This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Senin, 10 Maret 2014

KAJIAN HISTORIS ANTARA TRADISI ILMU ISLAM DAN BARAT



KAJIAN HISTORIS ANTARA TRADISI ILMU ISLAM DAN BARAT

قال النبي (ص) : من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين ( متفق عليه )

Rasulullah Saw. bersabda : “Barangsiapa yang Allah kehendaki dalam diri seseorang kebaikan, maka Allah akan beri pemahaman terhadap urusan agamanya” .

A.    Pendahuluan

Tidak ada satu peradaban yang bangkit tanpa didahului oleh bangkitnya tradisi ilmu, baik itu peradaban kuno maupun peradaban modern. Mengapa tradisi ilmu?, sebab manusia memiliki kemampuan untuk berfikir dan rasa ingin mengetahui akan sesuatu di luar dirinya. Setiap manusia akan dihadapkan pada pertanyaan filosofis yang menyangkut eksistensi dan realitas alam semesta termasuk diri manusia itu sendiri sebagai bagian dari kosmologis. Pertanyaan itu adalah dari mana manusia berasal?, untuk apa manusia diciptakan?, dan akan kemana manusia mengakhiri hidupnya?. Ketiga pertanyaan inilah kemudian memunculkan aliran-aliran filsafat besar dunia yang mana satu dengan yang lainnya berusaha memberikan jawaban tentang Hakekat Manusia, Alam Semesta dan Tuhan.
Dalam Islam ' Mengetahui tidak mustahil '. Dengan kata lain mengetahui menjadi mungkin. Karena itu, untuk mengetahui jawaban dari ketiga pertanyaan itu menjadi sesuatu yang tidak mustahil. Setiap manusia normal, dengan segala potensi yang ada padanya, sesungguhnya dan pada hakekatnya dapat mengetahui (’ilm) dan mengenal (ma’rifah). Tidak seperti yang diklaim oleh kaum sophis (as sufasta’iyah), relativis (al ’indiyah), skeptis (al ’inadiyah), dan agnostis (al laadriyah), bahwa manusia tidak mampu mencapai suatu kebenaran yang hakiki. Dalam hal ini Imam An Nasafi menjelaskan bahwa حقائق الأشياء ثابتة , والعلم بها متحققة , خلافا للسفسطعية Maksudnya, hakikat (quiditas/esensi) segala sesuatu itu tetap (dan oleh karena itu bisa ditangkap), tidak berubah (segalanya bisa diketahui dengan jelas).[1]
Makalah ini akan mencoba untuk mengurai serta membandingkan tradisi keilmuan Islam dalam aspek historisnya yang berawal dari Nuzulul Wahyi kepada Muhammad Rasulullah Saw, dengan konsep awalnya bahwa mengetahui tidak mustahil. Dengan kata lain memperoleh ilmu pengetahuan, bahkan mencapai hakikat kebenaran dari segala sesuatu itu menjadi mungkin, sebab tradisi ilmu Islam berbasis kepada wahyu. Adapun sebagai perbandingan adalah tradisi keilmuan Barat. Sebab melihat Barat tidak cukup hanya melihat kemajuan Barat sebagai sebuah peradaban modern yang begitu saja hadir pada saat ini, namun kemajuan Barat juga tidak terlepas dari tradisi ilmu, yakni budaya Barat.
Yang akan dibandingkan dalam makalah ini adalah tradisi keilmuan Islam dan Barat dari aspek historisnya yang berpengaruh kepada konsep ilmu dari keduanya dengan pendekatan analisa peradaban dan studi pustaka, yaitu latarbelakang pertumbuhan dan perkembangan tradisi dari keduanya Islam - Barat. Pengalaman sosio-historis- religius Islam dan Barat akan lebih banyak diurai dalam makalah ini. Untuk memberikan gambaran secara nyata akan kedua tradisi keilmuan tersebut, penulis di sini akan menghadirkan suatu data historis-empiris, yakni tradisi keilmuan Jepang sebagai bagian dari produk Barat modern. Sebab Jepang memiliki pengalaman tradisi keilmuan yang hampir mirip dengan tradisi keilmuan Islam pada awal kebangkitannya.  
B.     Tradisi Ilmu Islam
Pada 1400 tahun atau 14 abad yang lampau, telah lahir seorang Maha Guru, guru dari sekalian manusia, yang membawa manusia dari lembah kegelapan, kenistaan menuju suatu puncak kegemilangan yang penuh dengan cahaya keridhaan. Adalah Muhammad bin Abdillah dilahirkan di kawasan padang pasir, tandus dan gersang, jauh dari peradaban kala itu: Persia dan Romawi. Pada usia 40 tahun Muhammad diangkat menjadi Nabi sekaligus Rasul. Tugas baru yang diembankan kepadanya dari Tuhannya itu bukanlah tugas yang ringan, namun sebuah tugas yang amat sangat berat. Tugas itu adalah menyampaikan risalah tauhid kepada seluruh ummat manusia di penjuru dunia.
Dalam waktu ± 23 tahun, setelah mengalami berbagai macam rintangan dan cobaan sepanjang dakwah risalah, Nabi Muhammad telah mampu membangun suatu tatanan kehidupan di mana siapa saja yang berteduh di bawahnya akan merasakan kesejukannya. Hal itu ditandai dengan lahirnya sebuah kota yaitu Madinah Al Munawwarah, kota yang tercerahkan. Kemudian Kota tersebut bermetamorfosis, menjelma menjadi suatu negara (state) atau peradaban (civilization).
Menurut Ibnu Khaldun, wujud suatu peradaban merupakan produk dari akumulasi tiga elemen penting antara lain 1) kemampuan manusia untuk berfikir yang menghasilkan sains dan teknologi, 2) kemampuan berorganisasi dalam bentuk kekuatan politik dan militer, dan 3) kesanggupan berjuang untuk hidup.[2] Ketiga elemen tersebut telah mewujud di Madinah kala itu.  Berdasarkan teori Ibnul Khaldun tersebut Madinah sudah bisa dikatan sebagai sebuah peradaban. Dari Madinah-lah kebangkitan Peradaban Islam berawal dan berkembang.
Peradaban Islam di mulai dengan tradisi ilmu atau tafaqquh fid din secara terus menerus. Mulai dari turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad Saw. proses interaksi dan ideasi antar individu dan masyarakat senantiasa didasarkan pada wahyu. Ini bukti bahwa ilmu tidak hanya dalam pikiran semata akan tetapi mewujud dalam sebuah aktifitas, baik berupa amal infiradi maupun amal jama’i. Dari sinilah lahir komunitas ilmiah yang mana oleh sebagian ahli sejarah disebut Ahlus Suffah.[3]
Di lembaga pendidikan pertama inilah kandungan wahyu dan hadist-hadist Nabi dikaji dalam kegiatan belajar mengajar yang efektif.[4] Meski materinya masih sederhana tapi karena obyek kajiannya tetap berpusat pada wahyu, yang betul-betul luas dan kompleks. Materi kajiannya tidak dapat disamakan dengan materi diskusi spekulatif di Ionia, yang menurut orang Barat merupakan tempat kelahiran tradisi intelektual Yunani dan bahkan kebudayaan Barat (the cradle of western civilization).[5]
Hasil dari kegiatan ini memunculkan alumni-alumni yang menjadi pakar dalam hadist Nabi, seperti Abu Hurairah, Abu Dhar Al Ghifari, Salman Al Farisy, Abdullah ibn Mas’ud dan lain-lain. Ribuan hadist telah berhasil direkam oleh anggota sekolah ini.[6] Kegiatan pengkajian wahyu dan hadist kemudian dilanjutkan oleh generasi berikutnya dalam bentuk lain.
Tidak lebih dari dua abad lamanya, telah muncul ilmuan-ilmuan terkenal dalam berbagai bidang studi keagamaan, seperti Qadi Surayh (w.80 H/699 M), Muhammad ibn al Hanafiyah (w.81 H/700 M), Umar ibn Abdul Aziz (w.102 H/720 M), Wahb ibn Munabih (w. 110,114 H/719,723 M), Hasan al Basri (w.110 H/728 M), Ja’far al Shadiq (w. 148/765), Abu Hanifah (w.150/767), Malik ibn Anas (179/796), Abu Yusuf (w.182/799), al Syafi’i (w.204/819), dan lain-lain.[7]
Islam adalah sebuah peradaban yang memadukan aspek dunia dan aspek akhirat, aspek jiwa dan aspek raga. Ia bukan peradaban yang memuja materi, tetapi bukan pula peradaban yang meninggalkan materi. Pada titik inilah, tradisi ilmu dalam Islam berbeda dengan tradisi ilmu pada masyarakat Barat yang berusaha membuang agama dalam kehidupan mereka. Dalam tradisi keilmuan Islam, ilmuan yang dzalim dan jahat harus dikeluarkan dari daftar ulama. Dia masuk kategori fasik dan ucapannya pantas diragukan kebenarannya. Sebab ilmu harus menyatu dengan amal. Inilah yang ditunjukkan oleh sahabat-sahabat Nabi seperti Abu Bakar, Umar, ’Utsman, Ali (radhiyallahu ’anhum) dan lain-lain.[8]  
Ilmu dalam Islam mengantarkan seseorang untuk mengenal Allah Swt. Untuk mengenal-Nya manusia memerlukan sarana-sarana yang menuju kepada pengenalan dzat-Nya yang Maha Abadi. Salah satunya adalah beriman kepada Rasulullah Saw sebagai Nabi dan Utusan-Nya. Karena tanpanya manusia tidak mampu meraih pengetahuan akan Allah. Meskipun manusia dilengkapi dengan potensi akal, namun dalam hal mengenal Tuhan ia membutuhkan petunjuk, sebab akal tidak dapat menjangkau hal yang metafisik. Maka, Allah melalui lisan Rasul-Nya memberikan petunjuk seperangkat tatacara untuk sampai kepada-Nya. Jadi ilmu dalam Islam senantiasa berdimensi Iman dan Ihsan. Ilmu dalam Islam berpijak kepada wahyu Allah Swt sebagai sumber ilmu yang absolute.
Tradisi keilmuan tersebut kemudian berlanjut dari generasi ke generasi, dari abad ke abad dan mengalami puncak perkembangan dan keemasannya antara abad ke-7 M sampai pada abad ke-12 M. Pada saat itu telah lahir intelektual-intelektual muslim di bidang sains dan teknologi, seperti Al Khawarizmi, ’Bapak Matematika’ Muslim (w. 780 M) yang namanya dikenal di dunia Barat dengan Algorizm, Ibnu Sina ’Bapak Kedokteran Muslim’ yang dikenal dengan sebutan Aviecena. Ibnu Sina sebelum meninggal telah menulis kitab sejumlah kurang lebih 276 karya. Karyanya yang sangat monumental al Qonun fi al Tibb telah diterjemahkan ke dalam bahasa latin di Toledo, Spanyol pada abad ke-12. Buku ini juga telah dijadikan rujukan utama di universitas-universitas Eropa sampai abad ke-17.[9]  
C. Tradisi Ilmu Barat
Barat sebagai ikon peradaban modern saat ini tidak bisa hanya dipahami atau dilihat sebagai suatu peradaban yang begitu saja hadir menjadi peradaban yang mapan. Akan tetapi, peradaban Barat memiliki pengalaman masa lalu yang sangat berpengaruh pada karakter dari peradaban Barat itu sendiri. Salah satunya adalah pengalaman beragama masyarakat Barat. Ini juga salah satu unsur kuat yang membedakan karakter dari peradaban Barat dengan perdaban lainnya.
Banyak ilmuwan merumuskan bahwa agama merupakan unsur pokok dalam suatu peradaban. Agama, kata mereka, adalah faktor terpenting yang menentukan karakteristik suatu peradaban. Sebab itu, Bernard Lewis, menyebut peradaban Barat dengan sebutan”Christian Civilization”, dengan unsur utama agama Kristen. Samuel P. Huntington juga menulis bahwa agama adalah unsur utama karakter peradaban. Menurut Christopher Dawson, semua agama besar dunia menjadi elemen utama dari peradaban besar.[10]
Pada bagian ini akan diurai akar kebudayaan Barat yang bermula pada abad pertengahan Eropa. Abad ini merupakan masa paling kelam dalam periode sejarah Eropa. Sebab itu, mereka menamakan masa ini dengan The Dark Age (Abad Kegelapan). Ini sangat berbeda sekali dengan kondisi ummat Islam pada abad pertengahan. Pada saat itu mereka mengalami suatu kemajuan ilmu pengetahuan yang sophistecated di segala bidang.
Abad pertengahan dimulai sejak abad II Masehi, yaitu sejak Kaisar Konstantin Agung masuk Kristen dan menyatakannya sebagai agama resmi Imperium Romawi.[11] Sejak masa ini, Eropa berada di bawah tekanan dan penindasan yang dilakukan oleh penguasa gereja dan negara. Sejak masa ini pula, kebebasan dikekang dan akal dibelenggu sehingga ilmu pengetahuan tidak memperoleh kemajuan.[12]
Keadaan Eropa pada abad pertengahan sungguh dalam kondisi yang terbelakang. Dr. Muhammad Sayyid Al Wakil menukil perkataan seorang penulis Amerika yang menggambarkan keadaan Eropa pada masa itu, ”Jika matahari telah terbenam, seluruh kota besar Eropa terlihat gelap gulita. Di sisi lain, Cordova terang benderang disinari lampu-lampu umum. Eropa sangat kumuh, sementara di kota Cordova telah dibangun seribu WC umum. Eropa sangat kotor, sementara penduduk Cordova sangat concern dengan kebersihan. Eropa tenggelam dalam lumpur, sementara jalan-jalan Cordova telah mulus. Atap istana-istana Eropa sudah pada bocor, sementara istana-istana Cordova dihiasi dengan perhiasan yang mewah. Para tokoh Eropa tidak bisa menulis namanya sendiri, sementara anak-anak Cordova sudah mulai masuk sekolah.[13]   
 Setelah adanya sentuhan dengan Dunia Islam melalui konflik-konflik bersenjata, seperti dalam Perang Salib, maupun melalui cara-cara damai seperti di Andalusia, Eropa mulai tertarik dengan Islam. Pada Perang Salib orang-orang Kristen mendapati hal-hal yang baru di Levant dan teknik-teknik yang tidak dikenal di Barat. Oleh karena itu, ketika terjadi gencatan senjata, mereka memanfaatkan kesempatan untuk mempelajari teknik-teknik baru di bidang pertanian, industri dan kerajinan, serta melakukan hubungan perdagangan dengan orang-orang Muslim.[14]    
 Persentuhan Eropa dengan Peradaban Islam telah memberikan pengaruh luar biasa terhadapa kehidupan mereka. Pengaruh terpenting yang diambil Eropa dari pergaulannya dengan ummat Islam adalah semangat untuk hidup yang dibentangkan oleh peradaban dan ilmu Islam. Keterpengaruhan Eropa pada peradaban Islam itu bersifat menyeluruh. Hampir tidak ada satu sisi pun dari berbagai sisi kehidupan Eropa yang tidak terpengaruh oleh peradaban Islam.[15] Al Qardhawi menulis bahwa metode, sekolah, universitas, ulama , dan buku menjadi pengaruh serta penggerak kebangkitan Eropa.[16]
Hamid Fahmi Zarkasyi menjelaskan dalam bukunya bahwa hakekat dari peradaban Barat Modern adalah periode sejarah peradaban Barat yang persisnya terjadi saat kebangkitan masyarakat Barat dari abad kegelapan kepada periode pencerahan, abad industri dan abad ilmu pengetahuan. Periode ini didahului oleh zaman yang disebut dengan Zaman Penterjemahan (Translation Age) khususnya penterjemahan karya-karya Muslim dalam bidang sains (1050-1150) dari bahasa Arab ke dalam bahasa Latin. Sebab itu, Eugene Myers dengan tegas menyimpulkan bahwa salah satu faktor terpenting kebangkitan Barat adalah penterjemahan karya-karya cendekiawan Muslim.[17]
Pada abad XV muncul gerakan renaissance, yaitu gerakan pencerahan atau diartikan sebagai gerakan kelahiran kembali (rebirth) sebagai manusia yang serba baru. Pada abad pertengahan ini Barat telah berhasil keluar dari Abad Kegelapan (Dark Ages) dan mengembangkan suatu pandangan hidup baru (new worldview) yang mengantarkan mereka kepada abad pencerahan.[18] Gerakan ini pada akhirnya menghancurkan otoritas gereja. Setelah adanya perjanjian Westphalia Agreement pada tahun 1648 maka kekuasan dan otoritas paus dalam hal ini gereja jatuh. Sehingga akhirnya kekuasaan diserahkan kepada negara masing-masing. Maka lahirlah Nation State yang pada perjalanannya menjadi awal dari pemisahan negara dan agama yang kemudian melahirkan sekularisme.[19]
Dari sinilah kemudian ilmu yang berkembang di Barat menjadi jauh dari nilai-nilai agama. Mereka mengatakan bahwa ilmu bebas nilai (free value). Ilmu bersifat universal yang tidak ada kaitannya dengan persoalan trancendent. Ilmu bisa dimiliki oleh siapa saja, di mana saja dan untuk apa saja, meskipun bertentangan dengan nilai agama atau norma. Oleh karena itu, ilmu di Barat jauh dari moralitas. Ilmu di Barat hanya berorientasi pada aspek fisik dan menafikan metafisik. Sebab sumber ilmu di Barat  bertumpu pada panca indera dan akal (rasio) semata.
Sebab itulah epistemologi Barat berangkat dari praduga-praduga, atau prasangka-prasangka, atau usaha-usaha skeptis tanpa didasarkan pada wahyu. Yang mengakibatkan lahirnya sains-sains yang hampa akan nilai-nilai spiritual dan akhirnya seperti yang disimpulkan oleh Al Attas epistemologi Barat tidak dapat mencapai kebenaran, apalagi hakekat kebenaran itu sendiri.[20] Yang kemudian memunculkan ilmuwan-ilmuwan yang skeptis dan atheis seperti Rene Descartes (1596 – 1650), David Hume (1711 - 1776), Immanuel Kant (1724 - 1804), dan lain-lain. Menurut Kant, metafisika adalah hanya ilusi transenden belaka (a transcendental illussion).    
            Sebagai sebuah pruduk Barat, penulis akan menambahkan suatu tradisi keilmuan Jepang. Ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran lebih jelas akan letak perbedaan dan persamaan tradisi ilmu Islam dan tradisi ilmu di luar Islam, yaitu Jepang. Menurut sejarah Jepang, sejak tahun 660 SM Jepang adalah sebuah kerajaan feodal yang dipimpin oleh Kaisar yang memerintah secara turun-temurun. Selama puluhan abad, Jepang hanya mengalami sedikit saja perubahan struktur sosialnya. Sehingga Jepang tidak banyak diketahui dunia luar, karena selain sebagai negara kepulauan, secara geografis, Jepang terisolir dari Asia daratan dan juga seluruh dunia. Budaya yang amat tertutup menyebabkan sepenuhnya terasing (terisolasi) dari arus sejarah dunia. Hal ini mengakibatkan Jepang mulai mengalami kemunduran.[21]
            Namun, keadaan ini mulai berubah ketika Mutsuhito (1852-1912) yang dikenal sebagai Meiji, mereformasi Jepang secara mendasar. Jepang kemudian berubah dari sebuah masyarakat yang tertutup menjadi suatu bangsa yang amat bersemangat untuk menjalin kerja sama dan berhubungan dengan pihak lain serta berusaha menyamai dunia luar yang lebih unggul terlebih dahulu. Sejak saat itu Kaisar menyuruh tunas-tunas muda Jepang yang cerdas untuk belajar ke Eropa dan Amerika. Hasilnya, Jepang mengalami kemajuan yang pesat dalam segala bidang. Dalam waktu kurang dari setengah abad, Jepang sudah menyusul dan berhasil menyetarakan kemajuan teknologinya dengan negara-negara Eropa.[22]
            Ada beberapa faktor penyebab mengapa Jepang berhasil melakukan modernisasinya, yakni : Pertama, Jepang sadar bahwa di sekelilingnya terdapat kekuatan-kekuatan besar yang mengancam Jepang. Sehingga Jepang harus menjadi kuat baik secara militer maupun ilmu pengetahuan. Selain itu, adanya perasaan bahwa mereka adalah satu bangsa (Jepang adalah negara yang homogen suku bangsanya). Kedua, Kaisar menjadi faktor penting dalam proses modernisasi. Di Jepang, posisi Kaisar sangat dihormati karena ia dianggap sebagai titisan Dewa Matahari sehingga apabila Kaisar mengatakan harus menimba ilmu di luar negeri maka prosesnya akan mudah karena orang Jepang pasti akan melaksanakan perintah Kaisar tersebut.[23]
Faktor yang tidak kalah pentingnya adalah faktor pendidikan. Di mana, ketika terjadi proses Restorasi Meiji, tingkat melek huruf orang Jepang tinggi. Sehingga ketika Jepang akan masuk proses industrialisasi mereka sudah mempunyai sumber daya manusia yang terampil dan terdidik. Sebelum Restorasi Meiji, pendidikan di Jepang berdasarkan sistem masyarakat feodal yaitu pendidikan untuk samurai, petani, tukang, pedagang serta rakyat jelata. Kegiatan itu dilaksanakan di kuil dengan bimbingan para pendeta Budha yang disebut dengan Terakoya ( sekolah kuil ).[24]
Setelah Restorasi Meiji, sistem pendidikan berubah yaitu dengan cara mulai menerjemahkan dan menerbitkan pelbagai macam buku tentang ilmu pengetahuan, filsafat maupun sastra. Para pemuda banyak yang dikirim ke luar negeri untuk belajar dan mencari ilmu bagi kemajuan bangsa Jepang agar tidak kalah dengan bangsa lain. Kegiatan Jepang dalam rangka memajukan bangsanya telah memberikan hasil yang signifikan. Korelasi antara kemajuan pendidikan Jepang dan Industrinya benar-benar terwujud. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan bangsa Jepang tumbuh menjadi negara industri utama di Asia yang kedudukannya sejajar dengan bangsa Barat lain seperti Inggris ataupun Perancis.[25]
Meskipun kebangkitan Jepang diawali dengan tradisi ilmu, namun dapat dikatakan bahwa Jepang adalah suatu negara budaya yang pada awalnya budaya ilmu belum begitu nampak kuat dalam kebudayaan Jepang, sebab di sini dapat dilihat kuatnya pengaruh tradisi ilmu asing terhadap kebudayaan Jepang serta pendidikan yang masih ekslusif dikalangan masyarakat yang disebabkan sistem feodal pada saat itu.  Artinya tidak sepenuhnya keilmuan tersebut dibangun di dalam konsep-konsep kebudayaan Jepang. Meskipun Jepang mampu mempertahankan nilai-nilai leluhur mereka. Jepang dapat dikatakan negara yang telah berhasil menyerap, memahami, serta mengamalkan ilmu yang mereka peroleh dari Barat untuk faedah hidup mereka tanpa menghilangkan aspek-aspek tradisi. Jepang telah mampu menampilkan teknologi modern dengan wajah baru yang lebih progres.
D.    Kesimpulan
Terdapat sebuah kaidah yang menyatakan bahwa ’selain adanya perbedaan, juga terdapat persamaan dan sebaliknya selain adanya persamaan, terdapat perbedaan’ (الممايزة غيرما به المشاركة , المشاركة غيرما به الممايزة). Meskipun Islam dan Barat keduanya adalah peradaban yang sama-sama dibangun dengan ilmu, akan tetapi konsep ilmu dalam Islam berbeda dengan konsep ilmu dalam tradisi Barat.
Secara historis, peradaban Islam dibangun di atas ilmu yang berbasiskan wahyu. Ilmu di dalam Islam berdimensi Iman. Ilmu dalam pikiran menguatkan keyakinan yang menghujam di dalam hati. Tidak cukup berhenti pada pikiran dan hati saja, tapi haruslah diwujudkan dalam bentuk perbuatan (amal). Sementara ilmu di Barat berangkat dari ’meragukan segala sesuatu’(skeptik), bahkan merelatifkan segala sesuatunya ’All is relative’. Jadi ilmu di Barat tidaklah menghasilkan sebuah kepastian apalagi sebuah keyakinan. Sebab, di Barat ilmu hanya sebatas pada pengalaman inderawi (visible) dan dapat dijangkau oleh akal manusia (rasional), diluar itu bukan dikatakan ilmu pengetahuan. Hal ini juga menunjukkan bahwa ilmu tidak bebas nilai (free value), bahkan syarat dengan nilai karena ilmu adalah by product dari suatu pandangan hidup suatu peradaban atau bangsa.
Seorang muslim menuntut ilmu karena dorongan untuk mendekatkan diri kepada Sang Khaliq (معرفة الله), sebab dengannya Ia disembah, dikenal, diharapkan dan dicintai. Berbeda di Barat dan di Jepang, hanya dorongan untuk memuaskan nafsu kemanusiaannya di mana manusia membutuhkan sandang, pangan, papan, peningkatan kesejahteraan dari waktu ke waktu dan hasrat duniawi lainnya. Dapat dipahami bahwa Ilmu dalam Islam bertujuan untuk ’Mengenal Allah Swt’. Hal ini juga yang membedakan makna harapan, cinta, kehidupan, kemajuan, kebahagian dan lain-lain dalam Islam dengan di Barat atau di Jepang. Wallahu A’lam bis Shawab.



           




DAFTAR PUSTAKA


Jurnal Ilmiah, Islamia, Thn II No 5 April - Juni 2005,hal.27

Fahmi Zarkasyi, Hamid, Membangun Peradaban Islam Kembali, Makalah disampaikan dalam workshop pemikiran ideologis Forum Ukhuwah Islamiyah daerah Istimewa Yogyakarta 15 April 2007

_____________, Liberalisasi Pemikiran Islam; Gerakan bersama Missionaris, Orientalis dan Kolonialis,  Center for Islamic and Occidental Studies, ISID Gontor-Ponorogo, 2008

Adian, Husaeni, Dari Tradisi Ilmu Ke Peradaban Islam, Catatan untuk 5 Tahun INSIST. Dimuat dalam Catatan Akhir Pekan Di www. Hidayatullah.com.

Armas, Adnin, Diktat Matakuliah : Dewesternisasi Dan Islamisasi Ilmu Pengetahuan, Disampaikan pada kuliah Universitas Muhammadiyah Surakarta Tahun 2007.
_____________, Krisis Epistemologi Dan Islamisasi Ilmu.Gontor Darus Salam: CIOS.2007

Fahrur Mu’is, dkk, Makalah : Sumbangan Islam Terhadap Kebangkitan Peradaban Eropa, Seminar Kelas Matakuliah Sejarah Pemikiran Dan Peradaban Islam, 2008.

Fitriciada, Idul, Diktat Matakuliah Filsafat Hukum, disampaikan dalam seminar kelas tanggal 2 November 2008.









[1]Jurnal Islamia, Thn II No 5 April - Juni 2005,hal.27
[2]Zarkasyi,Hamid Fahmi, Membangun Peradaban Islam Kembali, (Makalah disampaikan dalam workshop pemikiran ideologis Forum Ukhuwah Islamiyah daerah Istimewa Yogyakarta 15 April 2007)hal. 7 adapun penjelasan lebih lanjut dapat dilihat di dalam Muqaddimah karya Ibnu Khaldun. Ini dikutip dari edisi terjemahan berbahasa Inggris 3 jilid dengan penerjemah Franz Rosental ‘The Muqaddimah : an Introduction to History’, editor N.J. Dawood. (London, Routledge & Kegan Paul, 1978)hal. 54-57.  
[3]Zarkasyi,Hamid Fahmi,hal.7. dalam catatan kakinya ia menambahkan bahwa Tujuan utama Ahlus Suffah adalah belajar dan mengamalkan Islam, seperti shalat, membaca al Qur’an, memahami ayat-ayat bersama-sama, berzikir serta belajar menulis. Lulusan dari sekolah masyarakat (learning society) ini juga menunjukkan kemampuan mereka dalam menghapal hadist-hadist nabi. Dikutip dari Abu Daud al Sijistani, Sulaiman ibn al Asha’ath, (d. 275 H) al Sunan, 2 jilid (Egypt, Mustafa al Babi al Halabi, 1371) 2/237; Ibnu Majah, Muhammad ibn Yazid (d.273), al Sunan, dengan komentar dari Muhammad Fuad Abdul Baqe, (Kairo : Dar Ihya’ al Kutub al ‘Arabiyah, 1953, jilid 2,hal.70).
[4]Zarkasyi,Hamid Fahmi,hal.7, Ia menambahkan bahwa Mengenai jumlah peserta dalam komunitas ilmuan dan materi yang dikaji, lihat Abu Nu’aim, Ahmad ibn Abdullah al Asbahani (d.430 A.H) Hilyatul Auliya’, 10 jilid, Mesir : al Sa’adah Press, 1357, 1/339,hal.341.
[5]Zarkasyi,Hamid Fahmi,hal.7.
[6]Zarkasyi,Hamid Fahmi,hal.8
[7]Zarkasyi,Hamid Fahmi,hal.8
[8]Husaeni, Adian, Dari Tradisi Ilmu Ke Peradaban Islam, Catatan untuk 5 Tahun INSIST sebagai dimuat dalam Catatan Akhir Pekan Di www. Hidayatullah.com
[9]Armas, Adnin, Diktat Matakuliah : Dewesternisasi Dan Islamisasi Ilmu Pengetahuan, Disampaikan pada kuliah Universitas Muhammadiyah Surakarta Tahun 2007.
[10]Husaini, Adian, Diktat Matakuliah Pemikiran Dan Peradaban Islam yang Disampaikan dalam seminar kelas di UMS 2007,hal.1 Penjelasan lebih lanjut lihat Samuel P. Huntington, Clash of Civilization and the Remaking of World Order, (New York : Touchtone Books,1996),47; Bernard Lewis, Islam and the West, (New York : Oxford Univeristy Press,1993).
[11]Mu’is, Fahrur, dkk, Makalah Sumbangan Islam Terhadap Kebangkitan Peradaban Eropa,hal.1 bisa dilihat An Nadwi, Abul Hasan Ali. 1988. Islam Membangun Peradaban Dunia. Jakarta : Pustaka Jaya dan Penerbit Djambatan.hal.239
[12] Mu’is, Fahrur, dkk,hal.1 dikutip dari Suhamihardja, Agraha Suhandi.. Sejarah Pemikiran Modern; Tonggak Perkembangan Ilmu Pengetahuan. Bandung : Fakultas Sastra Unpad. 2002.hal.3 dan 18 
[13]Ibid.hal.2 dikutip dari Al Wakil, Muhammad Sayyid. Wajah Dunia Islam Dari Dinasti Bani Umayah Hingga Imperialisme Modern. Jakarta : Pustaka Al Kautsar. 1988.hal.321
[14]Ibid.hal.2 dikutip dari Bammate, Haidar. Kontribusi Intelektual Muslim Terhadap Peradaban Dunia. Jakarta : Darul Falah. 2000.hal.44 - 45
[15]Ibid.hal.5 dikutip dari Quthb, Muhammad.Perlukah Menulis Ulang Sejarah Islam. Jakarta : Gema Insani Press. 1995.hal.251 
[16]Ibid.hal.5 dikutip dari Al Qardhawi, Yusuf. Distorsi Sejarah Islam. Jakarta : Pustaka Al Kautsar,2005,hal.121
[17]Zarkasyi, Hamid Fahmi, Liberalisasi Pemikiran Islam.(Gerakan bersama Missionaris, Orientalis dan Kolonialis),Center for Islamic and Occidental Studies (CIOS).Ponorogo,2008,hal.5
[18] Zarkasyi, Hamid Fahmi Makalah : Akar Kebudayaan Barat,hal.4  
[19]Fitriciada, Aidul, Diktat Matakuliah Filsafat Hukum, disampaikan dalam seminar kelas tanggal 2 November 2008.
[20]Armas, Adnin, Krisis Epistemologi Dan Islamisasi Ilmu.Gontor Darus Salam: CIOS, 2007,hal.vii-viii
[21]http://santribuntet.wordpress.com/2007/05/15/jepang-modern-tradisi-tetap-bertahan/
[22]http://santribuntet.wordpress.com/2007/05/15/jepang-modern-tradisi-tetap-bertahan/
[23]http://chickenblue.blog.friendster.com/2007/08/japanesse-people/
[24]http://chickenblue.blog.friendster.com/2007/08/japanesse-people/  
[25]http://chickenblue.blog.friendster.com/2007/08/japanesse-people/

MISTERI KEMENANGAN PERANG SALIB



MISTERI KEMENANGAN PERANG SALIB

A.    Pendahuluan
Salah satu peristiwa yang amat sangat traumatis di dalam sejarah perjalanan umat Islam sejak kemunculannya sampai kepada terbentuknya Peradaban Islam atau Imperium Islam adalah Perang Salib (the Crussades) yang terjadi antara tahun 1095-1291 M. Sebab dalam peperangan ini bertemunya dua kekuatan besar antara Timur dan Barat yang mana di antara keduanya mewakili identitas masing-masing. Yang tidak hanya sebatas pada bangsa, ras/etnis dan budaya, akan tetapi identitas agama atau sebagaimana yang diistilahkan Huntington yaitu terjadinya benturan peradaban (Clash of Civilization)[1].
Seorang penulis Barat berkata, “Perang Salib merupakan salah satu bagian sejarah yang paling gila dalam riwayat kemanusiaan. Umat Nasrani menyerbu kaum Muslimin dalam ekspedisi bergelombang selama hampir tiga ratus tahun sehingga akhirnya berkat kegigihan umat Islam mereka mengalami kegagalan, berakibat kelelahan dan keputusasaan. Seluruh Eropa sering kehabisan manusia, daya dan dana serta mengalami kebangkrutan sosial, bila bukan kehancuran total. Berjuta-juta manusia yang tewas dalam medan perang, sedangkan bahaya kelaparan, penyakit dan segala bentuk malapetaka yang dapat dibayangkan berkecamuk sebagai noda yang melekat pada muka tentara Salib. Dunia Nasrani Barat saat itu memang dirangsang ke arah rasa fanatik agama yang membabi buta oleh Peter The Hermit dan para pengikutnya guna membebaskan tanah suci Palestina dari tangan kaum Muslimin”.[2]  
Perang atas nama agama ini pada dasarnya perang merebut kekuasaan daerah. Hal ini dibuktikan bahwa tentara Salib dan tentara Muslim saling bertukar ilmu pengetahuan. Ini menunjukkan bahwa kaum Kristen Eropa (kaum frank/al-ifranj)[3] yang datang ke dunia Islam tidak semuanya membawa misi untuk berperang, namun banyak di antara mereka yang menuntut ilmu dari orang-orang muslim. Dampak dari perang ini yang nantinya membawa perubahan alam berfikir orang-orang Eropa yang dikenal dengan masa pencerahan (Renaissance)[4].

B.     Sebab Terjadinya Perang Salib
Carole Hillenbrand mencatat dalam bukunya ”bahwa pertemuan pertama bangsa Eropa dengan Islam terjadi akibat kebijakan-kebijakan negara muslim baru, yang terbentuk setelah wafatnya Nabi Saw. pada 632 M. Satu abad kemudian, wilayah ekspansi Islam (kaum muslimin) telah mencapai barisan pegunungan di antara Perancis dan Spanyol dan menaklukkan wilayah-wilayah yang membentang dari India utara hingga Perancis selatan. Dua ratus tahun berikutnya, perimbangan kekuasaan antara Eropa dan dunia Islam secara meyakinkan masih berada di tangan kaum muslim, yang menikmati pertumbuhan ekonomi besar-besaran dan mengalami perkembangan kebudayaan yang luar biasa.  Dari tahun 750 dan seterusnya, wilayah Dinasti Abbasiyah dibentuk oleh pemerintahan dan kebudayaan Persia-Islam dan semakin bertambah dengan dukungan militer dari budak-budak Turki yang menjadi tentara yang berpusat di Baghdad.[5] Ia menambahkan, pada abad ke-10 dan 11, perpecahan politik menimpa Dinasti ’Abbasiyah terus menerus. Sehingga kondisi tersebut mendukung munculnya gerakan bangsa-bangsa Eropa di Mediterania timur dan menjadi awal kebangkitan kekuasaan Kristen di Spanyol dan......”.
Dr. Muhammad Sayyid al-Wakil menyimpulkan terhadap apa yang telah dipaparkan Carole Hillenbrand akan sebab terjadinya Perang Salib, yang antara lain; Pertama, perasaan keagamaan yang kuat. Orang-orang Kristen meyakini kekuatan gereja dan kemampuannya untuk menghapus dosa walau dosa setinggi langit. Kedua, perlakuan kasar orang-orang Saljuk terhadap orang-orang Kristen. Negeri Islam selain Dinasti Saljuk memperlakukan orang-orang Kristen sesuai dengan semangat toleransi Islam. Mereka izinkan menunaikan ibadah di gereja-gereja suci mereka di Baitul Maqdis. Di lain pihak, orang-orang Saljuk bersikap keras terhadap mereka karena orang-orang Saljuk belum lama memeluk agama Islam. Ketiga, ambisi pribadi Sri Paus. Ambisi Paus untuk menyatukan dunia Kristen ke dalam satu negara religius yang langsung dipimpinnya dan mengusir kaum Muslimin dari Baitul Maqdis.[6]
 Senada dengan apa yang telah ditambahkan Dr. Muhammad Sayyid al-Wakil di akhir penjelasannya akan kebencian dan kedengkian orang-orang Kristen Eropa terhadap kaum Muslimin, Prof. Leopold Weiss[7] menambahkan bahwa ”kemurkaan bangsa Eropa telah tersebar luas seiring dengan kemajuan zaman. Kemudian kebencian berubah menjadi kebiasaan. Kebencian ini akhirnya menumbuhkan perasaan kebangsaan setiap kali disebutkan kata Muslim......”.
Allah Swt. telah menjelaskan akan watak kaum Kristen dalam firman-Nya surat Ali Imran (3) ayat 118 yang berbunyi ”Telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang disembunyikan dalam hati mereka adalah lebih besar”. 
            Seiring dengan kebencian dan kedengkian serta munculnya gerakan-gerakan orang-orang Eropa Kristen, kondisi dunia Islam dan kaum Muslimin telah menciptakan mentalitas layak terbelakang dan kalah (al-qabiliyyah li at takhalluf wa al hazimah) di mana saat itu sebagaimana yang ditulis oleh Majid ’Irsan al Kilani dalam bukunya bahwa di dalam tubuh umat Islam telah terjadi perpecahan pemikiran Islam dan perselisihan antar mazhab, perpecahan dan penyimpangan tasawuf, ancaman pemikiran kebatinan serta ancaman filsafat dan para filsuf. Hal ini berdampak kepada rusaknya aspek ekonomi, aspek sosial, perpecahan politik dan pertentangan Sunni-Syi’ah yang pada akhirnya lemahnya dunia Islam dalam menghadapi serangan-serangan kaum salib Eropa.[8]



C.    Analisa Kemenangan Kaum Muslimin
Setelah memahami uraian singkat di atas akan sebab terjadinya Perang Salib dan kondisi dunia Islam pasca penyerangan orang-orang Eropa Kristen, berikut ini akan disajikan beberapa penjelasan singkat sebab kemenangan kaum Muslimin dalam melawan pasukan salib Kristen.
Tokoh legendaris Islam dalam melakukan perlawanan sengit terhadap pasukan salib dengan merebut kembali daerah-daerah kaum Muslimin yang telah dikuasai mereka, termasuk kota suci Baitul Maqdis adalah Salahuddin al-Ayyubi pendiri Dinasti Ayyubiyah. Dalam uraian ini tidak akan banyak dijelaskan biografi sang legendaris. Akan tetapi lebih difokuskan pada sosok Salahuddin al-Ayyubi tersebut sebagai individu atau pelaku sejarah.
Pertanyaan yang muncul akan kepahlawanannya yaitu Apakah Shalahuddin al-Ayyubi merupakan fenomena individu, sosok yang brillian dan mukjizat yang lahir secara tiba-tiba di tengah panggung peristiwa dunia Islam dan terbebas dari faktor-faktor kelemahan manusiawi ? atau sebaliknya, ia hanya bagian dari generasi zamannya dan buah yang dipetik dari sekian langkah permulaan dan perubahan yang dilakukan oleh masyarakat pada masa itu. Perubahan yang meliputi seluruh lapisan umat dan kemudian melahirkan sumber daya manusia brillian (jenius) yang bersifat kolektif dan menyiapkannya untuk keluar dari krisis yang menghimpit, sementara Shalahuddin tidak lebih dari juru bicara resmi yang diangkat oleh generasi tersebut untuk mewakilinya ?.
            Tidak ada suatu peradaban yang bangkit tanpa ditopang dan didukung oleh tradisi ilmu atau komunitas ilmiah yang mengkaji ilmu secara dinamis dan berkesinambungan.[9] Sebab Ilmulah yang melahirkan  generasi yang loyal terhadap bangsa dan negerinya. Bangsa dan negeri yang memiliki pandangan hidup dan prinsip hidup yang teguh dan kokoh baik yang bersandar pada agama atau tidak, Islam atupun non Islam.
            Generasi Shalahuddin merupakan generasi yang dilahirkan pada zamannya oleh orang-orang yang memiliki prinsip dan keyakinan tinggi akan kemenangan hidup mereka dari tangan-tangan kaum penindas. Para Ulamalah yang dengan kekuatan tulisan, lisan serta seluruh potensi fikir dan dzikir mereka mampu membangkitkan dan menumbuhkan ribuan generasi pada masa dan tempat yang sama dengan tujuan yang satu dan hati yang bulat serta tekad yang kuat yang dibangun di atas keimanan yang menghujam dengan berbekalkan ketaqwaan dan hanya berharap keridhaan ilahi, telah mampu mengukir sejarah gemilang yang hadir di ruang dan waktu kita saat ini. Inilah yang dikatakan bahwa apabila jaringan interaksi sosial suatu umat terbentuk atas dasar loyalitas kepada pemikiran risalah yang dianut dan dijadikan landasan hidup, maka setiap individu masyarakat akan terlindungi dan terhormat, baik selama masih hidup maupun setelah mati.[10]
            Rasulullah saw bersabda: “Apabila umatku sudah mengagungkan dunia maka akan dicabutlah kehebatan Islam; dan apabila mereka meninggalkan aktivitas amar ma’ruf nahi munkar, maka akan diharamkan keberkahan wahyu; dan apabila umatku saling mencaci, maka jatuhlah mereka dalam pandangan Allah.”
            Kondisi umat Islam di masa kejatuhan Baitul Maqdis ke tangan orang-orang salib tidak kurang dari apa yang disabdakan Rasulullah Saw. Umat Islam kala itu mengalami keterpurukan atau degradasi iman dan moral. Para pemimpin yang hedonis dan tidak amanah dalam melaksanakan tugas-tugas kepemimpinannya.     
           
D.    Kesimpulan





  


[1]Istilah tersebut menjadi judul bukunya, Samuel P. Huntington, Clash of Civilizations and the Remaking of World Order, (New York : Touchtone Books, 1996)
[2]http://www.kebunhikmah.com/article-detail.php?artid=237
[3]Carole Hillenbrand, Perang Salib Sudut Pandang Islam, cet.II.(Jakarta : PT Serambi Ilmu Semesta, 2005),41
[4]Bagi Barat, Perang Salib merupakan bagian dari evolusi Eropa barat abad pertengahan. Arti pentingnya telah lama diakui dan dipelajari oleh banyak generasi para ilmuwan Barat. 
[5]Hillenbrand, Carole.Op.Cit.hal.20-21
[6]Muhammad Sayyid al-Wakil, Wajah Dunia Islam Dari Dinasti Bani Umayyah Hingga Imperialisme Modern,cet.IV. (Jakarta : Pustaka Kautsar, 2000),hal. 165-166 
[7]Muhammad Asad terlahir sebagai Leopold Weiss pada tahun 1900 di kota Lemberg, Ukraina. Tahun 1926, berkat kesan mendalam dari hasil pengembaraannya di negara-negara Islam Timur Tengah (terekam dalam salah satunya bukunya "Road to Mecca") ia memeluk Islam. Ia lantas mengatakan mengenai Islam :" Dalam pandangan saya, Islam terlihat seperti sebuah hasil arsitektur yang sempurna. Semua elemen didalamnya secara harmonis dalam saling melengkapi dan mendukung; tidak ada yang berlebihan dan tidak ada yang kurang; hasilnya adalah sebuah struktur dengan keseimbangan sempurna dan komposisi yang kuat." Ia mengembara dan menyaksikan dengan kepala sendiri beberapa pergerakan pembebasan yang muncul pada awal abad 20 untuk membebaskan daerah Islam dari kaum kolonial.
[8]Majid ‘Irsan al-Kilani, Hakadza Zhahara Jil Shalahuddin wa Hakadza ‘Adat al Quds, (Saudi Arabiya : Ad-Dar As-Su’udiyyah, 1985).hal.13-61
[9]Hamid Fahmi Zarkasyi, Membangun Peradaban Islam Kembali. Diktat Mata Kuliah Worldview Islam. Disampaikan dalam seminar kuliah di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).hal.1
[10]Majid ‘Irsan Al Kilani, Misteri Masa Kelam Islam Dan Kemenangan Perang Salib. (Bekasi : Kalam Aulia Mediatama,2007).hal.8