Selasa, 21 Februari 2012

Manajemen Pendidikan Pesantren

BAB I
PENDAHULUAN

             Kondisi SDM di Indonesia masih memprihatinkan. Berdasarkan pengukuran atas pengembangan SDM yang dilakukan oleh lembaga-lembaga internasional, bahwa HDI (human development index) kita masih berada dibawah 120 dari seluruh dunia yang kira-kira terdiri dari 160 dunia. Rendahnya mutu SDM terkait dengan program pembelajaran yang memang rendah. Di Asia posisi Indonesia berada di urutan 12 setelah Vietnam. Begiru memalukankannya kualitas kita sebagai manusia yang seharusnya mampu melakukan apa saja di dunia ini menurut apa-apa yang diinginkannya. Mayoritas bangsa Indonesia yang beragama islam seharusnya pula menjadi termotivasi karena umat islam adalah umat yang sarat akan ilmu pengetahuan dan ilmu keagamaan yang dapat menjadi bekal kesejahteraan di dunia maupun di akherat. Bukankah kita amat bersyukur dilahirkan menjadi manusia dan beragama islam pula?.
Manusia adalah faktor terpenting dan dominan dalam sebuah lembaga atau organisasi yang sedang melakukan sebuah proses mewujudkan tujuan dan keinginan akan cita-citanya. Manusia jelas merupakan salah satu sumber daya dari sekian sumber daya lain yang mempunyai potensi untuk berkembang. Kemampuan manusia untuk menjalankan proses tersebut akan mempengaruhi kualitas atau tidaknya lembaga/organisasi tersebut dalam mewujudkan cita-citanya. Dengan demikian peningkatan kualitas sumber daya manusia akan selalu menjadi prioritas utama pada setiap lembaga atau organisasi.
Guna merealisasikan konsep atau pemikiran dinamisasi pesantren., maka perlu disusun strategi untuk menggali dan mengembangkan potensi sumber daya manusia. Kita tidak boleh terlalu memperkirakan atas kekuatan dan potensi pesantren. Pesantren memang memiliki potensi kekuatan yang sangat besar, tetapi justru kemampuan mengembangkan pesantren itu yang belum dimiliki.[1] Kita tahu bahwa peranan ustad dalam pengembangan kualitas santri sangat dominan. Oleh karena itu, disini mayoritas kita bicara pada pengembangan SDM pendidik. Tidak harus mengganti sistem secara total , pengembangan dan pengelolaan kompetensi pendidik dilakukan agar pelayanannya tetap relevan dengan tuntutan perkembangan zaman.
Untuk itu pengembangan dan pelatihan sumber daya manusia di Ponpes khususnya bagi para pendidik perlu dilakukan secara rutin. Bisa dalam bentuk pemenuhan motivasi kerja (baik internal maupun eksternal individu), kebutuhan administrasi yang teratur, pelatihan-pelatihan maupun promosi yang dilakukan untuk memenuhi persediaan kebutuhan SDM yang sesuai dengan bidang yang dikuasainya dan yang diperlukan oleh Ponpes demi kelancaran program-programnya. Sehingga dapat dibangun etos kerja yang sesuai dengan harapan umat pada umumnya dan bagi Ponpes (sebagai kader) pada khususnya.
Toto Tasmara (2002:73-134) memberikan rincian bahwa umat islam ini mempunyai 25 ciri etos kerja muslim yang mendukung umat islam bisa survive dalam kehidupannya. Etos kerja tersebut ialah :
a.       Kecanduan terhadap waktu                                  k.    Bahagia karena melayani
b.      Memiliki moralitas yang bersih (ikhlas)                l.     Memiliki harga diri
c.       Kecanduan kejujuran                                            m.  Memiliki jiwa kepemimpinan
d.      Memiliki komitmen tinggi                         n.    Berorientasi masa depan
e.       Istiqomah atau kuat pendirian                              o.    Hidup berhemat dan efisien
f.       Mereka kecanduan disiplin                                   p.    Memiliki jiwa wiraswasta
g.      Konsekuen dan berani menghadapi tantangan     q.    Memiliki insting bertanding
h.      Memiliki sikap percaya diri                                   r.     Memiliki semangat perantauan
i.        Kreatif                                                                   s.    Tangguh dan pantang menyerah
j.        Bertanggung jawab                                               t.     Berorientasi pada produktivitas
k.      Mereka kecanduan belajar dan ingin mencari ilmu
l.        Memperhatikan kesehatan dan gizi
u.      Memperkaya jaringan silaturahim dan
v.      Mereka memiliki semangat perubahan[2]
Oleh karena itu, pengelolaan dan pengembangan SDM bagi Ponpes sangat diperlukan untuk kelancaran pencapaian program dan tujuan Pondok Pesantren.



BAB II
PENGELOLAAN DAN PENGEMBANGAN SDM PONDOK PESANTREN
1. Konsep-Konsep Pengembangan SDM Ponpes
Ponpes diharapkan mampu menjadi agen pengembangan masyarakat sehingga sangat diperlukan peningkatan kualitas ponpes itu maupun untuk peningkatan kualitas kehidupan masyarakat.[3] Peningkatan kualitas SDM Ponpes meliputi dua aspek yaitu berdasarkan kuantitas dan kualitas. Dari segi kuantitas jelas menyangkut jumlah ketersediaan SDM yang dibutuhkan, sedangkan dari segi kualitas meliputi aspek fisik dan aspek non fisik. Segi fisik dapat didukung dengan pemberian gizi dan program kesehatan yang rutin. Dan segi non fisik terdiri dari kemampuan bekerja, berpikir dan berbagai macam keterampilan. Aspek non fisik ini dapat dikembangkan melalui pembelajaran, pengembangan dan pelatihan lebih lanjut dan mendalam yang dapat meningkatkan kualitas SDM Ponpes.
1.1 Faktor-Faktor Yang Dapat Mempengaruhi Pelaksanaan Pengembangan SDM Ponpes
Dalam pelaksanaan pengembangan SDM Ponpes, perlu diperhatikan faktor internal maupun faktor eksternal Ponpes. Faktor internal mencakup seluruh kehidupan yang dalam pelaksanaannya dikendalikan oleh pemimpin. Faktor internal meliputi,
  1. Pelaksanaan kegiatan yang sesuai dengan visi misi dan tujuan Ponpes. Hal ini memerlukan SDM yang terampil dan berkompeten untuk memenuhi visi, misi dan tujuan Ponpes.
  2. Strategi untuk mencapai visi, misi dan Ponpes yang satu dengan yang lainnya tidak sama walaupun kemungkinan visi, misi dan tujuan antar Ponpes memiliki kesamaan. Oleh karenanya diharapkan Ponpes bersangkutan mengantisipasi benturan strategi mencapai visi, misi dan tujuan dengan mengembangkan SDMnya agar lebih kreatif dan berkompeten di bidang yang menjadi tanggung jawabnya.
Sedangkan faktor eksternal yang merupakan lingkungan diluar area kegiatan Ponpes juga patut diperhitungkan yaitu antara lain,
  1. Kebijakan pemerintah. Baik yang berupa undang-undang, surat-surat keputusan maupun peraturan daerah yang seyogyanya dapat mempengaruhi kinerja program Ponpes yang akan atau sedang dilaksanakan.
  2. Faktor sosio-kultural masyarakat yang ada disekitar lingkungan Ponpes.
  3. Perkembangan IPTEK yang mendunia dan semakin cepat seiring berjalannya waktu. Mau tidak mau Ponpes tidak mampu menyangkal kehadirannya dan sangat diperlukan di era globalisasi ini. Jadi diharapkan SDM Ponpes mampu beradaptasi dan mampu berakulturasi dengan perubahan dan perkembangan IPTEK dan mampu menyaring baik dan buruknya demi kemaslahatan bersama.
1,2 Perencanaan SDM
Pengembangan SDM tentunya memerlukan perencanaan yang dapat mengarahkan proses peningkatan kualitas maupun kuantitasnya. Perencanaan akan memungkinkan pengambil keputusan untuk bertindak secara efektif, efisien dan terarah. Perencanaan SDM diperlukan untuk mengantisipasi permintaan-permintaan bisnis-lingkungan pada organisasi Ponpes masa depan dan untuk memenuhi hal kebutuhan-kebutuhan tenaga kerja yang ditimbulkan oleh kondisi-kondisi tersebut. Oleh karenanya terdapat 4 kegiatan dalam perencanaan SDM yaitu,

  1. Persediaan SDM
  2. Perkiraan pemenuhan dan permintaan SDM
  3. Penambahan SDM berkualitas, dan
  4. Prosedur pengawasan dan evaluasi
Dari 4 kegiatan diatas, jelas bahwa dalam rangka pengembangan dan pengelolaan SDM khususnya bagi guru Ponpes, perlu adanya restrukturisasi guru. Restrukrurisasi guru pesantren adalah pendayagunaan guru sesuai keperluan lembaga agar mampu bertanggung jawab melaksanakan visi, misi dan tujuan pesantren yang telah ditetapkan secara efektif[4]. Di Pesantren, restrukturisasi guru dapat dilakukan secara fleksibel, dimana untuk meningkatkan fungsi layanan pendidikan , pengasuh pesantren tidak harus membuat spesialisasi total dalam pemberian tugas kepada guru dan staf lainnya.
 Dalam perencanaan SDM (terutama ketika akan mengadakan restrukturisasi guru) dapat dipengaruhi oleh perkembangan organisasi Ponpes baik internal maupun eksternal. Faktor internal dan eksternal tersebut harus diperhitungkan dalam membuat perencanaan kebutuhan SDM. Faktor internal antara lain, rencana-rencana pengembangan, anggaran keuangan, desain organisasi Ponpes, perluasaan usaha dan persediaan SDM (sebagai antisipasi jika ada yang pensiun, meninggal, mengundurkan diri dan lain sebagainya).[5]
      1,3 Komponen-Komponen Perencanaan Sistem Pembelajaran yang Akan dikembangkan oleh Guru/Ustad sebagai Pendidik di Ponpes 
Restrukturisasi guru dapat diwujudkan dengan memberi kesempatan kepada guru untuk terlibat dalam penyusunan dan pelaksanaan program-program pendidikan dan pengajaran didalamnya. Dengan melibatkan mereka, pengasuh pesantren akan lebih mudah mendapat masukan untuk membuat kebijakan pendidikan dan pengajaran. Tentu pelibatan guru dalam kegiatan tersebut didasarkan kepada kompetensi yang dibutuhkan. Dengan membuat uraian tugas yang jelas untuk dilaksanakan oleh para guru. Mengingat kegiatan pesantren terdiri dari 2 aktivitas, aktivitas rutin dan insidental. Rutin terkait dengan pengajaran sedangkan incidental merupakan kegiatan-kegiatan yang menjadi ciri khas pesantren, seperti adanya kegiatan-kegiatan ritual (sholat tahajud rutin,misalnya) atau kegiatan yang bersifat sosio keagamaan baik didalam maupun diluar pesantren[6]. Yang terpenting adalah tujuan pendidikan dan pengajaran diPonpes dapat terwujudkan.
 Suatu tujuan pendidikan yaitu deskripsi pengetahuan, sikap, tindakan dan penampilan yang diharapkan akan dimiliki sasaran pendidikan pada periode tertentu. Tujuan juga merupakan pengharapan dari pendidikan yang dilaksanakan baik berupa perubahan tingkah laku, pengetahuan, sikap, kemampuan dan kenyakinan para santri. Penetapan tujuan  juga berfungsi untuk mempermudah dan mengarahkan proses pendidikan, pelatihan dan pengembangan SDM, khususnya pendidik (guru) dalam kegiatan belajar mengajar di Ponpes. Tujuan pendidikan dapat dibedakan menjadi 4 kategori yaitu
  1. Tujuan Pendidikan Nasional, biasa disebut sebagai tujuan umum
  2. Tujuan Institusional yaitu tujuan lembaga atau Ponpes yang bersangkutan
  3. Tujuan kurikuler yaitu tujuan dari setiap bidang studi atau mata pelajaran
  4. Tujuan instruksional yaitu tujuan yang sudah spesifik, mencakup suatu pengetahuan, sikap atau keterampilan yang akan dicapai dengan pemberian materi ajar melalui proses belajar mengajar.
Untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan tersebut termasuk komponen-komponen pendidikan yang diperlukan agar hasil pelatihan dan pengembangan SDM Ponpes baik pendidik (Ustad) maupun terdidik (para santri) optimal dan maksimal. Bagi para pendidik, komponen-komponen pendidikan harus dilaksanakan dan tidak boleh terpisah-pisah karena merupakan perencanaan sistem pembelajaran yang mendukung keberhasilan pendidikan. Komponen-komponen pendidikan selain tujuan yaitu kurikulum, manusia (kiai, para ustad, dan para santri), sarana dan prasarana, metode, strategi, pendekatan dan teknik pembelajaran, materi pelajaran dan sistem evaluasi pembelajaran.[7] Meskipun sama-sama dapat diberlakukan pada semua organisasi pendidikan, namun dalam penerapan pendidikan di Ponpes, komponen-komponen pendidikan yang diterapkan memiliki keunikan tersendiri.
Pertama, tujuan. Tujuan seperti yang dikatakan diatas menggambarkan harapan masyarakat atau negara tentang ciri-ciri manusia yang dihasilkan oleh proses pendidikan.[8] Di Ponpes, harapan pendidik kepada para santrinya tidak hanya sebatas harapan bangsa dan negara saja, tetapi juga kepada Ponpes, diri sendiri dan yang terpenting adalah sesuai harapan Allah SWT kepada manusia yaitu sebagai khalifah umat untuk menyebarkan serta menegakkan agama islam di seluruh dunia. Berdasarkan taksonomi Bloom, tujuan pendidikan meliputi 3 aspek yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik.  Berikut rincian aspek kognitif, afektif dan psikomotorik beserta Tujuan Pembelajaran Umum dan Tujuan Pembelajaran Khusus yang diharapkan tercapai kepada para Santri/murid
Sedangkan berdasarkan waktu yang diperlukan untuk mencapai tujuan pembelajaran ada tujuan antara (medium) yaitu berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan yang diperoleh di Ponpes dan tujuan jangka panjang yang berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan yang berguna sepanjang kehidupan murid (santri).[9]
Kedua, Kurikulum. Kurikulum merupakan pedoman bagi kegiatan belajar mengajar dalam rangka mengembangkan kemampuan SDM. Untuk menyusun suatu kurikulum yang relevan dan mantap perlu dipertimbangkan prinsip-prinsip berikut :
a.               Dasar filosofis negaara yang berlangsung dan mengarahkan tujuan pendidikan nasional
b.              Dasar sosiologis yang menyangkut keadaan masyarakat, ekonomi, adapt istiadat, budaya, kesehatan dan sebagainya
c.               Dasar psikologis yang mempertimbangkan faktor-faktor terkandung dalam diri para santri misalnya minat, kebutuhan, kemampuan, pengalaman dan sebagainya
d.              Dasar organisasi, dimana kurikulum disajikan dalam bentuk tertentu baik dalam luas bahan, isi maupun urutan. [10]
Ketiga, Manusia. Manusia meliputi kiai, para ustad, dan para santri. Dan yang diperhatikan disini adalah pendidiknya, yaitu kiai dan para ustad. Ada beberapa prinsip yang berlaku umum untuk semua guru (ustad) yang baik menurut S. Nasution, yaitu :
  1. Guru yang baik memahami dan menghormati murid
  2. Guru yang baik harus menghormati bahan pelajaran yang diberikannya
  3. Guru yang baik menyesuaikan metode mengajar dengan bahan pelajaran
  4. Guru yang baik menyesuaikan bahan pelajaran dengan kesanggupan individu
  5. Guru yang baik mengaktifkan murid dalam hal belajar
  6. Guru yang baik memberi pengertian dan bukan hanya kata-kata saja
  7. Guru menghubungkan pelajaran dengan kebutuhan murid
  8. Guru mempunyai tujuan tertentu dengan tiap pelajaran yang diberikannya
  9. Guru tidak terikat dengan satu sumber pelajaran tertentu
  10. Guru yang baik tidak hanya mengajar dalam arti menyampaikan pengetahuan saja kepada murid melainkan senantiasa mengembangkan pribadi anak[11]
Oleh karenanya, sebagai pendidik dan pengajar, guru (ustad) harus mampu menjadi teladan dan contoh yang patut ditiru. Merupakan amal yang tiada habisnya ketika ilmu yang didapatnya, dialirkan ke para murid (santri) melalui proses belajar mengajar. Ilmu yang dimiliki oleh para ustad dan kiai tidak cukup jika hanya didapat dari satu sumber materi saja. Di era infomasi ini, banyak sekali kemudahan untuk mengakses ilmu dari segala arah. Bisa melalui internet, koran dan majalah, buku-buku, kitab-kitab, ensiklopedia, pelatihan-pelatihan dan lain sebagainya. Semakin banyak ilmu yang didapat guru, semakin banyak pula ilmu yang akan didapat murid. Dan ini menentukan kualitas guru dan murid itu pula. Selain itu, dengan disertai dengan keterampilan tambahan seperti keterampilan menjelaskan, variasi mengajar, bertanya, keterampilan mengelola kelas dan lain sebagainya[12]. Bisa juga dengan mengadakan mentoring, pengajaran melalui microteaching, dan penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guru/Ustad di Ponpes[13].
Keempat, Sarana dan prasarana yang lengkap akan membuat nyaman proses belajar mengajar di Ponpes. Mulai dari adanya masjid (minimal ada musolla) yang menjadi pusat kegiatan santri, asrama yang mencukupi kebutuhan santri untuk tempat tinggal, wc dan kamar mandi, perpustakaan, ruang kelas, meja dan kursi dan lain sebagainya.
Kelima, Metode, strategi, pendekatan dan teknik pembelajaran diperlukan untuk mempermudah proses belajar mengajar. Kedudukan strategi, pendekatan, metode dan teknik dalam proses pembelajaran adalah sebagi sarana motivasi ekstrinsik agar dapat membangkitkan minat siswa dalam belajar dan sebagai sarana penyajian materi pelajaran. Dalam penggunaan strategi, metode, pendekatan dan teknik pembelajaran perlu dicocokkan dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya yaitu tujuan pembelajaran, kondisi siswa, kondisi guru (minat dan potensi guru), materi yang disajikan, fasilitas yang tersedia, situasi kegiatan belajar mengajar dan evaluasi[14]. Strategi, metode, pendekatan dan teknik memiliki hubungan yang signifikan dan merupakan pola umum yang akan mempengaruhi guru dalam memandang, mempersepsikan dan memberlakukan siswa dalam proses belajar mengajar. Demikian pula halnya kegiatan proses belajar mengajar yang terjadi di Ponpes, bermacam-macam strategi pembelajaran yang diterapkan untuk membuat para santrinya paham akan materi yang diajarkan. Mulai dari strategi ekspositori sampai pada strategi pembelajaran inkuiri, pendekatan individual atau kelompok, metode tugas, proyek atau diskusi ataupun teknik langsung atau tidak langsung, semuanya tergantung pada para ustad dalam memberikan materi pelajaran bagi mereka.
Keenam, materi pelajaran. Hal ini yang dapat membedakan antara Ponpes dengan sekolah umumnya. Di sekolah umum menekankan pada mata pelajaran yang dapat diterima secara global seperti matematika, IPA, IPS dan lain-lain. Sedangkan di Ponpes, materi pelajarannya seluruhnya mengenai dan untuk memperdalam islam, seperti ilmu hadist, ulumul qur’an,  tajwid, bulughul maraam, nahwu saraf, bahasa arab, ilmu balaghah, tafsir al-Qur’an, ulumul hadist dan lain sebagainya.
Terakhir, Sistem evaluasi pembelajaran. Seberapa jauh proses perubahan atau peningkatan yang terjadi pada SDM, diperlukan adanya mekanisme yang nantinya akan menggunakan suatu sistem untuk tes, pengukuran dan evaluasi. Tentu saja, tujuannya agar mengetahui sebarapa besar peningkatan dari hasil pelatihan dan pengembangan SDM yang telah dilakukan untuk kemudian diambil keputusan dari hasil evaluasi apakah berhasil ataukah tidak sehingga dapat ditentukan tindakan selanjutnya.

2. Strategi Promosi Dan Aplikasi Pengembangan SDM Bagi Ponpes
2.1 Pengertian Promosi
Istilah promosi dapat diartikan sebagai “Arus informasi atau persuasi satu arah yang dibuat untuk mengarahkan seseorang atau organisasi pada tindakan yang menciptakan pertukaran dalam pemasaran “ (William G. Nickels, 1979:309).[15] Jadi yang dimaksud Strategi promosi yaitu taktik yang digunakan untuk mempengaruhi seseorang agar tercipta suatu permintaan atas barang atau jasa yang ditawarkan. Pada dasarnya pengembangan kegiatan promosi adalah bagaimana mengkomunikasikan kepentingan seseorang, suatu lembaga atau masyarakat untuk dapat saling berinteraksi. Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan, sangat mempunyai kepentingan dalam mengkomunikasikan kegiatannya kepada masyarakat, namun sayangnya kepentingan promosi bagi Ponpes, untuk saat ini masih saja ada yang beranggapan sebagai hal yang tabu. Sebab selama ini Ponpes sesuai ajaran islam tidak melakukan promosi keluar untuk menghindari hal-hal yang dapat bermuara kepada perbuatan riya’[16].
Sebagaimana diutarakan oleh H.M. Nadim Zuhdi dalam artikelnya yang berjudul “Strategi Promosi dan Aplikasi Pengembangan SDM bagi Pondok Pesantren” bahwa masyarakat ingin mengetahui apakah Ponpes merupakan produk barang, jasa atau keduanya, bagaimana dengan visi misinya, apakah Ponpes itu mempunyai nilai keunggulan, atau apakah Ponpes tersebut dipimpin oleh pribadi-pribadi unggul dan lain sebagainya. Semua itu ingin diketahui oleh masyarakat pemakai dan jika tidak dikomunikasikan kepada khalayak, bisa saja seseorang salah persepsi terhadap Ponpes[17].
Jadi komunikasi dua arah antara pihak Ponpes dan masyarakat perlu digiatkan untuk kepentingan bersama. Ponpes bisa menyebarkan dakwah kepada masyarakatnya sekaligus dapat menjaring kader-kader baru. Masyarakat dapat memanfaatkan keberadaan Ponpes sebagai sarana pendidikan bagi anak-anaknya maupun saudara-saudaranya sekaligus memanfaatkan kegiatan-kegiatan Ponpes yang dinilai dapat memberikan kebaikan bagi masyarakat.
Promosi akan berhasil bila cara penyampaiannya jelas dan mengena pada masyarakat yang berlaku sebagai konsumen. Untuk itu diperlukan adanya komunikasi yang efektif. Komunikasi yang efektif dapat mengubah tingkah laku yang sudah diubah sebelumnya. Dalam sistem komunikasi pemasaran terdapat tahapan negosiasi yang menjadi penentu diterima atau tidaknya promosi yang dilakukan si penawar (Ponpes). Contoh : di Sebuah perguruan tinggi yang dinaungi yayasan pondok pesantren, tahun penerimaan mahasiswa baru, menyebarkan sebuah brosur yang berisi segala informasi tentang pendaftaran beserta rincian keuangan, jurusan yang tersedia dan sebagainya. Tentunya ada persyaratan yang mengikuti dibelakangnya jika menginginkan kuliah gratis sebagaimana yang terteraa dipojok kiri atas brosur tersebut. Perguruan tinggi tersebut mengadakan promosi kepada masyarakat dengan bernegosiasi pada program “kuliah gratis”. Perguruan tinggi mengadukan sejumlah syarat yang mengharuskan masyarakat menerimanya jika ingin memasukkan anaknya untuk kuliah gratis disana. Misalkan saja, syarat tersebut adalah prestasi anaknya semasa diSMU rangking 5 besar disekolahnya, atau berdasarkan keterangan tidak mampu dari kelurahan setempat. Dan yang lebih lazim terjadi di Ponpes adalah kuliah gratis dengan syarat mengabdi disana setelah lulus kuliah sebagai kader dan penerus Ponpes.

2.2 Proses Adopsi dalam Pelaksanaan Promosi
Ada yang disebut dengan proses adopsi dalam promosi yang memerlukan komunikasi efektif. Proses adopsi menyangkut keputusan menerima/adopsi atau menolak produk atau ide dari pihak konsumen. Proses adopsi yang dilakukan oleh individu melalui beberapa tahap yaitu :
1.      Kesadaran. Pembeli (masyarakat) potensial mengetahui tentang suatu produk, tetapi kurang mendetail. Ia bahkan tidak mengetahui tentang kegunaan produk atau bagaimana cara memakainya.
2.      Minat. Jika pembeli potensial tersebut menjadi berminat, maka ia mengumpulkan informasi dan fakta tentang produk yang bersangkutan.
3.      Evaluasi. Ia mulai menguji mental dengan menerapkan produk tersebut ke dalam pribadinya
4.      Percobaan. Pembeli dapat membeli produk tersebut untuk mencoba menggunakannya. Jika pembeli tidak dapat mencoba lebih dahulu karena mungkin terlalu mahal atau sulit diperoleh, maka ada kemungkinan menemui beberapa kesulitan di kemudian hari.
5.      Keputusan. Pembeli harus mengambil keputusan baik menerima atau menolak. Jika dalam tahap evaluasi dan percobaan  penggunaannya, pembeli merasa puas., maka kemungkinan besar ia akan menerima/mengadopsi.
6.      Konfirmasi. Meskipun pembeli tersebut telah mengambil keputusan untuk menerima suatu produk, namun ia dapat terus mempertimbangkan kembali keputusannya dan berusaha mencari informasi yang dapat memperkuat keputusannya. [18]
Promosi yang dilakukan oleh pesantren dapat diarahkan untuk mempengaruhi tingkat pengetahuan dan sikap pemakai jasa pendidikan agar bersedia membeli. Dapat pula Ponpes mengadakan promosi lanjutan untuk meningkatkan pembeli tentang pengalamannya yang baik, sehingga dapat membantu dalam mengkonfirmasikan keputusannya. Oleh karena itu diperlukan pelaksanaan rencana promosi yang bertahap dan berurutan agar promosi yang sedang dilakukan berjalan lancar. Tahapan-tahapannya adalah sebagai berikut :
a.       Menentukan tujuan
b.      Mengidentifikasikan pasar yang dituju
c.       Menyusun anggaran
d.      Memilih berita
e.       Menentukan promotional mix. Menentukan tema yang akan menjadi inti promosi tersebut
f.       Memilih media mix. Menentukan media yang akan digunakan dalam promosi
g.      Mengukur efektifitas
h.      Mengendalikan dan memodifikasi kampanye promosi, untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang sama dimasa yang akan datang ketika mengadakan promosi kembali.[19]
Untuk mendukung promosi agar berjalan lebih efektif kepada masyarakat (konsumen), maka perlu adanya penguatan dalam negosiasi yang dilakukan oleh Ponpes (penawar). Ponpes harus menentukan penguatan apa yang dimilikinya berupa kualitas Ponpes yang dapat menyakinkan masyarakat. Kualitas-kualitas tersebut dapat berupa :
1). Keandalan, yaitu kemampuan memberikan pelayanan yang dijanjikan dengan segera atau tepat waktu, akurat dan memuaskan.
2). Daya Tanggap, yaitu kemauan atau kesediaan para staf untuk membantu para santri agar mendapatkan pelayanan dengan tanggap.
3). Jaminan terhadap kemampuan pengajar, mencakup pengetahuan, kompetensi, kesopanan, respek terhadap santri, dan sifat yang dapat dipercaya yang dimiliki para pengajar maupun staf.
4). Empati, meliputi kemudahan dalam melakukan hubungan, komunikasi yang baik, perhatian pribadi dan memahami kebutuhan santri. Misalnya, para ustad harus menganal para santri atau para ustad harus bisa dihubungi santri kapan saja.
5). Bukti langsung, meliputi fasilitas-fasilitas perlengkapan, karyawan, ustad, sarana ibadah, tersedianya tempat penjualan-penjualan barang-barang kebutuhan santri. (Parasuraman, Zeithamal & Berry, 1985:41-50)[20]
            Adapun bentuk-bentuk promosi yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut:
-          Promosi bisa dilakukan dengan memasang iklan outdor, bisa berupa baliho, spanduk, selebaran, papan nama dan seterusnya.
-          Lewat media, bisa dilakukan dengan iklan di Koran, radio, tv, atau internet. Bentuk promosi tidak hanya pemasangan iklan, tetapi juga bisa menampilkan tokoh-tokoh di Ponpes itu untuk memberikan pencerahan rohani bagi pemirsa atau pembaca media massa lainnya.
-          Lewat lisan dengan ceramah-ceramah, seminar atau pengajian-pengajian.
-          Promosi paling berhasil yang bisa dilakukan oleh lembaga Ponpes adalah penilaian masyarakat sendiri tentang kiprah Ponpes di masyarakatnya.[21]

3. Motivasi Pengembangan Sumber Daya Manusia
          3.1 Pengertian Motivasi
            Istilah motivasi dapat didefinisikan dengan keadaan internal individu yang melahirkan kekuatan, kegairahan, dinamika dan mengarahkan tingkah laku pada tujuan. Dalam pengertian lain, motivasi merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan sejumlah dorongan, keinginan, kebutuhan dan kekuatan. Karenanya, ketika kita mengatakan bahwa para pemimpin sedang membangkitkan motivasi staf/anggotanya, berarti mereka sedang melakukan sesuatu untuk memberi kepuasaan pada motif anggotanya. Dari situ mereka harus melakukan sesuatu yang menjadi tujuan dan keinginan pemimpinnya.[22]Dengan demikian, merupakan keharusan bagi pimpinan untuk mengenali mothf-motif individu dengan cara konstruktif dalam pelaksanaan tugas yang memberi kepuasan pada kebutuhan individu tersebut.
Abraham Maslow (1943;1970) mengemukakan bahwa pada dasarnya semua manusia memiliki kebutuhan pokok. Ia menunjukkannya dalam 5 tingkatan yang berbentuk piramid, orang memulai dorongan dari tingkatan terbawah. Lima tingkat kebutuhan itu dikenal dengan sebutan Hirarki Kebutuhan Maslow, dimulai dari kebutuhan biologis dasar sampai motif psikologis yang lebih kompleks; yang hanya akan penting setelah kebutuhan dasar terpenuhi. Kebutuhan pada suatu peringkat paling tidak harus terpenuhi sebagian sebelum kebutuhan pada peringkat berikutnya menjadi penentu tindakan yang penting.
  1. Kebutuhan fisiologis (rasa lapar, rasa haus, dan sebagainya)
  2. Kebutuhan rasa aman (merasa aman dan terlindung, jauh dari bahaya)
  3. Kebutuhan akan rasa cinta dan rasa memiliki (berafiliasi dengan orang lain, diterima, memiliki)
  4. Kebutuhan akan penghargaan (berprestasi, berkompetensi, dan mendapatkan dukungan serta pengakuan)
  5. Kebutuhan aktualisasi diri adalah keinginan seeorang untuk berkembang sampai pada potensi sepenuhnya yang mereka miliki. Aktualisasi diri ditandai dengan penerimaan diri dan orang lain, spontanitas, keterbukaan, hubungan dengan orang lain yang relatif dekat dan demokratis, kreativitas, humor, dan mandiri pada dasarnya, memiliki kesehatan mental yang bagus atau sehat secara psikologis.[23]
            Tujuan motivasi adalah untuk menggerakkan atau menggugah seseorang agar timbul keinginan dan kemauannya untuk melakukan sesuatu sehingga dapat memperoleh hasil atau mencapai tujuan tertentu. Bagi seorang guru, tujuan motivasi adalah untuk menggerakkan atau memacu siswanya agar timbul keinginan dan kemauannya untuk meningkatkan prestasi belajarnya sehingga tercapai tujuan pendidikan sesuai dengan yang diharapkan dan ditetapkan di dalam kurikulum sekolah. Makin jelas tujuan yang diharapkan atau yang akan dicapai, makin jelas pula bagaimana tindakan memotivasi itu dilakukan. Tindakan motivasi akan lebih dapat berhasil jika tujuannya jelas dan disadari oleh yang dimotivasi serta sesuai dengan kebutuhan orang yang dimotivasi. Oleh karena itu, setiap orang yang akan memberikan motivasi harus mengenal dan memahami benar-benar latar belakang kehidupan, kebutuhan, dan kepribadian orang yang akan dimotivasi. [24]
           
3.2 Model Motivasi   
Dalam mengembangkan motivasi, setidaknya ada tiga model pendekatan :
  1. Model Tradisional. Model ini berdasarkan pada penelitian time and motion oleh F.W Taylor yang menganggap bahwa pada dasarnya para staf adalah malas dan dapat didorong kembali hanya dengan imbalan keuangan. Meskipun demikian para manajer pimpinan makin lama makin mengurangi jumlah imbalan tersebut.[25]
  2. Model hubungan manusia. Model ini lebih menekankan dan menganggap penting adanya faktor “kontak sosial” yang dialami para staf/anggotanya dalam bertugas, daripada faktor imbalan. Ini berarti kepuasaan dalam berkarier harus ditingkatkan, antara lain dengan cara memberikan lebih banyak kebebasan kepada staf/anggota untuk mengambil keputusan dalam menjalankan tugas mereka. Disini ditumbuhkan kontak sosial atau hubungan kemanusiaan dengan staf secara lebih baik sebagai faktor motivasi.
  3. Model sumber daya manusia. Model ini timbul sebagai akibat kritikan terhadap “model hubungan manusia”diatas. Para pengkritik-pengkritik tersebut diantaranya adalah Mc.Gregor, Maslow, dan Liberi. Mereka berpendapat bahwa motivasi anggota tidak hanya pada upah atau kepuasan, namun beranekaragam. Motivasi yang penting bagi anggota menurut model sumber daya manusia ini, pengembangan tanggung jawab bersama untuk mencapai tujuan organisasi, dimana setiap individu menyumbangkan sesuai dengan kepentingan dan kemampuan mereka. [26]


3.3 Motivasi dalam Perspektif Islam
Motivasi dalam perspektif islam terdiri dari 2 macam yaitu motivasi fisiologis dan motivasi psikologis (sosial).
  1. Motivasi Fisiologis.
 Dalam firmannya, Allah mengatakan bahwa,

Dan Kami telah menghamparkan dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran (Q.S. al-Hijr (15):19)”
Allah telah memberikan ciri-ciri khusus kepada setiap makhluk sesuai dengan fungsinya. Diantara ciri-ciri khusus terpenting dalam tabiat penciptaan hewan dan manusia adalah motivasi fisiologis. Fungsi-fungsi fisiologis merupakan sisi penting kehidupan manusia yang mengakomodasikan kebutuhan-kebutuhan fisik., memenuhi atau menggantikan setiap ada kekurangan dan meluruskan kegoncangan atau yang tidak seimbang. Ia senantiasa menjaga keseimbangan vital yang lazim untuk menjaga diri, eksistensi (menjaga kelangsungan jenis) dan kesinambungan dalam menjalankan fungsi-fungsinya.[27]
      Yang termasuk motivasi fisiologis ini adalah
-          Motivasi menjaga diri. Menjaga diri dari lapar, haus dan terik matahari sebagaimana yang tercantum dalam Q.S. Thaha [20]:117-121. Allah telah memberikan segalanya kepada Adam dan Hawa di surga. Tapi, mereka melanggar aturan yang diberikan Allah untuk melindungi mereka dari maksiat dan kedurhakaan. Surat tersebut menyiratkan kepada manusia untuk menjaga diri agar keberlangsungan hidupnya agar selalu diberkahi Allah. Sebab, tidak akan pernah berhenti setan menggoda anak manusia untuk menuruti perintahnya dan melanggar semua larangan Allah.
-          Motivasi menjaga kelangsungan jenis. Dengan motivasi ini, terbentuklah keluarga yang pada akhirnya membentuk masyarakat dan bangsa, sehingga bumi berkembang pesat dan makmur. Hal ini juga merupakan dasar pembentukan keluarga yang diharapkan dalam islam. Keluarga yang mampu memberikan ketentraman dan keharmonisan bagi ayah, ibu dan anak-anak. Kondisi ini kondusif bagi lahirnya penerus-penerus agama, bangsa dan negara yang dapat diandalkan. Harapan inilah juga dimiliki sebuah keluarga Ponpes yang terdiri dari beragam manusia baik dari sifat, kepribadian, prestasi dan suku bangsa. Walaupun banyak perbedaan, para pendidik, kiai, dan para ustad hanya mengharapkan tumbuhnya kebaikan bagi apa yang ditanamkannya kepada para santri sehingga kelak dapat menjadi modal untuk hidup didunia dan diakhirat nanti. Bukankah Allah telah menjamin hal itu secara tersirat dalam Q.S.Ar-Ruum ayat 21 yang selalu menjadi pengantar bagi pasangan-pasangan yang memulai kehidupan berkeluarga dengan harapan yang sama.
  1. Motivasi Psikologis (sosial)
Pada umumnya, para pakar psikologi modern berpandangan bahwa keberadaan motivasi psikologis kebanyakan bukan melalui pemberian sejak lahir. Motivasi psikologis adalah hasil poses interaksi dengan berbagai pengalaman, faktor lingkungan dan budaya. Meski demikian, para pakar ini tidak menolak unsur bawaan. Maslow menambahkan unsur spiritual pada klasifikasi motivasi. Menurutnya, kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan fitri yang pemenuhannya sangat tergantung pada kesempurnaan pertumbuhan kepribadian dan kematangan individu. Ia juga berpandangan, pada dasarnya manusia memiliki potensi baik dan buruk. Kepribadian manusia terbuka ketika ia mengalami kematangan dan potensi kebaikannya tampil dalam bentuk yang lebih jelas. Selain faktor internal, lingkungan juga turut berperan aktif membantu manusia mengaktualisasikan diri. Secara garis besar, yang termasuk motivasi psikologis (sosial) ini adalah :
    1. Motivasi kepemilikan,  Allah berfiman :
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” (Q.S. Al-Hadid [57] :20).
Surat ini dapat menjelaskan bahwa Ponpes tidak mengutamakan pada banyaknya keuntungan/profit yang dihasilkan pada semua kegiatannya baik didalam Ponpes maupun yang berbasis kemasyarakatan, akan tetapi karena mengaharap ridho Allah SWT semata. Kita bisa melihat realitas akan banyaknya guru/pendidik yang mengutamakan gaji mereka dibandingkan dengan apa yang dicapai oleh murid yang mereka didik. Tentu saja, motivasi akan memiliki penghargaan dan barang yang guru dapatkan dengan gaji rendah atau gaji yang lumayan, sedikit banyaknya dapat mempengaruhi kualitas mengajar guru. Hal ini perlu dijadikan sebagai evaluasi para guru dan para ustad dan kiai yang menjadi panutan di Ponpes yang dibimbingnya. Semua yang dilakukan dengan ikhlas dan tanpa mengharap sesuatu melebihi apa yang dibutuhkan, insyaallah akan mendapat balasan yang serupa bahkan dapat melebihi apa yang diperlukan. Para santri menjadi taat, mandiri, dan berprestasi sehingga dapat diandalkan untuk meneruskan Ponpes kedepan, tidak lain karena campur tangan para ustad, kiai dan SDM pendidik lain yang bekerja sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab, tentunya tanpa mengharapkan imbalan melebihi ukuran dari apa yang telah menjadi haknya.
    1. Motivasi berkompetensi. Berkompetensi dapat membuat seeorang menjadi lebih baik atau lebih buruk dari sebelumnya. Berkompetensi bisa dalam hal apa saja, dengan siapa saja dan dimana saja. Asalkan berkompetisi dalam hal kebaikan dan sesuai dengan apa yang dianjurkan dan diperintah Allah, insyaallah akan memperoleh berkah dan ridhoNya. Berkompetisi berarti siap menerima segala macam perubahan-perubahan yang mempengaruhi agar tidak tertinggal dan dianggap kolot seperti anggapan masyarakat banyak mengenai Ponpes yang diyakininya. Hanya saja perubahan-perubahan tersebut disikapi dengan pikiran jernih dan menerapkan ilmu yang Allah berikan, maka niscaya perubahan-perubahan kearah negatif dapat disaring, sehingga SDMnya dapat berkembang dan berkualitas. Al-Qur’an menganjurkan manusia agar berkompetisi dalam ketakwaan, amal saleh, berpegang pada nilai-niai dan prinsip-prinsip kemanusiaan.
    2. Motivasi kerja. Dalam Q.S. Yasin [36] : 33-35, terdapat dua hal yang perlu diperhatikan yaitu,
-          hendaknya manusia bekerja didasarkan atas kepentingan berproduksi dan,
-          melengkapi diri dengan berbagai keterampilan agar mampu mengolah alam dengan segala potensinya,. Tentu saja, dengan tetap menjaga dan memelihara kelestariannya agar tetap terjadi keseimbangan alam dalam kehidupan manusia.


4. Administrasi Ponpes dalam pengembangan SDM
            4.1 Pondok Pesantren dan Administrasi
            Pondok pesantren adalah sebuah lembaga yang tidak bisa terlepas dari fenomena kerjasama, mengingat Ponpes adalah perwujudan dari cita-cita atau keinginan untuk mencetak kader penerus atau santri yang ahli dalam bidang ilmu pengetahuan, khususnya ilmu pengetahuan agama. Pesantren juga sekaligus harus mewujudkan kemampuan untuk mengembangkan dan mengamalkan ilmu pengetahuan agama tersebut ditengah-tengah masyarakat. Keinginan luhur tersebut sulit terwujud bila hanya dilakukan oleh seorang pengasuh atau kiai, karena secara kodrat manusia memang mempunyai keterbatasan, sehingga diperlukan keterlibatan berbagai manusia melalui proses kerjasama dalam mewujudkan cita-cita atau keinginan tersebut.
            Sementara itu situasi umum yang dihadapi oleh pesantren adalah situasi kejiwaan, yaitu rasa yang tak menentu yang biasa disebut sebagai keadaan rawan. Ini disebabkan beberapa faktor yang antara lain adalah :
  1. Kesadaran akan sedikitnya kemampuan untuk mengatasi tantangan-tantangan yang dihadapi pesantren, terutama tantangan yang diajukan oleh kemajuan teknik yang dienyam bangsa kita.
  2. Statis/bekunya struktur sarana prasarana yang dihadapi pesantren pada umumnya, baik soal sarana yang berupa manajemen pimpinan yang terampil maupun sarana material (termasuk keuangan), masih berada pada kuantitas yang sangat terbatas. Keterbatasan sarana-sarana itu membawa akibat tidak mungkin dilakukannya penanganan kesulitan yang dihadapi secara integral dan menyeluruh (Abdurahman Wahid, 2001).[28]
Ada persepsi yang kurang tepat dikalangan masyarakat atau paling tidak ada kecenderungan memahami administrasi hanya sebatas urusan aktivitas-aktivitas kantor, urusan surat menyurat yang sering disebut dengan tata usaha. Secara definitif ditegaskan bahwa administrasi adalah organisasi dan manajemen dari tiap kerjasama pencapaian tujuan (U. Silalahi, 1999). Administrasi dalam arti sempit dapat diartikan sebagai tata usaha. Yang kegiatannya meliputi korespondensi (surat-menyurat), ekspedisi dan pengarsipan.
Seluruh kegiatan di atas merupakan kegiatan data usaha (pengertian administrasi secara sempit) dan dipandang sebagai pekerjaan intern yang melibatkan manusia, sarana dan prasarana ketatausahaan dalam rangka kerjasama yang dimaksudkan untuk tercapainya tertib administratif dalam hal informasi, sehingga akan memperlancar arus informasi baik dalam proses komunikasi maupun dalam proses pengambilan keputusan.
Dalam pengertian luas, administrasi berkaitan dengan kegiatan kerjasama yang dilakukan manusia atau sekelompok orang sehingga tercapai tujuan yang diinginkan. Dengan demikian beberapa unsur dapat dilihat dalam administrasi, yaitu adanya sekelompok orang, adanya kerjasama, adanya pembagian tugas, adanya kegiatan yang runtut dalam sebuah proses dan adanya tujuan. Jadi, administrasi adalah kegiatan kerjasama yang dilakukan sekelompok orang berdasarkan pembagian kerja sebagaimana ditentukan dalam struktur, dan dengan mendayagunakan sumber daya-sumber daya untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien.
Seseorang atau sekelompok orang membentuk atau memasuki sesuatu kelompok kerjasama tidak lain karena suatu tujuan atau paling tidak dengan membentuk atau kerjasama, maka tujuan yang ingin dicapai seperti pemenuhan kebutuhannya (baik jasmani maupun rohani, psikologis, fisiologis dan spiritual) akan terwujud dalam suatu tingkat kepuasan tertentu.
Disamping itu, karena faktor keterbatasan yang ada mengharuskan manusia melakukan kerjasama. Oleh  sebab itu, ada kecenderungan bahwa setiap orang berpengaruh, dipengaruhi, bahkan juga mempengaruhi kelompok-kelompok kerjasama. Disinilah seharusnya para pengasuh/pimpinan pesantren melalui pengaruhnya yang cukup besar dilingkungan intern maupun ekstern mengelola kerjasama dalam rangka pengembangan SDM, sebab mereka menempati kedudukan penting dalam kehidupan pesantren.
Yang perlu segera dicermati bahwa munculnya kelompok atau organisasi, adalah karena setiap orang yang jadi anggotanya merasa tingkat produktifitas, kepuasan kerja dan kemajuan lebih tinggi, bahkan kebutuhannya relatif terpenuhi jika melakukan kerjasama dibandingkan dengan berusaha sendiri.
Kerjasama timbul apabila orang menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan-kepentingan bahwa mereka mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama. Pada saat yang bersamaan pula, ia mempunyai cukup pengetahuan dan pengendalian terhadap diri sendiri yang digunakan untuk memenuhi kepentingan-kepentingan tersebut, maupun menyerahkan atau mengurangi sebagian “kebesarannya” atau kepentingannya untuk mendapat imbalan hasil melalui kerjasama.
Ada beberapa alasan mengapa kerjasama formal maupun informal terbentuk, yang menurut Gibson dkk(1983) adalah pemuasaan kebutuhan, kedekatan dan daya tarik, tujuan kelompok dan sejumlah alasan dan ekonomi. Selanjutnya, Gibson mengemukakan bahwa pengembangan kelompok melalui empat tahapan yaitu saling menerima, berkomunikasi dan mengambil keputusan, motivasi dan produktifitas, serta pengendalian dan organisasi.[29]
            4.2 Karakteristik Kelompok Administrasi
Setelah kelompok bisa berkembang hingga memperlihatkan dan produktifitas dan melaksanakan pengendalian atas anggotanya, maka kelompok tersebut akan memiliki karakteristik yang terdiri atas (Gibson, 1984) sbb:
-                 Struktur, artinya pola hubungan antara posisi. Dalam hal ini dilakukan strukturisasi kerja secara hierarkhis sehingga setiap anggota kelompok ditempatkan dan bekerja dalam satu unit tertentu atas dasar keahliannya.
-                 Hirarkhi status, artinya status yang diberikan pada posisi tertentu merupakan konsekuensi yang membedakan antara posisi yang satu dengan yang lain.
-                 Peranan, dimana setiap posisi dalam struktur kelompok memiliki peranan yang saling berhubungan sesuai dengan perilaku yang diharapkan dari mereka untuk menduduki posisi tersebut.
-                 Norma, yaitu standar yang diterima oleh anggota kelompok.[30]







BAB III
SIMPULAN
          Pengelolaan dan pengembangan SDM Pondok pesantren tentunya dapat menghasilkan suatu perubahan-perubahan yang dapat meningkatkan kualitas Ponpes kearah yang lebih baik dan tidak dianggap secara Ponpes yang “Tradisional “ lagi baik dilihat dari segi manajemennya maupun dari segi pengajarannya juga. Perlu adanya penilaian dan evaluasi dari setiap perubahan yang terjadi akibat adanya pengembangan dan pengelolaan SDM khususnya, baik secara berkala maupun rutin.
            Pengembangan SDM di Ponpes harus mengacu dan berdasar atas prinsip keikhlasan, kemandirian, kebebasan, kesejahteraan dan ukhuwah islamiyah. Keikhlasan berarti setiap perubahan yang dilakukan harus mengacu pada prinsip ikhlas beramal. Kemandirian berarti perubahan harus datang dari diri sendiri. Kebebasan berarti setiap keinginan untuk berubah harus berdasar atas ruang pikiran dan tindakan yang bebas, tetapi bertanggung jawab, sedangkan kesejahteraan berarti setiap perubahan harus menggunakan sarana dan tujuan untuk memperoleh kualitas hidup yang lebih baik. Dan semua itu berarti pada terciptanya ukhuwah islamiyah.[31]
Setiap perubahan dari pengembangan dan pengelolaan yang telah dilakukan harus mengacu pada prinsip ikhlas beramal dan mengabdikan diri kepada masyrakat, Ponpes, Bangsa Negara dan Agama. Mengawali kemandirian, berarti siap menerima dan melakukan perubahan. Perubahan harus datang dari kemauan diri sendiri (motivasi internal), berani mengalami perubahan, dengan membawa bekal ilmu yang cukup sehingga dapat menyaring dampak negatif yang disebabkan adanya perubahan itu. Hasil akhirnya adalah peningkatan kualitas diri pendidik, Ponpes yang diikuti, dan para santri yang menjadi tanggung jawabnya. setiap keinginan untuk berubah harus berdasar atas ruang pikiran dan tindakan yang bebas, tetapi bertanggung jawab (kebebasan dalam membuat keputusan, melakukan kerjasama dan komunikasi kepada siapa saja, untuk mengembangkan Ponpes melalui Promosi yang dilakukan dengan istiqomah disertai bukti-bukti yang membanggakan berupa prestasi dan bukan omong kosong) sehingga tercipta sebuah kesejahteraan yang diartikan sebagai sebuah kesejahteraan. Untuk mencapai sebuah kesejahteraan dalam semua kegiatan SDM di Ponpes, baik mengajar, pelatihan ataupun kerjasama dengan pesantren lain, tidak lepas dari peranan administrasi sebagai tempat pengolahan semua data yang dibutuhkan dalam proses pencapaian tujuan. Bila kesemuanya dilakukan, insyaAllah, kualitas dan kuantitas SDM Pondok Pesantren tidak kalah bersaing jika dibandingkan dengan sekolah umum yang lain. Bahkan, bisa menjadi sebuah produk organisasi pendidikan andalan asli Indonesia.




[1] A.Halim.dkk. Manajemen Pesantren ( Pustaka Pesantren, Yogyakarta, , 2009)  cet 2. hal59
[2] Ibid. hl 35
[3] A. Halim, dkk, hal 3
[4] Sulton, dkk.Manajemen Pondok Pesantren dalam Perspektif Global (Laksbang Pressindo : Yogyakarta, 2006) hal. 75
[5] A.Halim.Ibid, hal 9
[6] Sulthon.dkk. Ibid. hal 76
[7] Isa Anshori. Perencanaan Sistem Pembelajaran (Sidoarjo : 2009, Muhammadiyah University Press) cet 2, hal 32-34
[8] A. Halim, dkk, hal 11
[9] Isa Anshori, Ibid, 38
[10] A. Halim, dkk. Hal 17
[11] Prof.Dr. S. Nasution, M.A. Didaktik Asas-Asas Mengajar (Jakarta : Bumi Aksara, 1995). Cet 1. hal 8-13

[12] Sulton, dkk. Op,cit, hal 77
[13]  Op.cit hal 91
[14] Isa Anshori, hal 53
[15] A. Halim, dkk; hal 23
[16] Ibid. hal, 24
[17] Ibid. hal 25
[18] Ibid. hal 27-28
[19] Ibid. hal 31-32
[20] Ibid, hal 32-33
[21] Ibid, hal 34
[22] A. Halim, dkk, hal 37
[23] www.wikipedia.com
[24] Drs. M. Ngalim Purwanto, Mp. Psikologi Pendidikan (Bandung : Remaja        Rosdakarya, 2006), hal 73-74
[25] A. Halim,dkk. Hal 40
[26] Ibid, hal 41
[27] Ibid. hal 43
[28] Ibid. hal 51
[29] Ibid. hal 57
[30] Ibid. hal.58
[31] A.Halim. Ibid. hal 63

0 komentar:

Poskan Komentar