Sunan, 2 jilid (Egypt, Mustafa al Babi al Halabi, 1371) 2/237; Ibnu Majah, Muhammad ibn Yazid (d.273), al Sunan, dengan komentar dari Muhammad Fuad Abdul Baqe, (Kairo : Dar Ihya’ al Kutub al ‘Arabiyah, 1953, jilid 2,hal.70).
[4]Zarkasyi,Hamid Fahmi,hal.7, Ia menambahkan bahwa Mengenai jumlah peserta dalam komunitas ilmuan dan materi yang dikaji, lihat Abu Nu’aim, Ahmad ibn Abdullah al Asbahani (d.430 A.H) Hilyatul Auliya’, 10 jilid, Mesir : al Sa’adah Press, 1357, 1/339,hal.341.
[5]Zarkasyi,Hamid Fahmi,hal.7.
[6]Zarkasyi,Hamid Fahmi,hal.8
[7]Zarkasyi,Hamid Fahmi,hal.8
[8]Husaeni, Adian, Dari Tradisi Ilmu Ke Peradaban Islam, Catatan untuk 5 Tahun INSIST sebagai dimuat dalam Catatan Akhir Pekan Di www. Hidayatullah.com
[9]Armas, Adnin, Diktat Matakuliah : Dewesternisasi Dan Islamisasi Ilmu Pengetahuan, Disampaikan pada kuliah Universitas Muhammadiyah Surakarta Tahun 2007.
[10]Husaini, Adian, Diktat Matakuliah Pemikiran Dan Peradaban Islam yang Disampaikan dalam seminar kelas di UMS 2007,hal.1 Penjelasan lebih lanjut lihat Samuel P. Huntington, Clash of Civilization and the Remaking of World Order, (New York : Touchtone Books,1996),47; Bernard Lewis, Islam and the West, (New York : Oxford Univeristy Press,1993).
[11]Mu’is, Fahrur, dkk, Makalah Sumbangan Islam Terhadap Kebangkitan Peradaban Eropa,hal.1 bisa dilihat An Nadwi, Abul Hasan Ali. 1988. Islam Membangun Peradaban Dunia. Jakarta : Pustaka Jaya dan Penerbit Djambatan.hal.239
[12] Mu’is, Fahrur, dkk,hal.1 dikutip dari Suhamihardja, Agraha Suhandi.. Sejarah Pemikiran Modern; Tonggak Perkembangan Ilmu Pengetahuan. Bandung : Fakultas Sastra Unpad. 2002.hal.3 dan 18 
[13]Ibid.hal.2 dikutip dari Al Wakil, Muhammad Sayyid. Wajah Dunia Islam Dari Dinasti Bani Umayah Hingga Imperialisme Modern. Jakarta : Pustaka Al Kautsar. 1988.hal.321
[14]Ibid.hal.2 dikutip dari Bammate, Haidar. Kontribusi Intelektual Muslim Terhadap Peradaban Dunia. Jakarta : Darul Falah. 2000.hal.44 - 45
[15]Ibid.hal.5 dikutip dari Quthb, Muhammad.Perlukah Menulis Ulang Sejarah Islam. Jakarta : Gema Insani Press. 1995.hal.251 
[16]Ibid.hal.5 dikutip dari Al Qardhawi, Yusuf. Distorsi Sejarah Islam. Jakarta : Pustaka Al Kautsar,2005,hal.121
[17]Zarkasyi, Hamid Fahmi, Liberalisasi Pemikiran Islam.(Gerakan bersama Missionaris, Orientalis dan Kolonialis),Center for Islamic and Occidental Studies (CIOS).Ponorogo,2008,hal.5
[18] Zarkasyi, Hamid Fahmi Makalah : Akar Kebudayaan Barat,hal.4  
[19]Fitriciada, Aidul, Diktat Matakuliah Filsafat Hukum, disampaikan dalam seminar kelas tanggal 2 November 2008.
[20]Armas, Adnin, Krisis Epistemologi Dan Islamisasi Ilmu.Gontor Darus Salam: CIOS, 2007,hal.vii-viii
[21]http://santribuntet.wordpress.com/2007/05/15/jepang-modern-tradisi-tetap-bertahan/
[22]http://santribuntet.wordpress.com/2007/05/15/jepang-modern-tradisi-tetap-bertahan/
[23]http://chickenblue.blog.friendster.com/2007/08/japanesse-people/
[24]http://chickenblue.blog.friendster.com/2007/08/japanesse-people/  
[25]http://chickenblue.blog.friendster.com/2007/08/japanesse-people/

MISTERI KEMENANGAN PERANG SALIB



MISTERI KEMENANGAN PERANG SALIB

A.    Pendahuluan
Salah satu peristiwa yang amat sangat traumatis di dalam sejarah perjalanan umat Islam sejak kemunculannya sampai kepada terbentuknya Peradaban Islam atau Imperium Islam adalah Perang Salib (the Crussades) yang terjadi antara tahun 1095-1291 M. Sebab dalam peperangan ini bertemunya dua kekuatan besar antara Timur dan Barat yang mana di antara keduanya mewakili identitas masing-masing. Yang tidak hanya sebatas pada bangsa, ras/etnis dan budaya, akan tetapi identitas agama atau sebagaimana yang diistilahkan Huntington yaitu terjadinya benturan peradaban (Clash of Civilization)[1].
Seorang penulis Barat berkata, “Perang Salib merupakan salah satu bagian sejarah yang paling gila dalam riwayat kemanusiaan. Umat Nasrani menyerbu kaum Muslimin dalam ekspedisi bergelombang selama hampir tiga ratus tahun sehingga akhirnya berkat kegigihan umat Islam mereka mengalami kegagalan, berakibat kelelahan dan keputusasaan. Seluruh Eropa sering kehabisan manusia, daya dan dana serta mengalami kebangkrutan sosial, bila bukan kehancuran total. Berjuta-juta manusia yang tewas dalam medan perang, sedangkan bahaya kelaparan, penyakit dan segala bentuk malapetaka yang dapat dibayangkan berkecamuk sebagai noda yang melekat pada muka tentara Salib. Dunia Nasrani Barat saat itu memang dirangsang ke arah rasa fanatik agama yang membabi buta oleh Peter The Hermit dan para pengikutnya guna membebaskan tanah suci Palestina dari tangan kaum Muslimin”.[2]  
Perang atas nama agama ini pada dasarnya perang merebut kekuasaan daerah. Hal ini dibuktikan bahwa tentara Salib dan tentara Muslim saling bertukar ilmu pengetahuan. Ini menunjukkan bahwa kaum Kristen Eropa (kaum frank/al-ifranj)[3] yang datang ke dunia Islam tidak semuanya membawa misi untuk berperang, namun banyak di antara mereka yang menuntut ilmu dari orang-orang muslim. Dampak dari perang ini yang nantinya membawa perubahan alam berfikir orang-orang Eropa yang dikenal dengan masa pencerahan (Renaissance)[4].

B.     Sebab Terjadinya Perang Salib
Carole Hillenbrand mencatat dalam bukunya ”bahwa pertemuan pertama bangsa Eropa dengan Islam terjadi akibat kebijakan-kebijakan negara muslim baru, yang terbentuk setelah wafatnya Nabi Saw. pada 632 M. Satu abad kemudian, wilayah ekspansi Islam (kaum muslimin) telah mencapai barisan pegunungan di antara Perancis dan Spanyol dan menaklukkan wilayah-wilayah yang membentang dari India utara hingga Perancis selatan. Dua ratus tahun berikutnya, perimbangan kekuasaan antara Eropa dan dunia Islam secara meyakinkan masih berada di tangan kaum muslim, yang menikmati pertumbuhan ekonomi besar-besaran dan mengalami perkembangan kebudayaan yang luar biasa.  Dari tahun 750 dan seterusnya, wilayah Dinasti Abbasiyah dibentuk oleh pemerintahan dan kebudayaan Persia-Islam dan semakin bertambah dengan dukungan militer dari budak-budak Turki yang menjadi tentara yang berpusat di Baghdad.[5] Ia menambahkan, pada abad ke-10 dan 11, perpecahan politik menimpa Dinasti ’Abbasiyah terus menerus. Sehingga kondisi tersebut mendukung munculnya gerakan bangsa-bangsa Eropa di Mediterania timur dan menjadi awal kebangkitan kekuasaan Kristen di Spanyol dan......”.
Dr. Muhammad Sayyid al-Wakil menyimpulkan terhadap apa yang telah dipaparkan Carole Hillenbrand akan sebab terjadinya Perang Salib, yang antara lain; Pertama, perasaan keagamaan yang kuat. Orang-orang Kristen meyakini kekuatan gereja dan kemampuannya untuk menghapus dosa walau dosa setinggi langit. Kedua, perlakuan kasar orang-orang Saljuk terhadap orang-orang Kristen. Negeri Islam selain Dinasti Saljuk memperlakukan orang-orang Kristen sesuai dengan semangat toleransi Islam. Mereka izinkan menunaikan ibadah di gereja-gereja suci mereka di Baitul Maqdis. Di lain pihak, orang-orang Saljuk bersikap keras terhadap mereka karena orang-orang Saljuk belum lama memeluk agama Islam. Ketiga, ambisi pribadi Sri Paus. Ambisi Paus untuk menyatukan dunia Kristen ke dalam satu negara religius yang langsung dipimpinnya dan mengusir kaum Muslimin dari Baitul Maqdis.[6]
 Senada dengan apa yang telah ditambahkan Dr. Muhammad Sayyid al-Wakil di akhir penjelasannya akan kebencian dan kedengkian orang-orang Kristen Eropa terhadap kaum Muslimin, Prof. Leopold Weiss[7] menambahkan bahwa ”kemurkaan bangsa Eropa telah tersebar luas seiring dengan kemajuan zaman. Kemudian kebencian berubah menjadi kebiasaan. Kebencian ini akhirnya menumbuhkan perasaan kebangsaan setiap kali disebutkan kata Muslim......”.
Allah Swt. telah menjelaskan akan watak kaum Kristen dalam firman-Nya surat Ali Imran (3) ayat 118 yang berbunyi ”Telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang disembunyikan dalam hati mereka adalah lebih besar”. 
            Seiring dengan kebencian dan kedengkian serta munculnya gerakan-gerakan orang-orang Eropa Kristen, kondisi dunia Islam dan kaum Muslimin telah menciptakan mentalitas layak terbelakang dan kalah (al-qabiliyyah li at takhalluf wa al hazimah) di mana saat itu sebagaimana yang ditulis oleh Majid ’Irsan al Kilani dalam bukunya bahwa di dalam tubuh umat Islam telah terjadi perpecahan pemikiran Islam dan perselisihan antar mazhab, perpecahan dan penyimpangan tasawuf, ancaman pemikiran kebatinan serta ancaman filsafat dan para filsuf. Hal ini berdampak kepada rusaknya aspek ekonomi, aspek sosial, perpecahan politik dan pertentangan Sunni-Syi’ah yang pada akhirnya lemahnya dunia Islam dalam menghadapi serangan-serangan kaum salib Eropa.[8]



C.    Analisa Kemenangan Kaum Muslimin
Setelah memahami uraian singkat di atas akan sebab terjadinya Perang Salib dan kondisi dunia Islam pasca penyerangan orang-orang Eropa Kristen, berikut ini akan disajikan beberapa penjelasan singkat sebab kemenangan kaum Muslimin dalam melawan pasukan salib Kristen.
Tokoh legendaris Islam dalam melakukan perlawanan sengit terhadap pasukan salib dengan merebut kembali daerah-daerah kaum Muslimin yang telah dikuasai mereka, termasuk kota suci Baitul Maqdis adalah Salahuddin al-Ayyubi pendiri Dinasti Ayyubiyah. Dalam uraian ini tidak akan banyak dijelaskan biografi sang legendaris. Akan tetapi lebih difokuskan pada sosok Salahuddin al-Ayyubi tersebut sebagai individu atau pelaku sejarah.
Pertanyaan yang muncul akan kepahlawanannya yaitu Apakah Shalahuddin al-Ayyubi merupakan fenomena individu, sosok yang brillian dan mukjizat yang lahir secara tiba-tiba di tengah panggung peristiwa dunia Islam dan terbebas dari faktor-faktor kelemahan manusiawi ? atau sebaliknya, ia hanya bagian dari generasi zamannya dan buah yang dipetik dari sekian langkah permulaan dan perubahan yang dilakukan oleh masyarakat pada masa itu. Perubahan yang meliputi seluruh lapisan umat dan kemudian melahirkan sumber daya manusia brillian (jenius) yang bersifat kolektif dan menyiapkannya untuk keluar dari krisis yang menghimpit, sementara Shalahuddin tidak lebih dari juru bicara resmi yang diangkat oleh generasi tersebut untuk mewakilinya ?.
            Tidak ada suatu peradaban yang bangkit tanpa ditopang dan didukung oleh tradisi ilmu atau komunitas ilmiah yang mengkaji ilmu secara dinamis dan berkesinambungan.[9] Sebab Ilmulah yang melahirkan  generasi yang loyal terhadap bangsa dan negerinya. Bangsa dan negeri yang memiliki pandangan hidup dan prinsip hidup yang teguh dan kokoh baik yang bersandar pada agama atau tidak, Islam atupun non Islam.
            Generasi Shalahuddin merupakan generasi yang dilahirkan pada zamannya oleh orang-orang yang memiliki prinsip dan keyakinan tinggi akan kemenangan hidup mereka dari tangan-tangan kaum penindas. Para Ulamalah yang dengan kekuatan tulisan, lisan serta seluruh potensi fikir dan dzikir mereka mampu membangkitkan dan menumbuhkan ribuan generasi pada masa dan tempat yang sama dengan tujuan yang satu dan hati yang bulat serta tekad yang kuat yang dibangun di atas keimanan yang menghujam dengan berbekalkan ketaqwaan dan hanya berharap keridhaan ilahi, telah mampu mengukir sejarah gemilang yang hadir di ruang dan waktu kita saat ini. Inilah yang dikatakan bahwa apabila jaringan interaksi sosial suatu umat terbentuk atas dasar loyalitas kepada pemikiran risalah yang dianut dan dijadikan landasan hidup, maka setiap individu masyarakat akan terlindungi dan terhormat, baik selama masih hidup maupun setelah mati.[10]
            Rasulullah saw bersabda: “Apabila umatku sudah mengagungkan dunia maka akan dicabutlah kehebatan Islam; dan apabila mereka meninggalkan aktivitas amar ma’ruf nahi munkar, maka akan diharamkan keberkahan wahyu; dan apabila umatku saling mencaci, maka jatuhlah mereka dalam pandangan Allah.”
            Kondisi umat Islam di masa kejatuhan Baitul Maqdis ke tangan orang-orang salib tidak kurang dari apa yang disabdakan Rasulullah Saw. Umat Islam kala itu mengalami keterpurukan atau degradasi iman dan moral. Para pemimpin yang hedonis dan tidak amanah dalam melaksanakan tugas-tugas kepemimpinannya.     
           
D.    Kesimpulan





  


[1]Istilah tersebut menjadi judul bukunya, Samuel P. Huntington, Clash of Civilizations and the Remaking of World Order, (New York : Touchtone Books, 1996)
[2]http://www.kebunhikmah.com/article-detail.php?artid=237
[3]Carole Hillenbrand, Perang Salib Sudut Pandang Islam, cet.II.(Jakarta : PT Serambi Ilmu Semesta, 2005),41
[4]Bagi Barat, Perang Salib merupakan bagian dari evolusi Eropa barat abad pertengahan. Arti pentingnya telah lama diakui dan dipelajari oleh banyak generasi para ilmuwan Barat. 
[5]Hillenbrand, Carole.Op.Cit.hal.20-21
[6]Muhammad Sayyid al-Wakil, Wajah Dunia Islam Dari Dinasti Bani Umayyah Hingga Imperialisme Modern,cet.IV. (Jakarta : Pustaka Kautsar, 2000),hal. 165-166 
[7]Muhammad Asad terlahir sebagai Leopold Weiss pada tahun 1900 di kota Lemberg, Ukraina. Tahun 1926, berkat kesan mendalam dari hasil pengembaraannya di negara-negara Islam Timur Tengah (terekam dalam salah satunya bukunya "Road to Mecca") ia memeluk Islam. Ia lantas mengatakan mengenai Islam :" Dalam pandangan saya, Islam terlihat seperti sebuah hasil arsitektur yang sempurna. Semua elemen didalamnya secara harmonis dalam saling melengkapi dan mendukung; tidak ada yang berlebihan dan tidak ada yang kurang; hasilnya adalah sebuah struktur dengan keseimbangan sempurna dan komposisi yang kuat." Ia mengembara dan menyaksikan dengan kepala sendiri beberapa pergerakan pembebasan yang muncul pada awal abad 20 untuk membebaskan daerah Islam dari kaum kolonial.
[8]Majid ‘Irsan al-Kilani, Hakadza Zhahara Jil Shalahuddin wa Hakadza ‘Adat al Quds, (Saudi Arabiya : Ad-Dar As-Su’udiyyah, 1985).hal.13-61
[9]Hamid Fahmi Zarkasyi, Membangun Peradaban Islam Kembali. Diktat Mata Kuliah Worldview Islam. Disampaikan dalam seminar kuliah di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).hal.1
[10]Majid ‘Irsan Al Kilani, Misteri Masa Kelam Islam Dan Kemenangan Perang Salib. (Bekasi : Kalam Aulia Mediatama,2007).hal.8

Rabu, 29 Januari 2014

TA'LIM, TARBIYAH, & TA'DIB


Indahnya Hidup Dengan ILMU
“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dengan Tuhanmu-lah yang maha pemurah, yang mengajar manusia dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak di ketahuinya.”
 Dunia pendidikan dalam Islam mendapatkan perhatian yang utama selain masalah ketahuidan. Surat Al-Alaq, sebagai wahyu pertama, secara tersirat menyuruh umat manusia untuk tidak serta merta “beriman” sebelum adanya “ilmu” sehingga orang bertauhid bukanlah tanpa dasar. Ruang “dialogis keimanan” ini memberikan kesempatan kepada manusia untuk berpikir secara”hanif”, tanpa ada paksaan, untuk menerima ketauhidan universal Islam. Pendidikan dalam Islam bukanlah sebuah “transfer of knowledge” semata, pemindahan ilmu dari guru-murid, tanpa adanya dialog-dialog kritis dari kedua belah pihak (guru-murid), sebagaimana digambarkan dalam dialog antara Nabi Muhammad dengan Jibril saat menerima wahyu pertama di gua Hira’. Dengan adanya “umpan balik” antara guru-murid melahirkan berbagai macam konsep-konsep pendidikan dalam Islam, diantaranya: ta’lim, ta’dib dan tarbiyah. Kosep ini semua bermuara pada pendidikan transformatif, pendidikan yang menghantarkan peserta didik menjadi “ahsanu taqwim”. Pengertian ta’lim, ta’dib, dan tarbiyah. Ta’lim, secara bahasa berarti pengajaran (masdar dari ‘alama-yu’alimu-ta’liman), secara istilah berarti pengajaran yang bersifat pemberian atau penyampian pengertian, pengetahuan dan ketrampilan. Menurut Abdul Fattah Jalal, ta’lim merupakan proses pemberian pengatahuan, pemahaman, pengertian, tanggung jawab, sehingga diri manusia itu menjadi suci atau bersih dari segala kotoran sehingga siap menerima hikmah dan mampu mempelajari hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya ( ketrampilan). Mengacu pada definisi ini, ta’lim, berarti adalah usaha terus menerus manusia sejak lahir hingga mati untuk menuju dari posisi ‘tidak tahu’ ke posisi ‘tahu’ seperti yang digambarkan dalam surat An Nahl ayat 78, “dan Allah mengeluarkan dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur”. Ta’dib, merupakan bentuk masdar dari kata addaba-yuaddibu-ta’diban, yang berarti mengajarkan sopan santun. Sedangkan menurut istilah ta’dib diartikan sebagai proses mendidik yang di fokuskan kepada pembinaan dan penyempurnaan akhlak atau budi pekerti pelajar. Menurut Sayed Muhammad An-Nuquib Al-Attas, kata ta’dib adalah pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan kepada manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu dalam tatanan penciptaan sedemikian rupa, sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan kekuasaan dan keagungan Tuhan dalam tatanan wujud keberadaan-Nya. Definisi ini, ta’dib mencakup unsur-unsur pengetahuan (ilmu), pengajaran (ta’lim), pengasuhan (tarbiyah). Oleh sebab itu menurut Sayed An-Nuquib Al Attas, tidak perlu mengacu pada konsep pendidikan dalam Islam sebagai tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib sekaligus. Karena ta’dib adalah istilah yang paling tepat dan cermat untuk menunjukkan dalam arti Islam. Tarbiyah, merupkan bentuk masdar dari kata robba-yurabbi-tarbiyyatan, yang berarti pendidikan. Sedangkan menurut istilah merupakan tindakan mangasuh, mendididk dan memelihara. Muhammad Jamaludi al- Qosimi memberikan pengertian bahwa tarbiyah merupakan proses penyampian sesuatu batas kesempurnaan yang dilakukan secara setahap demi setahap. Sedangkan Al-Asfahani mengartikan tarbiyah sebagai proses menumbuhkan sesuatu secara setahap dan dilakukan sesuai pada batas kemampuan. Menurut pengertian di atas, tarbiyah diperuntukkan khusus bagi manusia yang mempunyai potensi rohani, sedangkan pengertian tarbiyah yang dikaitkan dengan alam raya mempunyai arti pemeliharaan dan memenuhi segala yang dibutuhkan serta menjaga sebab-sebab eksistensinya. Analisis perbandingan antara konsep ta’lim’, ta’dib dan tarbiyah Istilah ta’lim’, ta’dib dan tarbiyah dapatlah diambil suatu analisa. Jika ditinjau dari segi penekanannya terdapat titik perbedaan antara satu dengan lainnya, namun apabila dilihat dari unsur kandungannya, terdapat keterkaitan yang saling mengikat satu sama lain, yakni dalam hal memelihara dan mendidik anak. Dalam ta’lim, titik tekannya adalah penyampain ilmu pengetahuan yang benar, pemahaman, pengertian, tanggung jawab dan penanaman amanah kepada anak. Oleh karena itu ta’lim di sini mencakup aspek-aspek pengetahuan dan ketrampilan yang di butuhkan seseorang dalam hidupnya dan pedoman perilaku yang baik. Sedangkan pada tarbiyah, titik tekannya difokuskan pada bimbingan anak supaya berdaya (punya potensi) dan tumbuh kelengkapan dasarnya serta dapat berkembang secara sempurna. Yaitu pengembangan ilmu dalam diri manusia dan pemupukan akhlak yakni pengalaman ilmu yang benar dalam mendidik pribadi. Adapun ta’dib, titik tekannya adalah pada penguasaan ilmu yang benar dalam diri seseorang agar menghasilkan kemantapan amal dan tingkah laku yang baik. Denga pemaparan ketiga konsep di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa ketiganya mempunyai satu tujuan dalam dunia pendidikan yaitu menghantarkan anak didik menjadi yang “seutuhnya”, perfect man, sehingga mampu mengarungi kehidupan ini dengan baik. waAllahu ‘alam.

ILMU ASAS MEMBANGUN PERADABAN (Ilmu, Ulama, dan Peradaban)

Ilmu Sebagai Asas Membangun Peradaban Islam (Ilmu, Ulama, dan Peradaban) Filsafat sebagai kerangka dasar untuk berfikir memiliki kaitan yang sangat erat dengan ilmu, dengan filsafat manusia dibawa menuju kearah berfikir sistematis, kritis, radikal dan mendalam ketika memahami sesuatu, filsafat mengambil peran penting karena dalam filsafat bisa dijumpai pandangan pandangan tentang apa saja, kemudian mendiskusikannya, menguji kebenarannya, sehingga dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Berbicara mengenai ilmu maka tidak akan lepas dari filsafat, semua ilmu baik ilmu alam, ilmu sosial bertolak dari pengembangannya sebagai filsafat. Filsafat ilmu adalah bagian dari filsafat pengetahuan atau sering juga disebut epistemologi. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa filsafat ilmu adalah dasar yang menjiwai dinamika proses memperoleh pengetahuan. Di dalam Islam ilmu merupakan hal yang sangat dianjurkan, di dalam al Qur’an kata al-ilm dan kata kata jadiannya digunakan lebih dari 780 kali. Hadist juga menyatakan wajib dalam mencari ilmu. Namun kenyataan di kehidupan kita, masih banyak umat Islam yang lalai dalam mencari ilmu sehingga apa yang terjadi sekarang sangat memprihatinkan, keterbelakangan umat Islam dan kemundurannya tidak lepas dari kurangnya semangat dalam mencari ilmu, jika melihat sejarah, umat Islam maju karena ilmu, peradaban Islam tumbuh berkembang dengan pesat dengan ilmu, jadi bisa dikatakan bahwa ilmu adalah asas pencerahan dalam membangun peradaban Islam. Upaya membangun atau mencerahkan peradaban umat Islam sudah seringkali di dengar dan dikumandangkan, namun yang harus dipahami bahwa peradaban dibangun oleh pandangan hidup suatu masyarakat, yang tercermin dalam cara pandang mereka terhadap segala sesuatu, cara pandang ini berakar dari pada ilmu pengetahuan, khususnya tentang manusia dan alam semesta. Oleh sebab itu pandangan hidup juga menentukan sikap seseorang terhadap dirinya dan terhadap alam semesta. Pandangan hidup ini juga memberikan kekuatan moral yang menjadi motor bagi akal dan aksi. Jadi, ilmu adalah akar peradaban dan peradaban adalah buah dari ilmu pengetahuan. Maka dari itu, membangun peradaban sejatinya adalah membentuk manusia yang berilmu pengetahuan alias manusia beradab. Kalaulah disepakati bahwa peradaban Islam dalam sejarahnya bangun dan tegak berbasiskan ilmu pengetahuan, maka membangun kembali peradaban Islam yang sedang nyaris lumpuh adalah dengan menegakkan kembali bangunan ilmu pengetahuan. Karena ilmu dalam Islam adalah prasyarat untuk menguasai dunia, akhirat, dan dunia akhirat sekaligus, maka adalah wajar jika sebab kemunduran umat Islam adalah karena krisis ilmu. Sehubungan dengan itu kurang diperhitungkannya ummat Islam dalam percaturan dunia, dan pudar wibawa para ulama dan intelektual muslim di hadapan umatnya menimbulkan tanda tanya besar, jika kita menengok masa kejayaan dan era kemajuan yang telah dicapai pada masa lalu. Dewasa ini kenangan itu hanya tinggal kenangan manis yang mungkin sulit untuk terulang kembali jika tidak menjauhkan lamunan dan khayalan yang menina bobokan kita dari kesadaran dan realitas yang sebenarnya. Kengan manis itu hanya akan terulang kembali jika kita mau mengintropeksi diri dan menyadari kesalahan yang telah kita perbuat untuk mencari dan menemukan akar penyebabnya. Seringkali kita menyalahkan dan mengkambingkan umat lain atas kemunduran dan kemujudan ini, tanpa kita mau menyalahkan diri kita sendiri. Sebagaiman hal ini disinyalir oleh seorang cendikiawan muslim DR. Mahmus Syaltut, dimana beliau berkata “Islam itu dirintangi dan oleh orang-orang Islam itu sendiri.” Kita terlalu asyik hanyut dalam kenangan manis masa lalu tanpa menjadikannya sebagai cermin dan cambuk untuk meraih kesuksesan di masa sekarang dan masa yang akan datang, bahkan bukan hanya kesuksesan yang bersifat duniawi semata melainkan juga kesuksesan yang bersifat ukhrawi. Seandainya kita mau mengkaji dan meneliti secara seksama, maka sumber kemunduran dan kemujudan ini berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan secara umum dan ilmu agama secara khusus. Sebagaimana hal ini disinyalir oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam dalam salah satu haditsnya,”Barang siapa yang menghendaki dunia, maka hendaknya dengan ilmu, barangsiapa yang menghendaki akhirat, maka hendaknya dengan ilmu, dan barangsiapa yang menghendaki keduanya maka hendaknya dengan ilmu.” Sungguh dalam makna hadits tersebut, sehingga karena penghayatannya yang mendalam dan pengalamannya yang penuh keikhlasan, tidaklah aneh kalau kaum muslimin pada masa dahulu mampu meraih berbagai kesuksesan dan kejayaan di muka bumi ini. Kenyataan yang kita saksikan dewasa ini menjadi bukti yang nyata dan saksi bisu dari kekurangan kita dalam penguasaan ilmu pengetahuan, sehingga dalam kehidupan ini kita tak ubahnya bagaikan orang buta yang berjalan di kegelapan atau orang yang lumpuh yang menyaksikan keramaian, dimana kita berjalan dengan meraba dan tertatih, sementara orang lain berjalan sambil berlari bahkan memakai kendaraan. Kemuduran ini diperparah dengan lunturnya dan hilangnya kewibawaan para ulama dan para ilmuan muslim dewasa ini di hadapan ummatnya, sehingga ummat kehilangan panutan yang mendapat menjadi suri tauladan dalam mengejawantahkan ajaran ilahi dan risalah kenabian. Sumber penyebabnya adalah tercabutnya Nur (cahaya) Ilahi dari lubuk hati mereka, sehingga ilmu yang mereka miliki semata-mata hanya sebagai hiasan bibir yang tidak membias pada perilaku. Ilmu mereka tidak membuahkan perasaan takut kepada Allah dan amal sholeh. Padahal contoh dalam bentuk amal perbuatan jauh lebih baik daripada sebatas ucapan, sebagaimana hal ini telah disebutkan oleh Rasulullah dalam salah satu haditsnya. Demikian juga hal itu telah ditegaskan oleh Allah SWT. Dalam firman-Nya,”Sesungguhnya yang takut kepada Allah Diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.”(Qs. Al-Fathir: 28). Ulama sebagai pelanjut risalah, sangat penting perannya dalam membawa umat kearah kehidupan yang diridhoi Allah, maka untuk mengenali siapa yang pantas dikatakan sebagai orang yang memiliki ilmu kita bisa melihat ungkapan dari Al khalil bin Ahmad, bahwa orang itu terbagi menjadi empat karakter. Pertama, orang yang tahu dan ia tahu bahwa dirinya tahu, dialah orang alim, maka bertanyalah (belajarlah) kepadanya. Kedua, orang yang tahu, tapi ia tidak tahu bahwa dirinya tahu. Inilah orang yang lupa. Maka ingatkanlah ia. Ketiga, orang yang tidak tahu, dan ia tahu bahwa dirinya tidak tahu. Inilah orang yang minta bimbingan, maka bimbinglah ia. Keempat, orang yang tidak tahu, tapi ia tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu, inilah orang bodoh. Maka jangan bergaul dengannya). Dari sini jelaslah bahwa seorang dikatakan ulama adalah orang yang memiliki ilmu dan mengamalkannya, sebagaimana yang dikatakan oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib bahwa,”innamal alim man amila bima alima”. Ini dimaksudkan adalah tujuan daripada ilmu adalah untuk diamalkan, dan amal itu sendiri harus dilandasi oleh ilmu. Melihat hal ini tidak mengherankan jika dalam perjalanannya kontribusi ulama dalam membangun peradaban Islam sangat ditentukan oleh aktifitasnya dalam mencari ilmu, dan bisa dikatakan hal ini sangat menentukan sekali, sebagaimana telah dilakukan oleh para ulama zaman dahulu, jadi, ilmu adalah akar peradaban dan diperlukan orang untuk menjalankannya yaitu ulama, sehingga ilmu yang mereka miliki akan menghasilkan sebuah peradaban Islam yang agung. Wallahu a’lam bissawab

KONSEP PENDIDIKAN KH HASYIM ASY'ARI

Penelusuran terhadap perkembangan peradaban dan kemajuan Islam dalam sejarahnya yang cukup panjang akan menghadapi problematika sendiri ketika tidak mengapresiasi teori-teori dan eksperimen-eksperimen pendidikan Islam. Sebab, pendidikan merupakan elan vital dalam transformasi peradaban umat manusia. Sebagaimana dinyatakan oleh Asma Hasan Fahmi, tokoh pendidikan kontemporer, pendidikan Islam menciptakan kekuatan-kekuatan yang mendorong untuk mencapai tujuan dan sekaligus menentukan perencanaan dan arah tujuan tersebut.[1] Dengan demikian, dinamika sebuah peradaban, mau tidak mau, melibatkan peranan pendidikan, sungguhpun dalam format dan kapasitas yang sederhana. “Apabila orang menganggap peradaban Islam itu sebagai titik perkembangan yang penting dalam sejarah manusia, karena ia mengandung unsur-unsur yang membawa perubahan-perubahan intellectual [intelektual], sosial dan politik, maka demikian pula orang harus melihat kepada pendidikan Islam yang merupakan fundamen bagi perubahan tersebut, dan sebagai pendidikan yang mempunyai pengaruh-pengaruh dan keistimewaan-keistimewaan yang memberi corak-corak yang berbeda dengan pendidikan-pendidikan yang lain”.[2] Para ahli pendidikan Islam telah menyediakan konsep-konsep pendidikannya dalam buku secara utuh atau tulisan yang menjadi bagian dalam tulisan lain, seperti Ibn Khaldun (808 H./1405 M) yang menuangkan pemikiran kependidikannya ke dalam Muqaddimah; al-Nawawi (676 H./1278 H.) dalam Adab al-Dâris wa al-Mudâris; Ibn Sahnûn (wafat 973 H./1274 M.) dalam Kitab Adab al-Mu’allimìn; Ibn Miskawaih dalam Tahdzìb al-Akhlâq; al-Zarnuji (wafat 600 H./1203 M.) dalam Ta’lìm al-Muta’alim Thuruq al-Ta’allum; Ibn Jamâ’ah (733 H./1333 M.) dalam Tadzkirat al-Sâmi’ wa al-Mutakallim fì Adab al-’Alim wa al-Muta’allim, dan sebagainya.[3] Begitupun pada masa modern, tidak sedikit para intelektual muslim yang telah mampu menghadirkan karya-karya besarnya di bidang pendidikan. Sebut saja, di antaranya, KH. Hasyim Asy’ari dengan karyanya, Adab al-’âlim wa al-muta’allim fìmâ yahtâj ihah al-muta’allim fì Ahuwâl ta’allum wa mâ yataqaff ‘alaih al-mu’allim fì maqâmat ta’lìmih. Sungguhpun demikian, pemanfaatan terhadap kajian teoritisasi pendidikan Islam yang dilakukan oleh generasi muslim-akhir sangat minim. Kalangan intelektual muslim agaknya kurang memberi perhatian secara serius terhadap kekayaan Islam itu. Kajian yang lebih intens dilakukan adalah justeru berkutat pada sebuah pengulangan kajian praktis yang menghasilkan teoritisasi yang terbatas, baik dilihat dari sisi ruang maupun waktu. Kurangnya animo intelektual-muslim dalam mengapresiasi khazanah pendidikan tampaknya disebabkan oleh beberapa kemungkinan. Pertama, pengalaman tradisi kependidikan yang berlangsung, terutama, semenjak jatuhnya Baghdad oleh kaum Mongol hingga masa-masa belakangan, kurang memberikan warisan yang menjanjikan bagi pembangunan peradaban. Pada sisi tradisi akademik misalnya, jadal yang pada awalnya didedikasikan sebagai metodologi dalam mencari argumentasi-ilmiah kemudian dijadikan sebagai ajang untuk saling menjatuhkan, sehingga yang terjadi kemudian adalah kalah-menang. Kedua, kecenderungan yang menggejala dalam dunia intelektual-muslim dewasa ini agaknya lebih banyak memfokuskan pada persoalan-persoalan yang memiliki ikatan erat dengan wacana keagamaan. Sementara persoalan pendidikan dipahami sebagai sesuatu yang lain (the other) dari kerangka keagamaan. Ketiga, mungkin sebagai faktor yang paling penting, disiplin kependidikan merupakan bagian ilmu pengetahuan yang kurang memiliki mata rantai yang bertautan dalam proses sejarahnya jika dibanding dengan disiplin ilmu yang lain, seperti ‘ulûm al-Qur’ân, ‘uluûm al-hadîts, dan fiqh. Beberapa alasan di atas agaknya memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap lemahnya perhatian terhadap dunia pendidikan. Melihat kenyataan di atas, tampaknya menjadi urgen jika kemudian segera dilakukan kajian mengenai pendidikan Islam, terutama yang berkaitan dengan khazanah pendidikan Islam. Melalui pengkajian yang dihasilkan tokoh pendidikan dimungkinkan akan menghasilkan tawaran-tawaran konsep pendidikan alternatif untuk perkembangan dewasa ini. Atau paling tidak, khazanah pendidikan itu dapat diapresiasi dengan baik. Tulisan ini sesungguhnya berusaha mengangkat tokoh kependidikan yang hidup pada abad modern dengan obyek kajian KH. Hasyim Asy’ari. Tokoh ini patut diangkat oleh karena memiliki beberapa pertimbangan. Pertama, KH. Hasyim Asy’ari telah menyediakan sebuah risalah kependidikan yang disusun secara khusus, yang berjudul Adab al-’âlim wa al-muta’allim fìmâ yahtâj ilaih al-muta’allim fì Ahwâl ta’allum wa mâ yatawaqaf ‘alaih al-mu’allim fì maqâmat ta’lìmih. Di dalam kitab tersebut, terkandung muatan-muatan kependidikan [Islam] yang patut dipertimbangkan. Kedua, ketokohan KH. Hasyim Asy’ari masih belum banyak dikaji oleh kaum intelektual. Padahal, ia merupakan salah satu tokoh yang memiliki pengaruh cukup kuat pada zamannya. Ketiga, karya kependidikan KH. Hasyim Asy’ari, Adab al-’âlim wa al-muta’allim’, dalam banyak hal, terutama sistematika dan redaksinya, memiliki sejumlah kesamaan dengan karya Ibn Jamâ’ah, Tadzkirat al-Sâmi’.[4] Misalnya, dalam etika bagi peserta didik terhadap dirinya, Ibn Jamâ’ah dan Hâsyim Asy’âri sama-sama menyebutkan sepuluh hal, yakni menyucikan jiwa dari hal-hal yang kotor, niat mencari ilmu karena Allah, bukan karena materi, menggunakan kesempatan untuk meraih ilmu pengetahuan, qanâ’ah dan sabar, membagi waktu dengan baik, mengurangi makan dan minum, hati-hati dalam berperilaku, mengurangi makanan yang menyebabkan kebodohan dan kelemahan, mengurangi tidur, dan menjauhi pergaulan dengan lawan jenis.[5] Beberapa kesamaan ini, pada sisi tertentu, menunjukkan kemungkinan adanya afinitas ilmiah atau unsur lain yang membuat kemiripan itu terjadi. Akan tetapi, pada sisi lain, karya KH. Hasyim Asy’âri ini mendeskripsikan cukup menarik jika kemudian dikaji. K.H. Hasyim Asy’ari: Sketsa Biografis Nama lengkap KH. Hasyim Asy’ari adalah Muhammad Hasyim Asy’ari ibn ‘Abd al-Wahid ibn ‘Abd al-Halim–yang mempunyai gelar Pangeran Bona–ibn Abd al-Rahman–yang dikenal dengan Jaka Tingkir Sultan Hadiwijoyo–ibn Abdullah ibn Abdu al-’Aziz ibn Abd al-Fatih ibn Maulana Ishaq dari Raden ‘Ain al-Yaqin–yang disebut dengan Sunan Giri.[6] Ia lahir di Gedang, sebuah desa di daerah Jombang, Jawa Timur, pada hari Selasa Kliwon 24 Dzulqa’dah 1287 H. bertepatan dengan tanggal 14 Pebruari 1871.[7] KH. Hasyim Asy’ari wafat pada jam 03.45 dini hari tanggal 25 Juli 1947 bertepatan dengan 7 Ramadhan tahun 1366 dalam usia 79 tahun.[8] Semasa hidupnya, ia mendapatkan pendidikan dari ayahnya sendiri, terutama pendidikan di bidang ilmu-ilmu al-Quran dan literatur agama lainnya. Setelah itu, ia menjelajah menuntut ilmu ke berbagai pondok pesantren, terutama di Jawa, yang meliputi Shona, Siwalan Buduran, Langitan Tuban, Demangan Bangkalan, dan Sidoarjo. Setelah lama menimba ilmu di pondok pesantren Sidoarjo, ternyata KH. Hasyim Asy’ari merasa terkesan untuk terus melanjutkan studinya. Ia berguru kepada KH. Ya’kub yang merupakan kyai di pesantren tersebut. Kyai Ya’kub lambat laun merasakan kebaikan dan ketulusan Hasyim Asy’ari dalam perilaku kesehariannya, sehingga kemudian ia menjodohkannya dengan puterinya, Khadijah.[9] Tepat pada usia 21 tahun, tahun 1892, Hasyim Asy’ari melangsungkan pernikahan dengan putri KH. Ya’kub tersebut. Setelah nikah, KH. Hasyim Asy’ari bersama isterinya segera melakukan ibadah haji. Sekembalinya dari tanah suci, mertua KH. Hasyim Asy’ari menganjurkannya untuk menuntut ilmu di Mekkah. Dimungkinkan, hal ini didorong oleh tradisi pada saat itu bahwa seorang ulama belumlah dikatakan cukup ilmunya jika belum mengaji di Mekkah selama bertahun-tahun. Di tempat itu, KH. Hasyim Asy’ari mempelajari berbagai macam disiplin ilmu, di antaranya adalah ilmu fiqh Syâfi’iyah dan ilmu hadits, terutama literatur Shahih Bukhari dan Muslim. Di saat KH. Hasyim Asy’ari bersemangat belajar, tepatnya ketika telah menetap 7 bulan di Makkah, isterinya meninggal dunia pada waktu melahirkan anaknya yang pertama sehingga bayinya pun tidak terselamatkan. Sungguhpun demikian, hal ini tidak mematahkan semangat belajarnya untuk menuntut ilmu. KH. Hasyim Asy’ari semasa tinggal di Mekkah berguru kepada Syeikh Ahmad Amin al-Athar, Sayyid Sultan ibn Hasyim, Sayyid Ahmad ibn Hasan al-Atthar, Syeikh Sayid Yamay, Sayyid Alawi ibn Ahmad al-Saqqaf, Sayyid Abbas Maliki, Sayid Abdullah al-Zawawy, Syeikh Shaleh Bafadhal, dan Syekh Sultan Hasyim Dagastani.[10] Ia tinggal di Mekkah selama 7 tahun dan pada tahun 1900 M. atau 1314 H. KH. Hasyim Asy’ari pulang ke kampung halamannya. Di tempat itu, ia membuka pengajian keagamaan yang dalam waktu relatif singkat menjadi terkenal di wilayah Jawa. Keberhasilan KH. Hasyim Asy’âri dalam membuka kajian keagamaan ini didukung oleh faktor kepribadiannya yang luhur dan pantang putus asa, disamping ia memiliki kekuatan spiritual, karamah (keajaiban yang dimiliki oleh seorang wali). James Fox, seorang antropolog dari Australian National Universtity (ANU), menganggap KH. Hasyim Asy’âri seorang wali, sebagaimana dalam tulisannya: “… Jika kiai pandai masih dianggap sebagai wali, ada satu figur dalam sejarah Jawa kini yang dapat menjadi kandidat utama untuk peran wali. Ini adalah ulama besar, Hadratus Syaikh—kiai Hashim Ash’ari [Hasyim Asy’âri]… Memiliki ilmu dan dipandang sebagai sumber berkah bagi mereka yang mengetahuinya, Hasyim Asy’ari semasa hidupnya menjadi pusat pertalian yang menghubungkan para kiai utama seluruh Jawa. Kiai Hasyim juga dianggap memiliki keistimewaan luar biasa. Menurut garis keturunannya, tidak saja ia berasal dari garis keturunan ulama pandai, dia juga keturunan Prabu Brawijaya.”[11] Bagi Hasyim Asy’ari, semangat mengembangkan ilmu pengetahuan tidak ada putus-putusnya. Ia selalu merasa tidak puas terhadap apa yang dicapai pada saat itu. Semangat ini kemudian mendorong Hasyim Asy’ari untuk berpindah ke tempat lain. Akhirnya, ia memilih daerah yang penuh dengan tantangan dan dikenal sebagai daerah “hitam”. Tepat pada tanggal 26 Rabi’ al-Awwal 120 H. bertepatan 6 Pebruari 1906 M., Hasyim Asy’ari mendirikan pondok pesantren Tebuireng. Di pesantren inilah KH. Hasyim Asy’ari banyak melakukan aktivitas-aktivitas kemanusiaan sehingga ia tidak hanya berperan sebagai pimpinan pesantren secara formal, tetapi juga pemimpin masyarakat secara informal. Sebagai pemimpin pesantren, KH. Hasyim Asy’âri melakukan pengembangan institusi pesantrennya, termasuk mengadakan pembaharuan sistem dan kurikulum belajar. Jika pada saat itu pesantren hanya mengembangkan sistem halaqah, maka KH. Hasyim Asy’âri memperkenalkan sistem belajar madrasah dan memasukkan kurikulum pendidikan umum, di samping pendidikan keagamaan. Patut diketahui bahwa sistem madrasah dan memasukan kurikulum pendidikan umum di dalam pesantren ini merupakan sesuatu yang relatif baru dalam dunia pendidikan pesantren pada saat itu. Sedangkan perannya sebagai pemimpin informal, KH. Hasyim Asy’âri memberikan bantuan pengobatan kepada masyarakat yang membutuhkan, termasuk juga kepada keturunan Belanda.[12] Aktivitas KH. Hasyim Asy’ari di bidang sosial lainnya adalah mendirikan organisasi Nahdlatul Ulama, bersama dengan ulama besar di Jawa lainnya, seperti Syekh Abdul Wahhab dan Syekh Bishri Syansuri, pada tanggal 31 Januari 1926 atau 16 Rajab 1344 H.[13] Organisasi ini didukung oleh para ulama, terutama ulama Jawa, dan komunitas pesantren. Memang pada awalnya, organisasi ini dikembangkan untuk meresponi wacana khilafah dan gerakan purifikasi yang ketika itu dikembangkan Rasyid Ridla di Mesir, tetapi pada perkembangannya kemudian organisasi itu melakukan rekonstruksi sosial keagamaan yang lebih umum. Bahkan, dewasa ini, Nahdlatul Ulama berkembang menjadi organisasi sosial keagamaan terbesar di Indonesia. Sebagai seorang intelektual, KH. Hasyim Asy’ari telah menyumbangkan banyak hal yang berharga bagi pengembangan peradaban, di antaranya adalah sejumlah literatur yang berhasil ditulisnya. Karya-karya tulis KH. Hasyim Asy’ari yang terkenal adalah sebagai berikut. 1. Adab al-’âlim wa al-muta’allim fìmâ yahtâj ilaih al-muta’allim fì Ahwâl ta’allum wa mâ yatawaqaf ‘alaih al-mu’allim fì maqâmat ta’lìmih. 2. Ziyâdat ta’lìqât, radda fìhâ manzhûmat al-syaikh ‘Abd Allâh bin Yâsìn al-Fâsûrâni allatì bihujûbihâ ‘alâ Ahl Jam’iyyah Nahdlat al-’Ulamâ. 3. al-Tanbihât al-wâjibât liman yashna’ al-maulid al-munkarât. 4. al-Risâlat al-jâmi’at, sharh fìhâ ahwâal al-mautâ wa asyrâth al-sâ’at ma’ bayân mafhûm al-sunnah wa al-bid’ah. 5. al-Nûr al-mubìn fì mahabbah sayyid al-mursalìn, bain fìhi ma’nâ al-mahabbah lirasûl Allâh ma wâ yata’allaq bihâ man itttbâ’ihâ wa ihyâ al-sunnatih. 6. Hâsyiyah ‘al¬â fath al-rahmân bi syarh risâlat al-walì Ruslân li syaikh al-Isâm Zakariyâ al-Anshâri. 7. al-Durr al-muntatsirah fì al-masâil al-tis’i ‘asyrat, sharh fìhâ masalat al-thâriqah wa al-wil¬âyah wa mâ yata’allaq bihimâ min al-umûr al-muhimmah li ahl al-tharìqah. 8. al-Tibyân fì al-nahy ‘an muqâthi’ah al-ikhwân, bain fìh ahammiyat shillat al-rahim wa dharur qath’ihâ. 9. al-Risâlat al-tauhìdiyah, wahiya risâlah shaghìrat fì bayân ‘aqìdah ahl al-sunnah wa al-jamâ’ah. 10. al-Qalâid fì bayân mâ yajib min al-’aqâid. Akan tetapi, cukup disayangkan bahwa sejumlah karya KH. Hasyim Asy’âri itu tidak seluruhnya dapat diperoleh oleh masyarakat umum secara bebas. Ada sebagian karya-karyanya yang belum dipublikasikan. Dimungkinkan karya-karya yang belum dipublikasikan itu disebabkan oleh sistem dokumentasi yang kurang maksimal. Terbukti, perhatian organisasi ke-NU-an kurang terlihat dalam mendokumentasikan dan mempublikasikan karya-karya KH. Hasyim Asy’ari, yang merupakan founding father NU. Sungguhpun demikian, dari sebagian karya KH. Hasyim Asy’âri dan data-data yang tersedia itu cukup memberikan ketertarikan bagi sebagian intelektual untuk melakukan penelitian dari berbagai perspektif. Terbukti terdapatnya penelitian yang memfokuskan baik pada ketokohan KH. Hasyim Asy’âri maupun pada pemikirannya yang relatif banyak. Bahkan, penelitian itu tidak hanya dilakukan di dalam negeri an sich, tetapi juga di luar negeri. Karya Kependidikan: Adab al-’âlim wa al-Muta’allim Kitab Adab al-’âlim wa al-Muta’allim merupakan kitab yang berisi tentang konsep pendidikan. Kitab ini selesai disusun hari Ahad pada tanggal 22 Jumaday al-Tsâni tahun 1343 H.[14] KH. Hasyim Asy’ari menulis kitab ini didasari oleh kesadaran akan perlunya literatur yang membahas tentang etika (adab) dalam mencari ilmu pengetahuan. Menuntut ilmu merupakan pekerjaan agama yang sangat luhur sehingga orang yang mencarinya harus memperlihatkan etika-etika yang luhur pula.[15] Dalam konteks ini, KH. Hasyim Asy’âri tampaknya berkeinginan bahwa dalam melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan itu disertai oleh perilaku sosial yang santun (al-akhlâq al-karîmah). Memang, konsep kependidikan yang bertitik tolak pada etika, termasuk karya KH. Hasyim Asy’âri, ini kurang menjanjikan bagi pengembangan nalar yang kritis. Hal ini lebih disebabkan oleh titik sentral antara akhlak yang luhur dan nalar yang kritis berseberangan secara diametral. Akhlak lebih dibanyak ditentukan oleh faktor keyakinan (hati), sebagai sumber berperilaku, sedangkan nalar beranjak dari akal pikiran (ratio). Keduanya, hati dan akal pada akhirnya akan menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang berbeda. Kitab Adab al-’âlim wa al-muta’allim ini, secara keseluruhan, terdiri atas delapan bab yang masing-masing membahas tentang keutamaan ilmu dan ilmuwan serta pembelajaran, etika yang mesti dicamkan dalam belajar, etika seorang murid terhadap guru, etika murid terhadap pelajaran dan hal-hal yang harus dipedomani bersama guru, etika yang harus diperhatikan bagi guru, etika guru ketika dan akan mengajar, etika guru terhadap murid-muridnya, etika menggunakan literatur, dan alat-alat yang digunakan dalam belajar. Kedelapan bab tersebut sesungguhnya dapat diklasifikasikan menjadi tiga bagian penting, yakni signifkansi pendidikan, tanggung jawab dan tugas murid, serta tanggung jawab dan tugas guru. Bagi kalangan pesantren, kitab ini bukanlah literatur baru yang mereka jumpai. Terutama di pesantern-pesantren Jawa Timur, kitab Adab al-’âlim wa al-muta’allim ini menjadi buku dars yang selalu dikaji. Buku ini telah dicetak dalam jumlah yang relatif banyak yang untuk terbitan pertama dicetak tahun 1415 H. oleh maktabah al-turâts al-islâmiy pondok pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Secara akademis, sudah ada yang meneliti karya KH. Hasyim Asy’ari ini namun masih dalam jumlah yang relatif minim. Sejauh penelusuran penulis, paling tidak ada dua penelitian yang telah dilakukan untuk kepentingan penyelesaian tesis di program pascasarjana (S2) IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, yang memfokuskan pada kitab ini. Kedua penelitian tersebut adalah Maslani, M.Ag. dengan judul penelitian “Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari dalam Karyanya Adab al-’âlim wa al-muta’allim: Suatu Upaya Pengungkapan Belajar-Mengajar” tahun 1997 dan Nurdin, M.Ag. dengan judul penelitian “Etika Belajar Mengajar: Telaah Kritis atas Konsep Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari dalam Kitab Adab al-’âlim wa al-muta’allim” tahun 1999. Pada penelitian pertama, pembahasan tampaknya lebih banyak difokuskan pada teoritisasi mengenai signifikansi pendidikan dan tugas serta tanggung jawab bagi murid dan guru.[16] Sedangkan penelitian terakhir menelusuri konsep etika belajar mengajar dalam perspektif KH. Hasyim Asy’ari dan implikasinya bagi dunia pendidikan Islam.[17] Karakteristik Pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari Hasan Langgulung membuat polarisasi terhadap karakteristik pemikiran pendidikan. Polarisasi itu didasarkan atas literatur-literatur kependidikan yang ditulis oleh sejumlah penulis-muslim. Menurutnya, ada empat corak pemikiran kependidikan Islam yang dapat dipahami. Pertama, corak pemikiran pendidikan yang awalnya adalah sajian dalam spesifikasi fiqh, tafsir dan hadits yang kemudian mendapat perhatian tersendiri dengan mengembangkan aspek-aspek pendidikan. Model ini diwakili oleh Ibn Hazm (384-456 H.) dengan karyanya Kitâb al-Mufashshal fì al-Milal wa al-Ahwa wa al-Nihal. Kedua, corak pemikiran pendidikan yang bermuatan sastra. Contohnya adalah Abdullah ibn Muqaffa (106-142 H./724-759 M.) dengan karyanya Risalat al-Shahâbah dan al-Jâhiz (160-255 H./755-868 M.) dengan karyanya al-Tâj fì Akhlâk al-Muluk. Ketiga, corak pemikiran pendidikan filosofis. Contohnya adalah corak pendidikan yang dikembangkan oleh aliran Mu’tazilah, Ikhwân al-Shafa dan para filosof. Keempat, pemikiran pendidikan Islam yang berdiri sendiri dan berlainan dengan beberapa corak di atas, tetapi ia tetap berpegang pada semangat al-Quran dan hadits. Corak yang terakhir ini terlihat pada karya Muhammad ibn Sahnûn (wafat 256 H./871 M.) dengan karyanya Adab al-Mu’allim, dan Burhan al-Dìn al-Zarnuji (wafat 571 atau 591 H.) dengan karyanya Ta’lìm al-Muta’allim Thariq al-Ta’allum.[18] Jika mengacu pada tawaran Hasan Langgulung di atas maka tampaknya Adab al-âlim wa al-muta’allim dapat digolongkan pada corak terakhir. Hal ini didasarkan atas kenyataan yang ada dalam kitab tersebut yang tidak memuat kajian-kajian dalam spesifikasi fiqh, sastera, dan filsafat. Kitab ini semata-mata memberi petunjuk praktis bagi orang-orang yang terlibat dalam proses pendidikan. Selain itu, Adab al-âlim wa al-muta’allim mempunyai banyak kesamaan dengan Ta’lîm al-Muta’allim karya al-Zarnuji dan lebih-lebih dengan Tadzkirat al-Sâmi’ wa al-Mutakalim fì Adab al-’âlim wa al-muta’allim karya Ibn Jamâ’ah. Kesamaan ini paling tidak adalah pada tingkat sama-sama membahas secara khusus ide-ide kependidikan dengan mengutip pandangan sejumlah ulama. Di sisi lain, karakter pemikiran pendidikan KH. Hasyim Asy’ari dapat dimasukkan ke dalam garis madzhab Syafi’iyah. Bukti yang cukup kuat untuk menunjukkan hal itu adalah banyaknya ulama syafi’iyah, termasuk Imam al-Syafi’i sendiri, yang sering kali dikutip oleh penulis kitab ini ketimbang ulama madzhab lain. Dengan pengungkapan ide-ide madzhab yang dianutnya, menurut ‘Abd al-Mu’idz Khan, pasti mempengaruhi pemikirannya tentang pendidikan.[19] Kecenderungan lain dalam pemikiran KH. Hasyim Asy’ari adalah mengetengahkan nilai-nilai estetis yang bernafaskan sufistik. Kecenderungan ini dapat terbaca dalam gagasan-gagasannya, misalnya dalam keutamaan menuntut ilmu. Untuk mendukung itu dapat dikemukakan bahwa bagi KH Hasyim Asy’ari keutamaan ilmu yang sangat istimewa adalah bagi orang yang benar-benar li Allâh ta’âla. Kemudian, ilmu dapat diraih jika jiwa orang yang mencari ilmu tersebut suci dan bersih dari segala sifat yang jahat dan aspek-aspek keduniawian.[20] Kecenderungan demikian agaknya lebih didominasi oleh pemikiran KH. Hasyim Asy’âri yang juga menekankan pada dimensi sufistik sehingga cukup kentara nuansa-nuansa demikian pada karyanya itu. Bahkan, kecenderungan ini merupakan wacana umum bagi literatur-literatur kitab kuning yang tidak bisa dihindari dari persoalan-persoalan sufistik, yang secara umum merupakan bentuk replikasi atas prinsip-prinsip sufisme al-Ghazali. Signifikansi Pendidikan Sisi pendidikan yang cukup menarik perhatian dalam konsep pendidikan KH. Hasyim Asy’ari adalah sikapnya yang sangat mementingkan ilmu dan pengajaran. Kekuatan dalam hal ini terlihat pada penekanannya bahwa eksistensi ulama, sebagai orang yang memiliki ilmu, menduduki tempat yang tinggi. Karena itu, dalam bab pertama kitab Adab al-’âlim wa al-muta’allim, KH. Hasyim Asy’ari mengawali pembahasannya mengenai hal itu dengan urutan-urutan argumentasi nash (al-Quran) kemudian hadits dan pendapat para ulama. KH. Hasyim Asy’ari memaparkan tingginya status penuntut ilmu dan ulama dengan mengetengahkan dalil bahwa Allah mengangkat derajat orang yang berilmu dan beriman.[21] Di tempat lain, KH. Hasyim Asy’ari menggabungkan surat al-Fathir (Q.S. 35) ayat 8 dan surat al-Bayinah (Q.S. 89) ayat 7-8. Premis dalam surat pertama menyatakan bahwa ulama merupakan makhluk yang paling takut kepada Allah, sedangkan pada surat kedua dinyatakan bahwa orang yang takut kepada Allah adalah makhluk yang terbaik. Kedua premis ini kemudian memberi sebuah konklusi bahwa ulama merupakan makhluk yang terbaik di sisi Allah (khair al-bariyyah). Dalam memahami tesis di atas, KH. Hasyim Asy’âri sesungguhnya berusaha mengedepankan pemikiran bahwa dalam menghadapi segala persoalan hendaknya dimulai dari paradigma normatif yang bersumbu pada titik sentral ketuhanan. Paradigma ini diasumsikan akan mampu menyelesaikan persoalan-persoalan secara tuntas dan tidak menimbulkan spekulasi yang berkepanjangan. Dimensi ketuhanan hendaknya mampu menjelma pada partikulasi-partikkulasi, terutama dalam perilaku sosial, sehingga secara kesuluruhan menunjukkan satu bingkaian yang utuh. Tampaknya, KH. Hasyim Asy’âri berkeyakinan bahwa orang yang mampu menunjukkan integritas dalam berperilaku adalah makhluk Tuhan yang terbaik. Ketegasan tingginya derajat orang yang berilmu ini seringkali diulang, misalnya dengan argumentasi hadits “al-’ulamâ waratsat al-anbiyâ”, [ulama adalah pewaris Nabi]. Hadits ini sesungguhnya menyatakan secara jelas bahwa derajat para ulama adalah setingkat lebih rendah di bawah derajat para Nabi. Sementara menurut KH. Hasyim Asy’ari, tidak ada derajat yang lebih mulia daripada derajat Nabi. Oleh karena itu, derajat ahli ibadah lebih rendah daripada ulama. Bahkan, KH. Hasyim Asy’ari sering mengutip hadits dan pendapat ulama serta menyatakan pendapatnya tentang perbandingan ibadah dengan ilmu. Menurut Nabi, tingginya derajat ulama jika dibanding dengan ahli ibadah, pertama, bagaikan utamanya Nabi dibanding dengan manusia selainnya, kedua, bagaikan terangnya bulan purnama dibanding dengan cahaya bintang, dan ketiga, bagi setan lebih sulit menggoda seorang cendekiawan daripada menggoda seorang cendekiawan daripada seribu ahl ibadah.[22] Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari di atas tampaknya mengikuti pemikiran tokoh-tokoh Islam terkemuka, seperti al-Ghazali. Sebab, pemikiran KH. Hasyim Asy’ari ini sama dengan hirarki yang dibuat oleh al-Ghazali, yakni ahl al-ilm lebih utama daripada ahl al-ibadah, dengan menyajikan alasan-alasan ayat al-Quran, hadits, dan pendapat para ulama.[23] Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari ini tampaknya menyiratkan sebuah pengertian bahwa yang menjadi sentral pendidikan adalah hati. Penekanan pada hati ini dengan sendirinya membedakan diri dari corak pemikiran pendidikan progresivisme dan essensialisme. Aliran progresivisme–yang dipelopori oleh John Dewey–menyatakan bahwa sentral pendidikan adalah pikiran dan kecerdasan. Pikiran dan kecerdasan ini merupakan motor penggerak dan penentu ke arah kemajuan sekaligus penuntun bagi subyek untuk mampu menghayati dan menjalankan sebuah program.[24] Dengan demikin, aliran progresivisme menitikberakan pada aspek kecerdasan. Sedangkan aliran essensialisme menyatakan bahwa materi utamalah yang menentukan dan memantapkan pikiran serta kecerdasan manusia. Materi (bahan pengajaran) itulah yang sekaligus menjadi unsur-unsur yang hakiki dalam sebuah perkembangan peradaban dan kebudayaan.[25] Atas dasar klasifikasi tersebut, menjadi semakin jelas bahwa KH. Hâsyim Asy’ari menempatkan corak kependidikannya sebagai corak yang berbeda dari corak-corak kependidikan yang lain, yakni tidaklah bercorak progressif ataupun esensialis. Perbedaan-perbedaan ini dimungkinkan oleh karena adanya titik pandang yang tidak sama dalam memahami manusia. Baik aliran progresivisme maupun essensialisme, sama-sama mendasarkan pandangannya pada penelitian-penelitian yang bersifat fisik-empiris. Sedangkan KH. Hasyim Asy’ari–yang identik dengan pemikiran al-Ghazali–menyimpulkan bahwa substansi manusia bukan terletak pada usur fisiknya, tetapi pada hatinya. Sebagai pandangan kependidikan yang didasarkan atas hati, memang dengan sendirinya akan menghadapi kesulitan tersendiri, terutama dikontekskan dalam usaha verifikasi dan pembuktian ilmiah. Sebab, usaha verifikasi dan pembuktian ilmiah membutuhkan kerangka empris sehingga agak sulit untuk mencari titik temunya. Kecenderungan para filosof Barat dalam memandang manusia lebih banyak dari sisi antroposentris, sedangkan filosof Islam–dalam hal ini, misalnya, al-Ghazali—memandangnya dari sisi theosentris. Dengan demikian, dalam pendidikan Islam, tugas pendidik tidak hanya mencerdaskan pikiran–sebagaimana aliran progresivisme–atau menyiapkan bahan pengajaran yang baik–sebagaimana aliran essensialisme–melainkan juga pada bagaimana membimbing, mengarahkan, dan menuntun hati agar dekat kepada Allah.[26] Sungguhpun demikian, dalam kenyataan banyak dijumpai bahwa tugas kependidikan lebih banyak difokuskan pada aspek yang terakhir itu, yakni bagaimana membentuk orang-orang yang shaleh dalam perspektif Tuhan, tentunya Tuhan dalam sesuatu yang dipahaminya. Sementara aspek yang lain, yang tidak kalah pentingnya, yakni penguatan kecerdasan dan penguasaan materi pelajaran, menjadi terabaikan. Hal ini dimungkinkan oleh berbagai hal, di antaranya adalah cukup intennya intervensi pemahaman keagamaan yang kurang memberi penghargaan terhadap aspek kecerdasan dalam aplikasi kependidikan. Kenyataan ini semakin mempermudah dalam menafikan dimensi-dimensi kependidikan yang kritis. Relasi Peserta Didik-Pendidik Untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat, KH. Hasyim Asy’ari menyarankan kepada peserta didik untuk memperhatikan sepuluh etika yang mesti dicamkan ketika belajar. Kesepuluh etika itu di antaranya adalah membersihkan hati dari berbagai penyakit hati dan keimanan, memiliki niat yang tulus–bukan mengharapkan sesuatu yang material–, memanfaatkan waktu dengan baik, bersabar dan memiliki sikap qanaah, pandai membagi waktu, tidak terlalu banyak makan dan minum, bersikap hati-hati, menghindari dari makanan yang menyebabkan kemalasan dan kebodohan, tidak memperbanyak tidur, dan menghindari dari hal-hal yang kurang bermanfaat. Untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang baik, peserta didik mesti memilih dan mengikuti pendidik yang baik pula. Dalam hal ini, perlu adanya batasan atau karakteristik pendidik yang baik. KH. Hasyim Asyari menyebutkan ciri-ciri tersebut, yaitu cakap dan profesional (kalimaat ahliyatuh), kasih sayang (tahaqqaqat syafaqatuh), berwibawa (zhaharat muru’atuh), menjaga diri dari hal-hal yang merendahkan martabat (‘urifat iffatuh), berkarya (isytaharat shiyânatuh), pandai mengajar (ahsan ta’lìm), dan berwawasan luas (ajwa tafhîm). Kehati-hatian dalam memilih pendidik ini didasarkan atas pandangannya bahwa ilmu itu sama dengan agama. Oleh karena itu, peserta didik harus tahu dari mana agama itu diperoleh.[27] Tentu saja, persyaratan-persyaratan itu tidak selamanya secara keseluruhan ditemukan dalam seorang guru. Adanya persyaratan-persyaratan itu tampaknya lebih difokuskan pada kerangka yang dapat menuntun peserta agar kritis-selektif dalam memilih guru sehingga proses pengalaman kependidikannya nanti dapat memberi hasil. Peserta didik harus memiliki anggapan (image) dalam dirinya bahwa pendidik itu mempunyai kelebihan tersendiri dan sangat berwibawa, sehingga peserta didik harus mengetahui dan mengamalkan etika berbicara dengan pendidik. Bahkan, ketika peserta didik berangkat ke pendidik hendaknya bersedekah dan berdoa terlebih dahulu untuk pendidik.[28] Peserta didik harus senantiasa sabar terhadap segala kekasaran dan kesalahan pendidik, selama tidak menjadi kebiasaan dan tidak menggoyahkan keimanan. Meski sikap yang ditampilkan pendidik tidak mencerminkan etika dan akhlak yang luhur, tetapi bagi peserta didik hendaknya menyikapiya dengan arif. Sebab, respon demikian memberi kebahagiaan dan menjaga perasaan pendidik, di samping ilmu yang didapat lebih bermanfaat baik di dunia maupun di akhirat.[29] Perspektif demikian agaknya lebih banyak didukung oleh asumsi-asumsi bahwa guru merupakan sosok yang patut digugu dan ditiru sementara peserta didik didudukkan sebagai orang yang belum memiliki kecakapan-kecakapan tertentu sehingga masih menergantungkan pada guru itu. Pola hubungan antara peserta didik dengan pendidik seperti yang dikembangkan KH. Hasyim Asy’ari di atas agaknya menyiratkan pada sebuah pemahaman bahwa pendidikan itu lebih banyak ditekankan oleh aspek guru. Guru tidak hanya sebagai transmitor pengetahuan (knowledge) kepada peserta didik, tetapi juga pihak yang memberi pengaruh secara signifikan terhadap pembentukan perilaku (etika) peserta didik. Akhir Tulisan di atas memperlihatkan bahwa KH. Hasyim Asy’ari merupakan tokoh pendidikan yang dibuktikan dengan karyanya berjudul Adab al-’âlim wa al-muta’allim. Dalam karyanya itu, KH. Hasyim Asy’ari cenderung lebih menekankan pada unsur hati sebagai titik tolak pendidikannya. Sebab, hatilah yang mendorong sebuah etika itu muncul. Kecenderungan pada aspek hati ini dengan sendirinya membedakan diri dari corak pemikiran pendidikan yang lain, seperti aliran progresivisme dan essensialisme. Di samping itu, KH. Hasyim Asy’ari memandang pendidik sebagai pihak yang sangat penting dalam pendidikan. Baginya, guru adalah sosok yang mampu mentransmisikan ilmu pengetahuan di samping pembentuk sikap dan etika peserta didik. Wa Allâh a’lam.[] Daftar Pustaka Aceh, Abubakar. 1975. Sejarah Hidup KH A Wahid Hasyim dan Karangan Tersiar. Jakarta: Panitia Buku Peringatan KH A Wahid Hasyim. Adnan, Abdul Basit. 1982. Kemelut di NU: Antara Kyai dan Politisi. Solo: Mayasari. Asy’ari, K.H. Hasyim. 1415. Adab al-’âlim wa al-muta’allim fìmâ yahtâj ilaih al-muta’allim fì Ahwâl ta’allum wa mâ yatawaqaf ‘alaih al-mu’allim fì maqâmat ta’lìmih. Jombang: Turâts al-Islâmiy. Barnadib, Imam. 1986. Filsafat Pendidikan Suatu Tinjauan. Yogyakarta: Andi Offset. Bruinessen, Martin van. 1994. NU: Tradisi, Relasi-relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru (terj. Farid Wajidi). Yogyakarta: LKiS. Fahmi, Asmâ Hasan. 1979. Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam (terj. Ibrahim Husein). Jakarta: Bulan Bintang. al-Ghazali, Abu Hamid. 1939. Ihyâ ‘Ulûm al-Dìn (juz I). Kairo: Mushthafa al-Bâbi al-Halabi. al-Kinâni, Badr al-Dìn ibn Jamâ’ah. 1354. Tadzkirat al-sâmi’ fì adab al-’âlim wa al-muta’allim. Beirut: Dâr al-Ma’ârif. Langgulung, Hasan. 1992. Asas-asas Pendidikan Islam (cet. ke-2). Jakarta: Pustaka al-Husna. Maslani. 1997. “Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari dalam Karyanya Adab al-’âlim wa al-muta’allim: Suatu Upaya Pengungkapan Belajar-Mengajar,” Tesis. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga. Mochtar, Affandi. 1993. “The Method of Muslim Learning as Illustrated in al-Zarnuji’s Ta’lim al-Muta’allim Tariq al-Ta’allum,” Tesis. Montreal: McGill University. Nakosteen, Mehdi. 1964. History of Islamic Origins of Western Education A.D. 800-1350 with an Introduction to Medieval Muslim Education. Colorado: University of Colorado Press. Nugraha, Ridjaluddin Fadjar. 1983. “Peranan KH Hasyim Asy’ari dalam Kebangkitan Islam di Indonesia,” Skripsi. Jakarta: IAIN Syarif Hidayatullah. Nurdin. 1999. “Etika Belajar Mengajar: Telaah Kritis atas Konsep Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari dalam Kitab Adab al-’âlim wa al-muta’allim,” Tesis. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga. Syihab, Muhammad Asad. 1994. Hadlratussyaikh Muhammad Hasyim Asy’ari. Yogyakarta: Titian Ilahi Press. ________________________________________ [1] Asmâ Hasan Fahmi, “Mabâdi al-Tarbiyah al-Islâmiyah” diterjemahkan oleh Ibrahim Husein, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), cet. ke-1, h. 7. [2] Ibid. [3] Informasi mengenai para penulis pendidikan abad pertengahan dan karyanya dapat dilihat pada Mehdi Nakosteen, History of Islamic Origins of Western Education AD. 800-1350 with an Introduction to Medieval Muslim Education, (Colorado: University of Colorado Press, 1964), h. 75-106. [4] Badr al-Dìn Ibn Jamâ’ah al-Kinâni, Tadzkirat al-sâmi’ fì adab al-’âlim wa al-muta’allim, (Beirut: Dâr al-Ma’ârif, 1354 H.) [5] Baca Ibid., hal. 67-85 dan Muhammad Hâsyim Asy’âri, Adab al-‘Âlîm wa al-Muta’allim fî mâ Yahtâj ilaih al-Muta’allim fî Ahwâl Ta’lîmih wa mâ Yatawaqaf ‘alaih al-Mu’allim fî Maqâmât Ta’lîmih, (Jombang: Maktabah al-Turâts al-Islâmy, pondok pesantren Tebu Ireng, 1415 H.), hal. 24-28. [6] KH. Hasyim Asy’ari, ibid., h. 3. [7] Ibid. Baca juga, Ridjaluddin Fadjar Nugraha, “Peranan KH Hasyim Asy’ari dalam Kebangkitan Islam di Indonesia”, Skripsi, (Jakarta: IAIN Syarif Hidayatullah, 1983), h.7 [8] Muhammad Asad Syihab, Hadlratussyaikh Muhammad Hasyim Asy’ari, (Yogyakarta: Titian Ilahi Press, 1994), h. 73. Lihat Abdul Basit Adnan, Kemelut di NU: antara Kyai dan Politisi, (Solo: Mayasari, 1982), cet. ke-1, h. 35. [9] Sebagaimana lazimnya tradisi pesantren, jika sang kyai mengetahui ada santrinya yang cerdas, pintar, tulus, dan potensial, maka sang kyai menjodohkannya dengan anaknya. Begitu juga terhadap Hasyim Asy’ari, Kyai Ya’kub pada suatu hari memanggil santrinya itu, “Hasyim, saya mengerti dan tahu bahwa engkau seorang santri yang benar-benar rajin dan sungguh-sungguh dalam belajarnya. Dan lebih tahu dan mengerti pula saya bahwa setengah dari pada sifat-sifatmu, ialah tiada suka membantah akan perintah guru. Hal itu telah saya ketahui benar-benar. Maka oleh karena itu saya menghendaki … menjodohkan kamu dengan anak saya sendiri yang bernama “Khadijah”, bagaimana pendapatmu?” Baca Ridjaluddin Fadjar Nugraha, op.cit., h. 16-17. [10] Abu Bakar Aceh, Sejarah Hidup KH A Wahid Hasyim dan Karangan Tersiar, (Jakarta: Panitia Buku Peringatan KHA Wahid Hasyim, 1975), h. 35. [11] Lihat James J. Fox, “Ziarah visits to the tombs of the Wali, the Founders of Islam on Java”, dalam M.C. Ricklefs (ed.), “Islam in the Indonesian Social Context”, (Clayton, Victoria: Centre of Southeast Asian Studies, Monash University, 1991), h. 30, dalam Lathiful Khuluq, Fajar Kebangunan Ulama: Biografi KH. Hasyim Asy’ari, (Yogyakarta: LKiS, 2000), h. 20. [12] Diceritakan bahwa pada suatu hari, anak seorang bos pabrik gula keturunan Belanda sakit parah yang tidak dapat disembuhkan oleh banyak dokter. Ia baru sembuh setelah minum air yang telah diberkahi KH. Hasyim Asy’ari. Baca ibid. [13] H. Abu Bakar Aceh, op.cit., h. 473. [14] Lihat KH. Hasyim Asy’ari, op.cit., h. 101. [15] Baca ibid., h. 11-12. [16] Baca Maslani, “Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari dalam Karyanya Adab al-’âlim wa al-muta’allim: Suatu Upaya Pengungkapan Belajar-Mengajar”, Tesis, (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga, 1997). [17] Baca Nurdin, Mag., “Etika Belajar Mengajar: Telaah Kritis atas Konsep Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari dalam Kitab Adab al-’âlim wa al-muta’allim” Tesis, (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga, 1999). [18] Baca Hasan Langgulung, Asas-asas Pendidikan Islam, (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1992), cet. ke-2, h. 123-129. [19] ‘Abd al-Mu’idz Khan dalam Affandi Mochtar, The Method of Muslim Learning as Illustrated in al-Zarnuji’s Ta’lim al-Muta’allim Tariq al-Ta’allum, Tesis, (Montreal: McGill University, 1993), h.9-10. [20] Baca KH. Hasyim Asy’ari, op.cit., h. 22-23. [21] Lihat Q.S. al-Mujâdilah (58): 11. [22] Lihat sabda Nabi yang artinya, “segala sesuatu sesembahan kepada Allah tidak ada yang lebih berharga daripada kepandaian dalam beragama. Bagi setan lebih sulit menggoda satu orang yang ahl ‘ilm daripada seribu ahl ibadah. [23] Baca al-Ghazali, Ihyâ ‘ulûm al-Dìn, juz I, (Kairo: Mushthafa al-Bâbi al-Halabi, 1939), h. 6-7. [24] Lihat Imam Barnadib, Filsafat Pendidikan Suatu Tinjauan, (Yogyakarta: Andi Offset, 1986), h. 11. [25] Lihat Maslani, op.cit., h. 47. [26] Ibid. [27] KH. Hasyim Asy’ari, op.cit., h. 29. [28] Ibid., h. 30-31. [29] Ibid., h. 32-33.